
BERANDANEWS – Gowa, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Alauddin Makassar menggelar Kuliah Tamu bertajuk “Penguatan Literasi Kesehatan Digital untuk Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Cakap Digital, Sehat, Aman, dan Berdaya”. Kegiatan ini berlangsung di Lecture Theater FKIK UINAM, Gowa, Senin (10/8/2026).

Acara yang dipandu oleh Dr. Syamsul Alam, S.K.M., M.Kes. selaku moderator ini menghadirkan Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI, Rizki Ameliah, S.S., M.Si., sebagai narasumber utama.
Dekan FKIK UIN Alauddin Makassar, Dr. dr. Dewi Setiawati, Sp.OG., M.Kes., menyambut hangat kehadiran perwakilan Komdigi RI. Ia menegaskan pentingnya edukasi digital di lingkungan kampus untuk menciptakan mahasiswa yang cerdas dan kritis dalam bersosial media.
“Harapan besar kita adalah bagaimana ruang edukasi digital terus bergerak aktif di kampus, sekolah, hingga ruang publik. Ini penting untuk melawan hoaks serta membentengi anak muda dari paparan konten negatif yang destruktif seperti upaya normalisasi konten LGBT demi keberlanjutan generasi yang sehat dan produktif,” tegas Dr. Dewi.
Lanskap Digital Indonesia dan Kerangka C-A-B-E
Dalam pemaparannya, Rizki Ameliah membeberkan lanskap digital Indonesia terkini. Tingkat penetrasi internet nasional telah mencapai 81,72% dengan total 235,2 juta pengguna.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 84,31% mengakses internet via smartphone dengan durasi rata-rata 4–6 jam per hari, di mana kelompok Milenial dan Gen Z menjadi pengguna mendominasi (di atas 89%).
Untuk menavigasi dunia digital secara bijak, Rizki mengenalkan kerangka C-A-B-E:
Cakap Digital: Mampu menggunakan perangkat dan aplikasi komunikasi secara tepat serta produktif.
Aman Digital: Memiliki kesadaran tinggi untuk melindungi data pribadi dan perangkat dari ancaman siber.
Budaya Digital: Menerapkan nilai-nilai kebangsaan dan Pancasila dalam berinteraksi di dunia maya.
Etika Digital: Menerapkan netiquette (tata krama internet) agar senantiasa bersikap sopan dan bermartabat.
Strategi Tangkal Hoaks dan Etika Profesi Kesehatan
Rizki juga menyoroti maraknya isu hoaks kesehatan yang tercatat mencapai lebih dari 2.300 kasus. Ia mengajak mahasiswa menerapkan prinsip “Cek, Pikir, dan Bagikan” saat menerima informasi.
Warga kampus diimbau memverifikasi informasi melalui platform tepercaya seperti s.id/cekhoaks, mengecek keabsahan identitas tenaga kesehatan sumber berita, hingga memanfaatkan chatbot verifikasi seperti Mafindo dan CekFakta.
Khusus bagi calon tenaga medis dan kesehatan, Komdigi mengingatkan pentingnya menjaga etika profesi di media sosial.
Beberapa hal yang pantang dilakukan antara lain:
– Flexing atau memamerkan gaya hidup mewah yang merusak citra profesi.
– Melanggar privasi dengan mengunggah foto atau data medis pasien tanpa izin.
– Membuat konten diskriminatif yang merendahkan pasien maupun sesama tenaga kesehatan.

Sebagai penutup, mahasiswa diajak untuk terus meningkatkan kompetensi digital secara mandiri dan gratis melalui aplikasi Digitalent Mobile milik Kementrian Komdigi RI.(*)




