BERANDANEWS – Makassar, Di atas panggung Aula Handayani, SLB Negeri 1 Makassar, tak terdengar sepatah kata pun. Namun selama 15 menit, ratusan pasang mata terpaku.
Beberapa orang tua tampak menitikkan air mata, sementara tepuk tangan berkali-kali memecah keheningan usai setiap adegan.
Tokoh utama di atas panggung itu adalah Abdirrohman Ash Shiddiq, akrab disapa Noval.
Seorang siswa penyandang disabilitas tuli yang membuktikan bahwa keterbatasan mendengar dan berbicara bukanlah penghalang untuk menyampaikan pesan yang begitu kuat kepada dunia.
Penampilan Noval menjadi momen paling menyentuh dalam hari ketiga Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SLB Negeri 1 Makassar, Rabu (15/7/2026).
Di hadapan lebih dari 500 guru, orang tua, dan siswa, ia membawakan pertunjukan Monolog Hening, sebuah teater tunggal tanpa dialog yang mengandalkan ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan gerak yang penuh makna.
Tanpa suara, Noval berhasil “berbicara” kepada seluruh penonton.
Pertunjukan tersebut mengisahkan perjalanan seorang pemuda tuli yang berjuang menjalani kehidupan di tengah masyarakat yang masih minim memahami dunia disabilitas. Lewat setiap gerakan, Noval mengajak penonton melihat bahwa dunia penyandang tuli bukanlah dunia yang sunyi, melainkan dunia yang dipenuhi warna, rasa, dan harapan.
Pesan yang ia bawa sederhana, tetapi begitu dalam: penyandang disabilitas tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan kesempatan yang sama untuk berkembang.
Yang lebih mengagumkan, kemampuan akting Noval tidak dibentuk dalam waktu berbulan-bulan. Hanya dalam waktu kurang dari sepekan, ia berhasil menguasai karakter yang dibangun bersama Kala Teater, komunitas seni pertunjukan asal Makassar yang menjadi mentor program tersebut.
Sutradara sekaligus penggagas Program Monolog Hening, Muh. Irsan, S.Hum, mengatakan bahwa teater ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan ruang edukasi bagi masyarakat agar berhenti memandang anak-anak disabilitas sebagai kelompok yang terbatas.
“Mereka juga adalah anak-anak yang berhak berkembang di tengah masyarakat, memiliki masa depan, dan meraih kesuksesan seperti siapa pun. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan,” ujar Irsan.
Menurutnya, Monolog Hening mengajak masyarakat meninggalkan sikap diskriminatif, perundungan, maupun stigma terhadap penyandang disabilitas. Seni dipilih sebagai medium karena mampu menyampaikan pesan kemanusiaan tanpa harus banyak kata.
Noval hanyalah satu dari ratusan siswa berkebutuhan khusus di SLB Negeri 1 Makassar. Namun kisahnya menjadi representasi ribuan anak disabilitas di Sulawesi Selatan yang memiliki potensi besar, asalkan diberi ruang untuk tumbuh.
Pelaksana Tugas Kepala SLB Negeri 1 Makassar, Dr. Muhammad Nur, M.Pd, menyebut kehadiran kelas teater sebagai langkah penting dalam membangun karakter sekaligus mengembangkan bakat peserta didik.
Menurutnya, kemajuan sekolah tidak mungkin dicapai tanpa kolaborasi berbagai pihak, mulai dari masyarakat, komunitas seni, dunia industri hingga pemerintah.
“Kala Teater membawa pengalaman baru bagi anak-anak kami. Mereka mengenal seni teater yang sebelumnya belum pernah mereka pelajari. Ini bukan hanya mengembangkan karakter siswa, tetapi juga memberi inspirasi kepada guru dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif,” katanya.
Ia berharap kelas teater dapat terus berjalan sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang melahirkan lebih banyak siswa berprestasi di bidang seni.
Apresiasi serupa disampaikan Kepala Bidang PKPLK Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Sary Diana Muallim, S.Sos., M.M. Menurutnya, kegiatan seperti Monolog Hening layak diperluas ke seluruh Sekolah Luar Biasa di Sulawesi Selatan.
“Anak-anak kita sering mengikuti berbagai kompetisi hingga tingkat nasional, seperti pantomim dan seni pertunjukan lainnya. Dengan pembinaan seperti ini mereka memiliki keterampilan baru dan semakin percaya diri menunjukkan kemampuannya,” ujarnya.
Momentum pementasan Monolog Hening juga menjadi penanda diresmikannya Program Khusus Pengembangan Diri di SLB Negeri 1 Makassar.
Peresmian dilakukan secara simbolis melalui pengguntingan pita oleh Kepala Bidang PKPLK Disdik Sulsel, didampingi Ketua APTADI Sulsel Dr. Iis Masdiana, M.Pd, Plt Kepala SLB Negeri 1 Dr. Muhammad Nur, M.Pd, mantan kepala sekolah Andi Hamjan, S.Pd., M.M., M.Pd, serta Ketua Komite Sekolah Drs. Sederhana Ali.
Dalam doa sebelum prosesi peresmian, Sary Diana berharap program tersebut mampu menjawab kebutuhan pengembangan potensi siswa penyandang disabilitas. Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga harus memberi ruang bagi pengembangan bakat, karakter, dan kreativitas.
Program Khusus Pengembangan Diri ini menaungi berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang selama ini telah berjalan di sekolah, mulai dari marching band, Pramuka, tari, membatik, menjahit, teknik pertukangan, hingga seni teater.
Sejumlah kegiatan tersebut bahkan telah mengantarkan siswa meraih prestasi di tingkat provinsi maupun nasional.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan dua dialog publik yang membahas isu kesetaraan, penghapusan diskriminasi, serta pentingnya memberikan ruang yang setara bagi penyandang disabilitas untuk berkembang di masyarakat.
Namun, dari seluruh rangkaian acara hari itu, sosok Noval menjadi simbol yang paling membekas.
Di atas panggung, ia memang tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Tetapi justru dalam keheningan itulah, suara tentang kesetaraan terdengar paling lantang.(*)





