BERANDANEWS — Jakarta, Di balik dinamika politik ruang rapat dan lorong-lorong Istana, kursi menteri keuangan tak pernah sepi dari tekanan hebat.
Usai melakoni prosesi serah terima jabatan (sertijab) kepada Menkeu baru Suahasil Nazara, mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya secara blak-blakan angkat bicara mengenai alasannya didepak dari jajaran Kabinet Merah Putih.
Tanpa nada penyesalan, Purbaya mengonfirmasi bahwa perombakan dan rotasi besar-besaran terhadap ratusan pejabat di tubuh Direktorat Jenderal Pajak serta Ditjen Bea Cukai yang ia eksekusi pada awal September 2026 menjadi salah satu pemicu utama Presiden Prabowo Subianto mencopot jabatannya.
“Sebagian ada (karena perombakan pejabat). Sebagian iya,” ujar Purbaya santai di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Purbaya mengaku telah membaca arah angin politik dan memperkirakan nasib jabatannya dengan kalkulasi fifty-fifty. Kepastian pemecatan tersebut akhirnya ia terima secara resmi saat Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menghubunginya lewat sambungan telepon.
“Itu kan hak prerogatif Presiden, kita ikuti saja. Kebijakan kita yang ikutin semua kebijakan Presiden, aman lah itu,” ucapnya menyikapi keputusan tersebut.
Meski ia membantah pencopotannya terkait erat dengan polemik pembagian dividen Danantara sebesar Rp120 triliun, para pengamat menilai gaya komunikasi Purbaya serta ketegangan pasar atas arah kebijakan fiskal dan isu perbankan daerah (BPD) turut mempercepat langkah reshuffle.
Beban berat mengawal benteng keuangan negara di tengah gejolak ekonomi rupanya menguras fisik Purbaya secara drastis. Ia mengaku tekanan kerja selama menjabat berhasil memangkas berat badannya secara signifikan, dari 102 kilogram hingga merosot ke angka 88 kilogram.
Kini, dengan estafet kepemimpinan yang resmi berpindah tangan, Purbaya melangkah keluar dari Kementerian Keuangan dengan kepala tegak, meninggalkan jejak ketegasan dan romantika perjuangan di tengah panasnya kursi menteri.(*)
.





