Takut kepada Allah, Bukan kepada Angin: Pelajaran Tauhid dari Sikap Pape Thiaw

KOLOM – Di tengah dunia modern yang sering menempatkan prestasi, popularitas, dan kepentingan duniawi sebagai ukuran utama keberhasilan, pernyataan Pelatih Tim Nasional Senegal, Pape Thiaw, menghadirkan refleksi yang sangat mendalam. Ketika ditanya mengapa tetap keluar untuk melaksanakan sholat Jum’at meskipun ada peringatan angin kencang, ia menjawab dengan kalimat sederhana namun sarat makna: “Kalian takut kepada angin, sementara kami takut kepada Allah, Zat yang menciptakan angin.”

Kalimat tersebut bukan sekadar ekspresi keberanian, melainkan manifestasi dari tauhid yang hidup dalam kesadaran seorang mukmin. Dalam perspektif Islam, rasa takut yang hakiki bukanlah kepada makhluk, melainkan kepada Sang Khalik. Angin, badai, gempa, dan seluruh fenomena alam hanyalah bagian dari ciptaan Allah yang bergerak sesuai dengan kehendak-Nya.

Pernyataan Pape Thiaw mengingatkan kita pada prinsip fundamental dalam aqidah Islam bahwa segala sesuatu di alam semesta berada dalam kekuasaan Allah. Ketika manusia terlalu takut kepada sebab-sebab duniawi, sering kali ia lupa kepada Pengatur seluruh sebab tersebut. Padahal Al-Qur’an berulang kali mengajarkan bahwa tidak ada satu pun musibah yang terjadi tanpa izin Allah.

Dari perspektif sosiologi agama, sikap Pape Thiaw menunjukkan bagaimana keyakinan religius mampu menjadi sumber keteguhan moral di tengah tekanan lingkungan. Dalam masyarakat modern yang semakin sekuler, identitas keagamaan sering didorong untuk tetap berada di ruang privat. Namun Pape Thiaw justru menunjukkan bahwa menjadi profesional tidak harus mengorbankan prinsip-prinsip keimanan.

Lebih menarik lagi, ia tidak menampilkan sikap konfrontatif atau permusuhan terhadap pihak yang bertanya. Ia menjawab dengan tenang, argumentatif, dan penuh keyakinan. Di sinilah letak adab seorang Muslim. Ketegasan dalam prinsip tidak harus diwujudkan dengan kemarahan, melainkan dengan kebijaksanaan dan keteladanan.

Pernyataannya bahwa bahkan final Piala Dunia sekalipun tidak boleh menghalangi pelaksanaan sholat Jum’at mengandung pesan penting tentang hierarki nilai dalam Islam. Prestasi olahraga, jabatan, kekuasaan, maupun kekayaan hanyalah sarana kehidupan. Sedangkan ibadah merupakan tujuan utama penciptaan manusia. Sebagaimana firman Allah:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Di era ketika banyak orang rela mengorbankan prinsip demi karier atau popularitas, sikap Pape Thiaw menjadi pengingat bahwa keberhasilan sejati bukan hanya diukur dari trofi yang diraih, tetapi juga dari kemampuan menjaga ketaatan kepada Allah dalam segala keadaan.

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari peristiwa ini bukanlah tentang sepak bola, Senegal, atau konferensi pers. Pelajaran utamanya adalah tentang orientasi hidup seorang mukmin. Kita boleh menghormati kekuatan alam, mengantisipasi risiko, dan mengikuti prosedur keselamatan. Namun hati kita tidak boleh bergantung kepada selain Allah.

Karena sesungguhnya, yang patut paling ditakuti bukanlah angin yang bertiup kencang, melainkan murka Allah yang menciptakan angin itu. Dan yang paling layak dicari bukanlah tepuk tangan manusia, melainkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Jangan takut kepada angin kencang, tetapi takutlah kepada Allah, Zat yang menciptakan angin kencang itu.”

Penulis
Baharuddin Hafid
Akademisi Universitas Megarezky Makassar