Kembalikan ‘Siri’ na Pacce’ di Butta Gowa, Akademisi UIN Minta Plt Bupati Darmawansyah Tancap Gas Benahi Sampah dan Birokrasi

Akademisi UIN Alauddin Makassar, Dr. Ibnu Hajar Yusuf. M.I.Kom

BERANDANEWS — Makassar, Pasca-prahara politik dan pencopotan kepemimpinan yang mengguncang Kabupaten Gowa, panggilan moral untuk menyelamatkan masa depan Butta Gowa kini melunglai tegas dari ruang akademis.

Tanah bersejarah yang dijunjung tinggi lewat pilar budaya Siri’ na Pacce (harkat, martabat, dan empati) itu mendesak hadirnya kepemimpinan yang berani, bersih, dan bertindak cepat.

Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Dr. Ibnu Hajar, M.I.Kom menyampaikan aspirasi mendalamnya terkait kondisi darurat yang dihadapi Kabupaten Gowa saat ini.

Ia menegaskan, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Gowa, Darmawangsyah Muin, tidak memiliki waktu untuk bersantai dan harus segera “tancap gas” bekerja keras demi memulihkan marwah daerah.

“Kejayaan dan nama baik Gowa tidak cukup dipulihkan dengan janji di atas kertas. Butta Gowa membutuhkan aksi nyata, kepemimpinan berintegritas, serta keberanian untuk langsung menyentuh akar masalah yang dikeluhkan rakyat,” tegas Dr. Ibnu Hajar.

3 Langkah Strategis Selamatkan Butta Gowa

Guna mengurai benang kusut di jajaran tatanan daerah, Dr. Ibnu Hajar memetakan tiga area krusial yang harus menjadi agenda prioritas utama Plt Bupati Gowa dalam waktu singkat:

1. Atasi Krisis Sampah dan Pelayanan Dasar

Masalah sampah yang menumpuk di pemukiman warga menjadi sorotan utama. Darmawangsyah Muin didorong untuk segera memperkuat sarana penunjang, mengoptimalkan armada pengangkut, serta membenahi sistem di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Tak hanya itu, kanal aduan cepat (quick response) masalah kebersihan wajib dibuka agar tumpukan sampah segera tertangani, sekaligus menggerakkan kembali program bank sampah di tingkat kelurahan dan desa.

2. Reformasi Birokrasi dan Sapu Bersih Intrik

Untuk memulihkan profesionalisme pelayanan publik, birokrasi Gowa harus dibersihkan dari praktik skandal maupun interupsi politik. Prinsip the right man in the right place (meritokrasi) harus ditegakkan dalam penataan pejabat ASN. Seluruh kantor dinas hingga kantor desa wajib dipastikan kembali beroperasi maksimal melayani masyarakat tanpa ada keraguan tata kelola.

3. Basuh Luka Daerah dengan Nilai Siri’ na Pacce

Skandal dan konflik kepemimpinan sebelumnya telah mencederai martabat daerah. Oleh karena itu, penguatan filosofi lokal siri’ (menjaga harga diri dan etika) serta pacce (rasa peduli dan keprihatinan terhadap penderitaan sesama) harus dijadikan pedoman etika kerja seluruh aparatur sipil negara di Kabupaten Gowa.

Menanti Keberanian Sang Pemimpin Baru
Harapan besar kini tertumpu pada political will atau kemauan politik Darmawangsyah Muin untuk merangkul seluruh elemen mulai dari akademisi, tokoh masyarakat, hingga warga akar rumput.

Masyarakat Gowa merindukan kebangkitan daerahnya: sebuah wilayah yang tak hanya kaya akan sejarah dan tradisi kebanggaan, tetapi juga daerah yang bersih, tertata, dan benar-benar menyejahterakan rakyatnya.(*)