Dampak Karhutla, Kawanan Monyet Menginvasi Perkebunan Warga di Pinrang

Kawanan Monyet masuk ke perkebunan Warga di Kelurahan Betteng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang,

BERANDANEWS – Pinrang, Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang wilayah Sulawesi Selatan tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga merusak ruang hidup satwa liar. Diduga kuat akibat habitatnya hangus dilalap si jago merah, puluhan ekor monyet hitam endemik Sulawesi nekat menginvasi area perkebunan hingga mendekati permukiman warga di Kabupaten Pinrang.

Fenomena yang tak biasa ini terjadi di Kelurahan Betteng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, pada Senin (19/10/2026) sore sekitar pukul 17.00 WITA. Tak tanggung-tanggung, kawanan primata langka tersebut muncul secara berombongan dalam jumlah besar, yakni sekitar 25 ekor.

Kepala Seksi Perlindungan KPH Sawitto, Andi Suardi, mengonfirmasi bahwa munculnya rombongan monyet tersebut lantaran mereka kelaparan dan kehilangan sumber pakan di dalam hutan.

“Iya, ada laporan warga mengenai sekitar 25 ekor monyet yang muncul di kebun masyarakat untuk mencari makanan. Diduga kuat mereka keluar dari habitatnya karena dampak kebakaran hutan yang terjadi,” ungkap Andi Suardi saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (20/10/2026).

Jenis Macaca Maura yang Dilindungi Negara

Suardi menegaskan bahwa jenis primata yang turun ke permukiman warga tersebut adalah monyet hitam Sulawesi (Macaca Maura), salah satu spesies endemik langka yang dilindungi oleh undang-undang. Oleh karena itu, penanganannya tidak boleh sembarangan dan harus mematuhi prosedur konservasi satwa liar.

“Ini jenisnya Macaca Maura, spesies monyet yang sangat dilindungi,” terangnya.

Kemunculan kawanan primata kali ini dinilai sangat berbeda dari kebiasaan sebelumnya. Biasanya, kera endemik ini hanya terlihat sekilas di atas pohon tinggi dalam jumlah sangat kecil, yakni satu hingga dua ekor saja.

“Biasanya mereka memang kadang terlihat, tetapi hanya satu atau dua ekor di atas pohon. Kali ini mereka keluar dalam jumlah rombongan besar, ini mengindikasikan kondisi di dalam hutan sedang tidak baik-baik saja,” jelas Suardi.

Patroli KPH Sawitto dan Koordinasi Bersama BKSDA

Merespons potensi konflik antara warga dan satwa terlindungi tersebut, pihak KPH Sawitto mengimbau masyarakat untuk tidak menyakiti, memburu, atau menganiaya kawanan monyet yang masuk ke pekarangan mereka.

Warga diminta segera melapor ke pihak berwenang agar proses evakuasi dapat dilakukan secara aman tanpa membahayakan satwa maupun warga.

Sebagai langkah penanganan awal, KPH Sawitto akan menerjunkan tim patroli guna memetakan jalur pergerakan dan keberadaan kawanan kera langka tersebut sebelum dievakuasi bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

“Langkah awal kita gelar patroli dulu untuk memantau titik keberadaan mereka. Setelah datanya rampung, kami segera berkoordinasi dan melaporkan ke kantor BKSDA untuk tindakan evakuasi konservasi lebih lanjut,” pungkasnya.(*)