Mewarisi Perjuangan, Bukan Sekadar Membanggakan Nama

KOLOM – Haul ke-20 Syekh Sayyid KH. Jamaluddin Assegaf, Puang Ramma, seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan mengenang masa lalu. Haul harus menjadi jembatan yang menghubungkan perjuangan para pendiri dengan tanggung jawab generasi hari ini.
Mengenang seorang muassis tentu penting. Akan tetapi, jauh lebih penting adalah meneruskan nilai, cita-cita, dan keberpihakannya kepada umat. Sebab, penghormatan yang sesungguhnya kepada ulama bukan hanya dengan memasang foto dan menyebut namanya dalam sambutan, melainkan dengan melanjutkan amal perjuangannya.
Puang Ramma dan para pendiri NU Sulawesi Selatan telah menanam pohon besar bernama Nahdlatul Ulama. Mereka menanamnya dengan ilmu, keikhlasan, pengorbanan, dan doa. Generasi hari ini menikmati keteduhan pohon tersebut. Karena itu, tugas kita bukan sekadar duduk di bawahnya, tetapi menjaga akarnya, merawat batangnya, dan memastikan buahnya dapat dinikmati oleh umat.
Tantangan NU hari ini tentu berbeda dengan tantangan yang dihadapi para muassis. Dahulu, tantangannya adalah keterbatasan sarana, komunikasi, dan sumber daya. Sekarang, tantangannya justru datang dari perubahan sosial, perkembangan teknologi, politik identitas, kesenjangan ekonomi, serta melemahnya hubungan antara struktur organisasi dengan masyarakat di tingkat bawah.
NU tidak boleh hanya kuat dalam jumlah, tetapi harus nyata dalam pelayanan. NU harus hadir dalam persoalan pendidikan, kemiskinan, kesehatan, ekonomi umat, perlindungan sosial, serta penguatan generasi muda. Jika masyarakat mengalami kesulitan, organisasi harus menjadi tempat pertama yang hadir, bukan sekadar datang ketika ada agenda politik atau pemilihan kepengurusan.
Inilah salah satu cara meneruskan perjuangan Puang Ramma.
Pertama, menghidupkan kembali ranting sebagai pusat gerakan. Ranting merupakan bagian organisasi yang paling dekat dengan masyarakat. Jika ranting kuat, NU akan memiliki akar yang kukuh. Namun, apabila ranting dibiarkan berjalan dengan kemampuan seadanya, kebesaran organisasi hanya akan tampak pada tingkat atas.
Kedua, memperkuat kaderisasi. Anak-anak muda NU harus mengenal sejarah para ulama dan pendiri organisasi di daerahnya sendiri. Mereka jangan hanya mengetahui tokoh nasional, tetapi tidak mengenal ulama yang menanam NU di Sulawesi Selatan. Bangsa yang kehilangan ingatan terhadap pendahulunya akan mudah kehilangan arah.
Ketiga, membangun kemandirian ekonomi organisasi. Para pengurus cabang, majelis wakil cabang, dan ranting tidak boleh selamanya bergantung kepada bantuan sesaat. NU perlu membangun unit usaha produktif, dana kemandirian organisasi, serta program ekonomi yang sesuai dengan potensi setiap daerah.
Keempat, mengembalikan jabatan kepada makna dasarnya sebagai amanah. Persaingan dalam organisasi tidak boleh merusak persaudaraan. Berbeda pilihan merupakan hal biasa, tetapi memutus silaturahmi dan mengorbankan marwah ulama adalah persoalan serius.
Kelima, memperkuat dokumentasi sejarah NU Sulawesi Selatan. Masih banyak kisah perjuangan ulama dan aktivis NU yang hanya tersimpan dalam ingatan keluarga serta para saksi sejarah. Jika tidak segera dihimpun, sebagian sejarah itu akan ikut hilang bersama berpulangnya para pelaku.
Dokumentasi bukan sekadar pekerjaan administratif. Ia merupakan upaya menjaga identitas. Generasi muda perlu mengetahui siapa yang mendirikan, siapa yang berkorban, bagaimana organisasi dibangun, serta nilai apa yang diperjuangkan.
Haul Puang Ramma dapat menjadi titik awal penyusunan sejarah para muassis NU Sulawesi Selatan secara lebih lengkap. Kesaksian keluarga, murid, sahabat, pengurus, dan masyarakat perlu dikumpulkan. Dokumen, foto, manuskrip, serta peninggalan beliau harus dirawat dan diwariskan sebagai sumber pendidikan.
Generasi penerus tidak boleh hanya bangga memiliki hubungan darah atau hubungan organisasi dengan para pendiri. Hubungan yang paling utama adalah hubungan nilai dan perjuangan. Nama besar seorang leluhur tidak otomatis membuat keturunannya menjadi besar. Kebesaran itu harus dijaga melalui akhlak, ilmu, dan pengabdian.
Karena itu, haul ke-20 Puang Ramma membawa pesan yang sangat jelas: warisan ulama bukan untuk diperebutkan, melainkan untuk dilanjutkan.
Semoga NU Sulawesi Selatan tetap menjadi rumah besar yang menjaga persaudaraan, menghormati ulama, melayani umat, dan berdiri teguh di atas ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
Semoga Syekh Sayyid KH. Jamaluddin Assegaf, Puang Ramma, memperoleh tempat terbaik di sisi Allah Swt. Semoga ilmu, perjuangan, dan keteladanannya terus menjadi cahaya bagi keluarga, jamaah, Nahdlatul Ulama, dan masyarakat Sulawesi Selatan.
Al-Fatihah.

Penulis
Makmur Idrus Assegaf





