Demam Piala Dunia dan Maraknya Judi Bola: Sebuah Renungan Moral di Tengah Euforia Sepak Bola

KOLOM –  Piala Dunia senantiasa menghadirkan magnet yang luar biasa. Jutaan pasang mata terpaku pada layar televisi, warung kopi dipenuhi diskusi prediksi pertandingan, dan media sosial dipenuhi perdebatan tentang tim favorit. Sepak bola telah menjadi bahasa universal yang menyatukan berbagai kalangan tanpa memandang usia, suku, maupun status sosial.

Namun, di balik semarak pesta sepakbola terbesar dunia ini, terdapat fenomena lain yang turut meningkat, yaitu maraknya praktik judi bola. Euforia olahraga yang seharusnya menjadi sarana hiburan dan mempererat persaudaraan sering kali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mendorong masyarakat terlibat dalam aktivitas taruhan.

Dalam pandangan Islam, olahraga merupakan aktivitas yang positif dan bermanfaat. Nilai sportivitas, disiplin, kerja sama tim, dan semangat kompetisi yang sehat adalah pelajaran berharga yang dapat dipetik dari sepak bola. Akan tetapi, ketika kecintaan terhadap olahraga berubah menjadi sarana mencari keuntungan melalui taruhan, maka persoalannya tidak lagi sekadar hiburan, melainkan menyangkut aspek moral dan agama.

Al-Qur’an secara tegas melarang praktik perjudian atau maisir karena mengandung unsur spekulasi yang merugikan dan dapat menimbulkan permusuhan di tengah masyarakat. Judi tidak hanya berdampak pada kerugian finansial, tetapi juga berpotensi merusak hubungan keluarga, mengganggu ketenangan jiwa, serta melalaikan seseorang dari tanggung jawab dan ibadahnya.
Pada masa jahiliah, bagi kalangan arab, judi dianggap salah satu cara mengekspresikan kedermawanan, karena laba judi itulah mereka bisa memberi makan orang orang miskin atau mereka bisa menyisihkan sebagian uang dari andil orang-orang yang mendapatkan laba, oleh karena itu Al Quran tidak mengingkari manfaat judi, namun dengan redaksi sebagai berikut ” tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya”(Al Baqarah:219)(syafiyyurrahman Al mubarakfuri,1997), akan tetapi kebiasaan ini menimbulkan pertikaian, pemborosan, kecanduan, islam kemudian mengharamkannya secara total melalui turunnya surah Al Maidah ayat 90.

Yang menjadi keprihatinan saat ini adalah semakin mudahnya akses terhadap perjudian melalui teknologi digital. Hanya dengan telepon genggam, seseorang dapat terpapar promosi taruhan yang dikemas secara menarik dan seolah-olah menjanjikan keuntungan instan. Padahal kenyataannya, keuntungan yang ditampilkan hanyalah sebagian kecil dari banyaknya kerugian yang dialami para pelaku judi.

Sebagai masyarakat yang religius, kita perlu membedakan antara menikmati sepak bola sebagai hiburan dan menjadikannya sarana perjudian. Mendukung tim favorit, mengoleksi memorabilia, atau berdiskusi tentang strategi permainan adalah bagian dari kecintaan terhadap olahraga. Namun mempertaruhkan uang demi hasil pertandingan adalah langkah yang berisiko secara moral, sosial, dan spiritual.

Perputaran uang judi bola piala dunia tahun 2026 di indonesia diproyeksikan menembus angka 30 T lebih, tentu ini akan mendampak bagi ekonomi mikro dimana uang yang seharusnya bisa berputar untuk keperluan belanja dalam negeri dan sebagainya justru pindah secara berjamaah ke situs luar negeri.

Piala Dunia seharusnya menjadi momentum untuk merayakan prestasi olahraga, bukan ajang memperluas praktik perjudian. Kita dapat menikmati pertandingan dengan semangat sportivitas tanpa harus terjebak dalam budaya taruhan yang merugikan. Kemenangan sejati bukanlah ketika tebakan kita tepat dan menghasilkan uang, melainkan ketika kita mampu menjaga nilai-nilai moral di tengah godaan yang begitu besar.

Perlu menjadi atensi bagi umat islam, perhelatan ini diselenggarakan pada pada bulan suci islam, yakni sebahahagian di akhir bulan dzulhijjah dan sebahagian lain di bulan muharram, dimana kita ketahui berdasarkan dalil di bulan suci tersebut amal kebaikan dilipat gandakan oleh Allah SWT begitu juga sebaliknya perbuatan keji dilipatgandakan dosanya karena perbuatan tersebut dianggap mengoyak kehormatan bulan mulia ini.

Dan Pada akhirnya, sepak bola akan selalu menjadi permainan yang indah. Yang perlu dijaga adalah bagaimana kita menikmatinya dengan cara yang benar, sehingga euforia olahraga tidak berubah menjadi pintu masuk bagi kerugian dunia dan akhirat serta penyesalan baik untuk individu maupun keluarga

Penulis
Arif Ade Kantari, SH