BERANDANEWS – Jakarta, Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mengalami peningkatan menjadi Rp 7.507 triliun. Sebagian penggunaannya dialokasikan untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial yang mencapai 22,0 persen.
Bank Indonesia mencatat bahwa ULN Indonesia pada Februari 2026 mencapai US$ 437,9 miliar atau setara Rp 7.507 triliun (dengan kurs Rp 17.140 per dolar AS). Angka ini naik sekitar US$ 3 miliar dibandingkan Januari yang sebesar US$ 434,9 miliar atau Rp 7.455,7 triliun.
Secara tahunan (year on year), ULN Indonesia tumbuh 2,5 persen pada Februari, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Januari yang sebesar 1,7 persen.
“Peningkatan posisi ULN tersebut terutama didorong oleh ULN sektor publik khususnya bank sentral seiring dengan aliran masuk modal asing ke instrumen moneter, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, posisi ULN swasta mengalami penurunan,” kata Direktur Departemen Komunikasi BI Anton Pinoto dalam keterangan resmi pada Rabu, (15/4/2026)
Secara rinci, ULN pemerintah pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 215,9 miliar atau tumbuh 5,5 persen secara tahunan. Perkembangan ini dipengaruhi antara lain oleh penurunan posisi surat utang.
Dilihat dari sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan untuk berbagai bidang, antara lain jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,0 persen), administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,3 persen), jasa pendidikan (16,2 persen), konstruksi (11,6 persen), serta transportasi dan pergudangan (8,5 persen).
Menurut Anton, struktur ULN pemerintah didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98 persen dari total utang pemerintah.
“Sementara peningkatan ULN Bank Indonesia didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global,” ujarnya.
Di sisi lain, ULN swasta pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 193,7 miliar atau turun 0,7 persen secara tahunan.
Penurunan ini terjadi pada kelompok lembaga keuangan sebesar 2,8 persen dan perusahaan non-keuangan sebesar 0,2 persen.
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian, dengan total pangsa mencapai 80,3 persen.
ULN swasta juga didominasi oleh utang jangka panjang dengan porsi sebesar 76,0 persen.
Anton menilai struktur ULN Indonesia masih tergolong sehat. Hal ini tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 29,8 persen serta dominasi utang jangka panjang yang mencapai 84,9 persen dari total ULN.
“Dalam rangka menjaga agar struktur ULN sehat, Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN,” tutupnya.(*)






