Ketika Kebenaran Memilih Jalan Sunyi

“Arifin Majid, Suara Publik, dan Harapan di Bawah Panji Golkar”

KOLOM – Sebelum menyampaikan pandangan ini, saya perlu menegaskan satu hal: saya tidak memiliki kedekatan pribadi maupun jalinan komunikasi dengan Arifin Majid. Saya tidak berada dalam lingkaran pergaulannya, tidak memiliki kepentingan pribadi dengannya, dan tulisan ini bukanlah bentuk pembelaan karena hubungan personal.

Justru karena itu, apa yang saya tuliskan lahir dari pengamatan sebagai partisan Golkar dan dari percakapan-percakapan informal dengan sejumlah pemilih serta simpatisan Golkar di Kota Makassar.

Di tengah riuhnya pembicaraan publik mengenai persoalan KONI Kota Makassar, saya melihat ada satu suara dari jajaran anggota legislatif Partai Golkar yang patut diperhatikan.

Suara itu adalah suara Arifin Majid.

Bukan karena ia yang paling keras.

Bukan pula karena ia yang paling ramai diberitakan.

Tetapi karena dalam suasana ketika banyak orang memilih berhati-hati, suara Arifin justru terdengar sebagai suara seorang legislator yang sedang menjalankan salah satu fungsi terpentingnya: fungsi pengawasan.

Di tengah berbagai perdebatan mengenai tata kelola, penggunaan anggaran, dan dana hibah KONI Kota Makassar yang kini menjadi perhatian aparat penegak hukum, sikap kritis seorang anggota DPRD seharusnya tidak otomatis dibaca sebagai serangan politik.

Justru sebaliknya.

Dalam demokrasi, pertanyaan adalah bagian dari pengawasan. Kritik adalah bagian dari kontrol. Dan keberanian meminta kejelasan adalah bagian dari tanggung jawab seorang wakil rakyat.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua yang disampaikan Arifin Majid pasti benar secara mutlak.

Kebenaran dalam perkara hukum tentu harus diuji melalui fakta, bukti, proses pemeriksaan, dan kewenangan lembaga yang berwenang.

Tetapi secara politik, ada satu hal yang menurut saya sulit diabaikan:

ketika publik sedang ramai mempertanyakan sebuah persoalan, suara legislator yang meminta agar persoalan tersebut dibuka secara terang justru merupakan suara yang patut didengar.

Dan di antara suara-suara dari jajaran Aleg Partai Golkar, suara Arifin Majid menurut saya memiliki posisi yang menarik untuk dicermati.

Bukan karena paling populer.

Melainkan karena ia berani berada di ruang yang tidak selalu nyaman.

Ketika Kader Seolah Berjalan Sendiri

Menariknya, fenomena itu juga terasa dalam percakapan informal di kalangan pemilih dan simpatisan Golkar Kota Makassar.

Dari sejumlah bincang-bincang informal yang saya dengar, muncul kesan bahwa Arifin Majid belakangan tidak terlalu terlihat dalam pergaulan internal kader. Ada semacam jarak. Ada kesan ia tidak berada di tengah riuh pergaulan politik internal sebagaimana kader-kader lainnya.

Saya sengaja menggunakan kata “kesan”, karena saya tidak ingin menghakimi dan tidak mengetahui secara pasti apa penyebabnya.

Apakah karena perbedaan pandangan?

Apakah karena dinamika politik internal?

Apakah karena pilihan sikap?

Atau mungkin ada alasan lain yang tidak diketahui publik?

Saya tidak tahu.

Dan saya kira, kita tidak perlu terburu-buru menyimpulkan.

Tetapi kalau benar ada jarak yang terbentuk, maka ada satu pertanyaan yang layak diajukan:

Apakah perbedaan sikap politik harus selalu berujung pada menjauhnya seorang kader dari ruang pergaulan partainya?

Saya kira tidak.

Sebab partai besar seharusnya memiliki ruang yang cukup luas untuk menampung perbedaan.

Golkar adalah partai besar. Ia tidak dibangun oleh satu warna pemikiran saja. Ia tumbuh dari banyak latar belakang, banyak karakter, banyak pengalaman, dan tentu saja banyak perspektif.

Perbedaan pandangan tidak semestinya membuat seorang kader kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

Justru dari perbedaan itulah kedewasaan organisasi diuji.

Kebenaran Tidak Selalu Berjalan Bersama Kerumunan

Ada sebuah filosofi sederhana yang menurut saya relevan untuk menggambarkan situasi ini:

Kebenaran tidak selalu berjalan bersama kerumunan.

Kadang-kadang ia berjalan sendiri.

Tidak karena ia ingin menyendiri, tetapi karena tidak semua orang bersedia berjalan ke arah yang sama.

Dalam sejarah, banyak hal yang pada awalnya hanya disuarakan oleh sedikit orang. Ketika suara itu pertama kali muncul, ia mungkin dianggap mengganggu. Ketika terus disampaikan, ia mungkin dianggap berlebihan. Tetapi ketika fakta mulai terbuka, orang-orang kemudian menyadari bahwa suara tersebut sebenarnya perlu didengar sejak awal.

Karena itu, saya tidak ingin melihat jalan sunyi Arifin Majid sebagai sebuah kelemahan.

Bisa jadi, justru kesunyian itu sedang menjadi ruang untuk menunjukkan karakter.

Sebab keberanian paling mudah diuji ketika seseorang tidak lagi mendapatkan tepuk tangan.

Ketika banyak orang berada di satu sisi, berdiri di sisi yang berbeda tentu membutuhkan keberanian.

Dan politik, pada akhirnya, bukan hanya tentang keberanian memenangkan pemilu.

Politik juga tentang keberanian mempertahankan prinsip.

Golkar Harus Menjadi Rumah yang Membesarkan Kader

Di sinilah harapan saya kepada Partai Golkar Makassar.

Saya berharap Golkar tidak hanya menjadi kendaraan bagi kader untuk mencapai jabatan politik, tetapi menjadi rumah yang mampu membesarkan karakter dan kapasitas kader.

Jika Arifin Majid memiliki pandangan yang berbeda, dengarkan.

Jika ia memiliki kritik, jawab dengan argumentasi.

Jika ada yang dianggap keliru, koreksi dengan mekanisme organisasi.

Tetapi jangan biarkan perbedaan menjadi alasan untuk membuat seorang kader berjalan sendirian.

Sebab pada akhirnya, ketika seorang kader bersinar, yang ikut bersinar bukan hanya dirinya.

Partainya juga ikut bersinar.

Saya berharap Arifin Majid ke depan justru dapat semakin bersinar di bawah panji Partai Golkar.

Bersinar sebagai anggota DPRD Kota Makassar.

Bersinar sebagai kader Golkar.

Dan yang paling penting, bersinar karena kerja nyata dan keberpihakannya kepada kepentingan masyarakat.

Saya berharap ia mampu menjadikan pengalaman panjangnya sebagai mantan pamong untuk memperkuat kapasitasnya sebagai legislator. Tidak sekadar hadir dalam rapat, tetapi hadir dalam persoalan rakyat. Tidak sekadar berbicara ketika diperlukan, tetapi berani berbicara ketika kepentingan publik membutuhkan suara.

Dan saya berharap Golkar memberikan ruang yang cukup untuk itu.

Sebab kader yang kritis bukan ancaman bagi partai.

Kader yang kritis, selama tetap menjaga etika dan marwah organisasi, justru dapat menjadi alarm bagi partai agar tidak kehilangan arah.

Pada Akhirnya, Bukan Tepuk Tangan yang Menentukan

Saya kembali pada satu hal di awal tulisan ini.

Saya tidak dekat dengan Arifin Majid.

Saya tidak memiliki komunikasi khusus dengannya.

Karena itu, saya tidak punya alasan untuk menulis sesuatu hanya karena hubungan personal.

Saya menulis karena sebagai partisan Golkar, saya merasa ada sesuatu yang perlu disampaikan.

Bahwa dalam politik, kita jangan hanya memberikan tempat kepada suara yang menyenangkan telinga.

Kita juga harus menyediakan ruang bagi suara yang mengingatkan.

Karena rumah yang sehat bukan rumah yang semua penghuninya selalu mengatakan “iya”.

Rumah yang sehat adalah rumah yang masih memiliki orang yang berani mengatakan:

“Tunggu. Ada sesuatu yang harus kita periksa.”

Mungkin hari ini Arifin Majid sedang berada dalam fase politik yang lebih sunyi.

Mungkin ia tidak selalu berada di pusat percakapan internal.

Mungkin jalannya tidak seramai kader-kader lainnya.

Tetapi saya percaya, jalan sunyi tidak selalu berarti jalan yang salah.

Kadang-kadang seseorang harus berjalan sendiri agar kita dapat melihat seberapa kuat ia memegang keyakinannya.

Dan jika pada akhirnya yang ia perjuangkan memang kepentingan publik, maka waktu akan menjadi hakim yang paling jujur.

Sebab tepuk tangan bisa diatur.

Popularitas bisa dibangun.

Panggung bisa berganti.

Tetapi rekam jejak akan tetap tinggal.

Maka harapan saya sederhana:

Semoga Arifin Majid semakin bersinar di bawah panji Partai Golkar. Semakin kuat sebagai anggota DPRD, semakin matang sebagai kader, dan semakin nyata pengabdiannya kepada masyarakat.

Dan kepada Golkar Makassar, saya berharap satu hal yang sama pentingnya:

jangan takut kepada kader yang berani berpikir.

Beri mereka ruang.

Dengar suara mereka.

Uji gagasan mereka.

Dan jika mereka benar, jangan ragu mengakui bahwa suara yang pernah terdengar sunyi itu ternyata memang perlu didengar.

Karena pada akhirnya, partai besar bukanlah partai yang membuat semua kader berjalan dalam satu barisan tanpa suara.

Partai besar adalah partai yang mampu membuat perbedaan menjadi kekuatan dan menjadikan setiap kader sebagai cahaya yang menerangi rumah besar bernama Golkar.

Dan mungkin, Arifin Majid sedang berjalan menuju titik itu.

Tidak dengan tepuk tangan.

Tidak dengan kegaduhan.

Tetapi dengan jalan sunyi yang perlahan menunjukkan maknanya.

Sebab terkadang, kebenaran memang harus berjalan sendiri terlebih dahulu, sebelum akhirnya sejarah memanggil orang-orang untuk berjalan bersamanya.

Penulis
Milyuda Gautama
Partisan Golkar Makassar