BERANDANEWS – Jeneponto, Duka akibat kebakaran KM Mutiara Sentosa II tak hanya dirasakan para penumpang dan keluarga korban. Di balik tragedi yang terjadi di perairan utara Madura itu, terselip kisah menyayat hati tentang Bintang Permata, seekor kuda pacu kebanggaan Sulawesi Selatan yang baru saja mengharumkan nama daerah di tingkat nasional, namun tak pernah sempat kembali ke kandangnya di Jeneponto.
Bintang Permata merupakan satu-satunya kuda yang mewakili Sulawesi Selatan dalam rangkaian Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pacuan Kuda di Pulau Jawa. Setelah berbulan-bulan berkompetisi dan menorehkan prestasi, perjalanan pulang justru berakhir tragis ketika kapal yang mengangkutnya dilalap api.
“Iya, kuda pacu bernama Bintang Permata yang satu-satunya mewakili Sulawesi Selatan untuk lomba ikut terbakar. Kuda kami ke sana itu dari bulan Februari,” ujar pemilik kuda, H. Lolong Azis, dikutip Senin (3/8/2026).
Bagi Lolong, kehilangan itu bukan sekadar kerugian materi. Bintang Permata adalah hasil kerja keras, latihan panjang, dan harapan besar untuk terus mengharumkan nama Sulawesi Selatan di dunia pacuan kuda nasional.
Tak hanya kehilangan kuda juara, Lolong juga harus menerima kenyataan pahit setelah enam ekor kuda potong yang baru dibelinya turut menjadi korban kebakaran. Nilai kerugian dari enam ekor kuda tersebut diperkirakan mencapai lebih dari Rp100 juta.
“Saya baru beli enam kuda potong, nilainya kurang lebih Rp100 juta. Rencananya mau dibawa pulang ke Jeneponto, tapi semuanya ikut terbakar di atas kapal,” tuturnya.
Selama mengikuti Kejurnas, Bintang Permata berada di bawah penanganan Verdianto, atau yang akrab disapa Aco, seorang joki nasional yang dipercaya melatih sekaligus mendampingi kuda tersebut dalam setiap perlombaan.
Menurut Lolong, Verdianto selama ini tinggal di rumah Dantim Pegasus Resmob Polres Jeneponto untuk fokus mempersiapkan Bintang Permata menghadapi berbagai kejuaraan.
“Joki kami atlet nasional, namanya Verdianto alias Aco. Dia memang diminta membantu melatih kuda milik Pak Rasyad,” jelasnya.
Di tengah kabar duka itu, Lolong masih menyimpan rasa syukur. Sang joki berhasil menyelamatkan diri dari kebakaran kapal dan kini dalam kondisi selamat.
Ia mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Verdianto yang telah dievakuasi ke Madura sebelum dibawa menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dan kini menjalani pemulihan di sebuah hotel.
“Alhamdulillah tadi malam sekitar jam dua saya sudah bicara dengan Verdianto. Sekarang dia sudah di hotel setelah dievakuasi dari Madura ke Tanjung Perak,” ungkapnya.
Sebelum tragedi itu terjadi, Bintang Permata telah menorehkan prestasi membanggakan di sejumlah seri Kejuaraan Nasional yang digelar di Bantul, Kebumen, Salatiga, hingga Pangandaran.
Dalam rangkaian kejuaraan tersebut, kuda asal Jeneponto itu sukses meraih gelar juara pertama dan juara ketiga, menjadi kebanggaan Sulawesi Selatan di tingkat nasional.
“Alhamdulillah dapat juara satu dan juara tiga. Setelah semua kejuaraan selesai, rencananya memang sudah mau pulang ke Jeneponto,” kata Lolong dengan nada haru.
Diketahui, kebakaran KM Mutiara Sentosa II pertama kali dilaporkan oleh nakhoda saat kapal berada di perairan utara Kabupaten Sumenep, Madura, Minggu (2/8/2026) sekitar pukul 08.24 WIB. Setelah menerima laporan tersebut, pihak PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) segera berkoordinasi dengan Kantor SAR Surabaya untuk melakukan operasi penyelamatan terhadap seluruh penumpang dan awak kapal.
Bagi keluarga pemiliknya, Bintang Permata bukan hanya seekor kuda pacu. Ia adalah simbol perjuangan, dedikasi, dan kebanggaan Sulawesi Selatan yang telah mengukir prestasi nasional, sebelum akhirnya perjalanan pulangnya berakhir menjadi bagian dari tragedi laut yang menyisakan duka mendalam.(*)





