BERANDANEWS – Makassar, Di tengah kemeriahan peringatan Hari Ulang Tahun Kodam XIV/Hasanuddin, terselip sebuah pesan yang lebih besar dari sekadar seremoni. Di satu meja, para pimpinan organisasi kemasyarakatan, komunitas, aktivis, dan jajaran TNI duduk bersama, berbincang tanpa sekat, bertukar gagasan, dan memperkuat komitmen yang sama: menjaga Sulawesi Selatan tetap aman, damai, dan kondusif.
Hadir dalam momentum tersebut Ketua Makassar Cinta Damai Daeng Nginti, Dankoti Pemuda Pancasila Azis Daeng Gassing, Panglima Markas Daerah Laskar Merah Putih Sulawesi Selatan Famil Abbas, Ketua Harian Laskar Merah Putih Nasrun Mantjja, Ketua PACE Community Daeng Azis Bija, Ketua Umum Kiwal Garuda Hitam Erwin Nurdin, Ketua Umum LASKAR Sulawesi Selatan Illank Radjab, serta aktivis Ilyas Maulana.
Di tengah kebersamaan itu, sosok Kolonel Inf Asyraf Aziz terlihat membangun komunikasi yang hangat dengan para tokoh masyarakat. Pemandangan tersebut menjadi simbol bahwa menjaga stabilitas daerah bukan semata tugas aparat keamanan, melainkan kerja kolektif seluruh elemen bangsa.
Dalam keterangannya, Kolonel Inf Asyraf Aziz menegaskan bahwa tantangan sosial ke depan semakin kompleks. Karena itu, sinergi antara TNI dan elemen masyarakat menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar.
“Ketahanan wilayah tidak hanya berbicara tentang aspek pertahanan negara. Ketahanan wilayah juga lahir dari masyarakat yang rukun, tokoh-tokoh yang mampu menjadi penyejuk, organisasi yang hadir sebagai solusi, serta komunikasi yang terbangun dengan baik antara rakyat dan aparat. Karena itu, kami memandang ormas dan komunitas sebagai mitra strategis dalam menjaga stabilitas daerah dan mencegah potensi konflik sejak dini.”
Pesan tersebut mendapat respons positif dari para tokoh yang hadir. Mereka sepakat bahwa organisasi kemasyarakatan harus menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan sosial, bukan justru menjadi sumber kegaduhan di tengah masyarakat.
Mewakili elemen ormas, Ketua Umum LASKAR Sulawesi Selatan, Illank Radjab, menegaskan bahwa kekuatan daerah tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga persatuan di tengah perbedaan.
“Ketika tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, komunitas, dan aparat negara mampu duduk bersama dalam semangat persaudaraan, maka ruang bagi konflik akan semakin sempit. Inilah modal sosial yang harus dijaga. Sulawesi Selatan membutuhkan kolaborasi, bukan polarisasi; membutuhkan dialog, bukan provokasi; membutuhkan persatuan, bukan perpecahan.”
Peringatan HUT Kodam XIV/Hasanuddin akhirnya menghadirkan pesan yang jelas: keamanan tidak lahir dari kekuatan semata, tetapi dari kepercayaan yang dibangun bersama. Dan ketika TNI serta elemen masyarakat berdiri dalam satu barisan menjaga persatuan, maka ketahanan sosial menjadi benteng terkuat bagi daerah, bangsa, dan negara.(*)






