BERANDANEWS – Pinrang, Tangis Nur Lela belum juga reda setiap kali mengingat malam ketika anak sulungnya, SF (13), pulang dalam kondisi penuh luka.
Bocah yang seharusnya menikmati masa bermain itu justru diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah anak di Tonrong Sadang, Kecamatan Tiroang, Kabupaten Pinrang
Bagi keluarga sederhana yang sehari-hari menggantungkan hidup dari pekerjaan buruh bangunan, peristiwa tersebut bukan hanya meninggalkan trauma mendalam, tetapi juga beban ekonomi yang berat.
Kasus itu kini telah dilaporkan ke Polres Pinrang. Namun, lebih dari dua pekan berlalu, keluarga korban mengaku masih menunggu perkembangan proses hukum.
Nur Lela menceritakan, bibit konflik diduga bermula sehari sebelum pengeroyokan. Saat itu anak-anak di lingkungan mereka sedang bermain senjata bambu.
Ketika SF hendak membeli jajanan, wajah dan lehernya diduga ditembak menggunakan senjata bambu rakitan.
“Dia bilang jangan karena sakit, tapi justru setelah itu malah berlanjut,” tutur Nur, Selasa (28/7/2026).
Menurut keluarga, teguran sederhana itu justru memicu kemarahan para pelaku.
Ayah korban, Baharuddin, mengatakan salah seorang anak sempat menantang putranya. Awalnya mereka mengira peristiwa tersebut hanya sebatas candaan anak-anak.
Namun, situasi berubah drastis keesokan harinya.
Malam itu, SF sedang bermain di pelataran Masjid Rahmat ketika beberapa anak menghampirinya.
Dengan nada bersahabat, mereka mengajak korban ikut berjalan.
“Dipanggil baik-baik, katanya ikut dulu,” kenang Nur.
Tanpa menaruh curiga, korban mengikuti ajakan tersebut.
Sesaat kemudian, matanya ditutup, tubuhnya dipegang beberapa orang, lalu didorong menuju lokasi yang gelap.
Korban kemudian dibawa ke area perkebunan yang berada di dekat kandang sapi.
Di tempat itulah, menurut pengakuan keluarga, korban diduga dikeroyok secara bersama-sama.
Peristiwa itu baru berhenti setelah seorang teman korban bernama Takbir berhasil melarikan diri untuk meminta pertolongan kepada ayah korban.
“Dia datang berlari sambil bilang, ‘Pak, anakta dikeroyok’,” ujar Nur menirukan ucapan saksi.
Karena kondisi lokasi yang gelap, korban hanya mampu mengenali tiga orang yang diduga melakukan penganiayaan paling parah.
Trauma yang dialami SF hingga kini masih membekas.
Namun luka fisik bukan satu-satunya beban yang harus dipikul keluarga.
Nur mengaku seluruh biaya pengobatan harus ditanggung sendiri karena tidak seluruhnya ditanggung layanan kesehatan.
Untuk menyelamatkan anaknya, keluarga bahkan terpaksa meminjam uang.
“Saya pakai uang pinjaman untuk biaya rumah sakit,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Yang semakin membuat keluarga kecewa, hingga kini mereka mengaku belum pernah menerima permintaan maaf ataupun itikad baik dari keluarga para terlapor.
Nur juga mempertanyakan lambatnya proses penanganan perkara.
Ia berharap kasus yang menimpa anaknya diproses secara adil tanpa memandang latar belakang siapa pun.
Sementara itu, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pinrang, Ipda Dewa Bharata, membenarkan pihaknya telah menerima laporan dari keluarga korban.
Menurutnya, penyidik telah memeriksa korban, sejumlah saksi, serta para terlapor.
“Sudah masuk laporannya. Kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap korban, saksi-saksi, termasuk pihak terlapor,” katanya.
Ia menjelaskan seluruh pihak yang diduga terlibat masih berstatus anak di bawah umur.
“Semuanya masih anak-anak, bahkan ada yang usianya di bawah 14 tahun,” jelasnya.
Saat ini penyidik masih mendalami seluruh rangkaian peristiwa guna mengungkap secara utuh kronologi serta peran masing-masing pihak dalam dugaan pengeroyokan tersebut.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa konflik kecil di kalangan anak-anak dapat berkembang menjadi tindak kekerasan yang serius apabila tidak segera diselesaikan melalui pendampingan orang tua, sekolah, maupun lingkungan sekitar.(*)





