
BERANDANEWS – Jakarta, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), secara tegas membongkar dan mematahkan deretan isu liar yang menyasar organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.
Dalam wawancara mendalam di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, Gus Ipul menepis narasi hoaks mulai dari tuduhan aliran dana fantastis Rp 480 miliar, manipulasi konsesi tambang, hingga dinamika internal organisasi.
Berbekal pengalaman lebih dari empat dekade mengabdi di PBNU sejak era KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ia menegaskan bahwa deretan tuduhan tersebut merupakan bentuk manipulasi opini publik yang tidak berbasis data demi memfitnah pimpinan tertinggi NU.
5 Point Klarifikasi Ketegasan PBNU:
1. Absurditas Isu Dana Rp 480 Miliar Naik Mobil Towing
PBNU menepis keras klaim yang dihembuskan oleh Gus Lilur (Khilur R Abdullah Sahlawiy) mengenai dugaan pengangkutan uang tunai ratusan miliar rupiah menggunakan dua Land Cruiser di atas truk towing (penderek).
Secara kalkulasi logistik dan fisik, skenario memindahkan puluhan ton uang kertas pecahan Rp 100 ribu di atas truk terbuka sangat tidak masuk akal.
“Saya minta yang membuat pernyataan untuk membuktikan. Kita tunggu itu. Tapi kalau tidak ada bukti sama sekali, ini fitnah dan pembualan. Kami akan lapor balik,” tegas Gus Ipul.
2. Tempuh Jalur Hukum dan Laporan ke Dewan Pers
PBNU mengambil tindakan tegas dengan mendatangi Dewan Pers untuk mengadukan tayangan konten media Madilog (12 & 22 September) yang dinilai melanggar Kode Etik Jurnalistik karena menyebarkan narasi gratifikasi tanpa klarifikasi (tabayun).
Selain itu, PBNU tengah menyiapkan laporan resmi ke Bareskrim Polri demi menjaga kehormatan Rais Aam PBNU sebagai pimpinan tertinggi NU.
“Kami harus menjaga martabat Rais Aam. Kalau saya pribadi tidak apa-apa, tapi Rais Aam adalah pimpinan tertinggi kami. Langkah hukum pasti berlanjut,” ujarnya.
3. Meluruskan Hak Tambang NU: “Barang Belum Ada, Tapi Ributnya Luar Biasa”
Mengenai izin konsesi tambang dari pemerintah, Gus Ipul meluruskan bahwa alokasi tersebut merupakan pemberian (grant) negara untuk kemandirian ekonomi organisasi, bukan atas desakan PBNU.
Saat ini proyek tersebut masih dalam tahap legalitas awal serta eksplorasi, sehingga belum ada produksi maupun pendapatan sepeser pun. Pengelolaannya dilakukan secara transparan melalui Koperasi PBNU dan PT komersial.
4. Penataan Sistem Pemilihan Muktamar NU
Menanggapi dinamika Muktamar NU, Gus Ipul menjelaskan bahwa PBNU terus mematangkan mekanisme pemilihan guna menekan potensi politik uang.
Penerapan sistem bertahap seperti Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) untuk Rais Aam serta musyawarah mufakat untuk Ketua Umum terbukti mampu menjaga marwah organisasi.
“Yang paling penting adalah yang kalah tetap terhormat, dan yang menang bermartabat,” ungkap Gus Ipul.
5. Sapu Bersih “3 Dosa Besar Pendidikan” di Pesantren
PBNU menegaskan komitmennya memberantas “3 Dosa Besar Pendidikan” (perundungan, kekerasan fisik/seksual, dan intoleransi) di lingkungan lembaga pendidikan keagamaan.
Melalui Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), PBNU membentuk Satgas khusus mitigasi serta mendesak pemerintah menindak tegas oknum pesantren tidak terdaftar yang kerap mencoreng nama baik dunia pendidikan Islam.(*)




