BERANDANEWS – Kupang, Penanganan dampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus memasuki fase krusial.
Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Selasa (18/8/2026) sore mencatat jumlah warga terdampak yang terpaksa mengungsi melonjak hingga menyentuh angka 40.040 jiwa.
Dampak kerusakan permukiman warga tergolong masif. Sebanyak 11.925 unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan, dengan rincian 5.516 unit rusak berat, 1.916 unit rusak sedang, dan 4.493 unit berkategori rusak ringan.
Sektor korban jiwa juga mengalami pembaruan, di mana total warga yang meninggal dunia menyentuh 70 orang, sementara 132 orang lainnya masih menjalani perawatan medis akibat luka-luka.
Pendataan dari tim gabungan BNPB, BPBD, dan pemda setempat masih terus bergerak menyisir kantong-kantong pemukiman terisolasi.
BMKG: 2.768 Gempa Susulan
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa aktivitas seismik di bawah kerak bumi Flores masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda secara signifikan. Hingga Rabu (19/8/2026) pukul 06.00 WITA, BMKG mencatat terjadi 2.768 kali gempa bumi susulan (aftershocks).
Kepala BMKG Stasiun Geofisika, Arief Tyasmata, membeberkan bahwa ribuan guncangan susulan tersebut bervariasi dengan spektrum kekuatan yang cukup lebar.
“Guncangan susulan terbesar tercatat mencapai magnitudo 6,2 dan yang terkecil M 1,1. Dari total 2.768 kejadian, sebanyak 24 gempa berkekuatan di atas M 5,0 dan 81 gempa diantaranya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” jelas Arief di Kupang, Rabu (19/8/2026).
Arief menggarisbawahi bahwa grafik peluruhan (decay pattern) guncangan susulan saat ini masih berlangsung fluktuatif sehingga BMKG belum melihat pola penurunan aktivitas yang konsisten.
Estimasi Peminimalan Risiko dan Imbauan Resmi
Berdasarkan permodelan geofisika, BMKG memprediksi tren frekuensi gempa susulan baru akan meluruh dan berangsur stabil dalam kurun waktu dua hingga tiga minggu ke depan.
“Estimasi kami butuh waktu sekitar dua sampai tiga minggu ke depan hingga aktivitas seismik kembali stabil. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta menghindari bangunan yang sudah mengalami retak struktur,” imbuhnya.
BMKG mengimbau masyarakat di pengungsian untuk hanya mempercayai kanal informasi resmi guna menghindari kepanikan akibat disinformasi atau hoaks yang kerap beredar pascabencana.(*)





