BERANDANEWS – Makassar, Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Sulawesi Selatan yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 18 Juli 2026, dinilai menjadi momentum penting bagi konsolidasi internal partai berlambang pohon beringin tersebut.
Akademisi Universitas Megarezky Makassar, Baharuddin Hafid, menilai arah dukungan politik menjelang Musda mengindikasikan peluang besar terjadinya aklamasi dalam pemilihan Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan.
Menurut Baharuddin Hafid yang akrab disapa Barhaf ini menyebut, jika aklamasi benar-benar terjadi, hal tersebut tidak semestinya dimaknai sebagai kemenangan satu figur atas figur lainnya, melainkan sebagai bentuk konsensus politik yang lahir dari kesepakatan mayoritas pemilik suara dalam organisasi.
“Ketika sebagian besar pemegang hak suara telah menentukan pilihan yang sama, maka aklamasi dapat dipahami sebagai mekanisme konsolidasi organisasi, bukan sebagai bentuk penghilangan demokrasi,” ujar Barhaf dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).
Ia menjelaskan, dalam perspektif sosiologi politik modern, organisasi politik yang matang tidak hanya diukur dari tingkat kompetisi internal, tetapi juga dari kemampuannya menjaga stabilitas organisasi, memperkuat kohesi kader, dan memastikan keberlanjutan kepemimpinan.
Barhaf mengemukakan bahwa figur-figur yang selama ini disebut dalam bursa calon Ketua Golkar Sulsel, seperti Ilham Arief Sirajuddin (IAS), Munafri Arifuddin, dan Ina Kartika Sari, memiliki modal politik yang berbeda dan dapat saling melengkapi dalam membangun kekuatan partai ke depan.
Menurutnya, dukungan mayoritas yang mengarah kepada IAS tidak seharusnya dipandang sebagai upaya menyingkirkan kader lain. Sebaliknya, kader-kader yang memiliki pengalaman politik, basis massa, maupun posisi strategis di pemerintahan tetap perlu diberi ruang dalam proses konsolidasi pasca-Musda.
“Golkar memiliki banyak kader potensial. Tantangannya bukan siapa yang menang atau kalah, tetapi bagaimana seluruh kekuatan internal dapat disatukan untuk menghadapi agenda politik yang lebih besar,” katanya.
Ia menilai Musda Golkar Sulsel tahun ini akan menjadi ujian penting bagi kedewasaan politik partai dalam mengelola dinamika internal. Kepemimpinan yang terpilih nantinya diharapkan mampu merangkul seluruh elemen partai dan menghindari polarisasi di tingkat kader.
Barhaf menekankan bahwa politik modern semakin menuntut kolaborasi antarelite dan penguatan institusi partai. Karena itu, hasil Musda tidak hanya diukur dari terpilihnya ketua baru, tetapi juga dari kemampuan menjaga soliditas organisasi setelah proses pemilihan selesai.
“Keberhasilan Musda bukan hanya soal siapa yang menjadi ketua, tetapi bagaimana seluruh kader tetap merasa menjadi bagian dari masa depan Partai Golkar,” ujarnya.
Musda XI Partai Golkar Sulawesi Selatan sendiri akan menjadi forum tertinggi partai di tingkat provinsi untuk memilih kepengurusan baru DPD I Golkar Sulsel. Forum tersebut juga diharapkan menjadi momentum memperkuat konsolidasi organisasi menjelang berbagai agenda politik, termasuk persiapan menghadapi Pemilu 2029.
Sejumlah kader dan pengurus Golkar berharap Musda berlangsung kondusif dan menghasilkan kepemimpinan yang mampu menjaga soliditas partai serta memperkuat posisi Golkar di Sulawesi Selatan pada masa mendatang.(*)





