BERANDANEWS — Makassar, Ketenangan warga di kawasan perbatasan Jalan Kerung-Kerung dan Kompleks Eks Asrama TNI Bara-baraya, Kota Makassar, seketika pecah berubah menjadi mencekam pada Selasa (15/9/2026) malam.
Hujan batu, letupan petasan, hingga laju anak panah (busur) berhamburan di udara dalam bentrokan susulan yang melibatkan dua kelompok pemuda.
Kericuhan bermula sekitar pukul 21.00 WITA tatkala petasan udara sengaja diletupkan dari arah kawasan Asrama Bara-baraya. Suara ledakan tersebut memancing kemarahan pemuda Lorong 12 Jalan Kerung-Kerung yang telah bersiaga, hingga aksi saling serang tak terhindarkan.
Kasi Humas Polrestabes Makassar, AKP Jafar Achmad, mengonfirmasi bahwa pertikaian ini diduga kuat merupakan aksi balas dendam atas insiden penyerangan sehari sebelumnya yang diperkeruh oleh desas-desus sengketa lahan.
“Diduga keributan ini terjadi karena aksi balasan penyerangan sebelumnya. Warga dan kelompok pemuda yang berkumpul langsung melakukan perlawanan menggunakan batu, petasan, dan busur panah,” terang AKP Jafar pada Rabu (16/9/2026).
Di tengah situasi mencekam, warga setempat sempat mengamankan seorang pemuda berinisial AG (25) yang dicurigai sebagai penyusup dari kelompok lawan sebelum akhirnya diserahkan ke Polsek Makassar.
Situasi kian memanas saat gelombang penyerangan susulan kembali pecah. Personel gabungan dari Polsek Makassar, Polrestabes Makassar, hingga Polda Sulsel terpaksa diterjunkan ke lokasi untuk membubarkan massa secara paksa serta menyisir lorong-lorong pemukiman.
Dalam operasi penyisiran tersebut, polisi berhasil menghentikan seorang mahasiswa berinisial FA (19) yang mengendarai sepeda motor menuju pusat bentrokan.
Saat digeledah, pemuda tersebut tak berkutik ketika petugas menemukan senjata mematikan di tubuhnya.
“Dari tangan FA, kami menyita barang bukti berupa empat anak panah (busur) beserta satu ketapel pelontar. Yang bersangkutan berkilah membawa senjata berbahaya itu hanya untuk berjaga-jaga saat menonton keributan,” tegas Jafar.
Kini, lokasi bentrokan telah dijaga ketat oleh aparat kepolisian guna mengantisipasi letupan aksi susulan, sembari mengimbau para orang tua dan tokoh masyarakat setempat untuk memantau pergaulan anak muda agar tak menjadi korban sia-sia dalam aksi premanisme jalanan.(*)





