
BERANDANEWS — Makassar, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Makassar mengambil langkah proaktif dalam mengawal kualitas dan keamanan pangan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebanyak 138 petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dilatih secara intensif untuk melakukan deteksi dini terhadap potensi cemaran bahan kimia berbahaya pada bahan makanan.
Pelatihan yang berlangsung di Aula Baji Minasa BBPOM di Makassar pada Selasa (18/8/2026) tersebut melibatkan para kepala SPPG dan ahli gizi yang mengelola 69 titik SPPG di tiga wilayah, yakni Kota Makassar, Kabupaten Maros, dan Kabupaten Gowa.
Kepala BBPOM di Makassar, Yosef Dwi Irwan, menegaskan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat SPPG merupakan faktor krusial dalam menyukseskan program prioritas nasional tersebut.
“Kami melatih petugas SPPG menggunakan rapid test kit atau alat uji cepat. Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan nyata BBPOM atas instruksi Kepala BPOM RI guna mengawal program prioritas Presiden dan Wakil Presiden,” ujar Yosef Dwi Irwan di Makassar, Selasa (18/8/2026).
Cakup Ranah Ekonomi hingga Lindungi Kelompok Rentan
Yosef menjelaskan, program MBG memiliki dimensi yang sangat luas. Selain menyasar anak sekolah, program ini juga ditujukan bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, sekaligus menjadi pendorong ekonomi kerakyatan melalui penyerapan tenaga kerja lokal.
Oleh karena itu, kepastian keamanan dan mutu pangan harus dijamin tanpa celah pada setiap rantai pasok—mulai dari pemilihan bahan baku, rantai pengolahan, pemorsian, hingga tahap distribusi ke penerima manfaat.
“Pengawasan tidak boleh longgar sedikit pun. Bahan makanan yang masuk ke dapur pengolahan harus dipastikan steril dari bahan berbahaya sebelum disajikan,” tegasnya.
Praktik Langsung Deteksi Formalin Hingga Residu Pestisida
Dalam pelatihan tersebut, tim ahli dari Laboratorium BBPOM Makassar membekali peserta dengan teknik pengambilan serta penanganan sampel, prosedur pengujian laboratorium sederhana, hingga metode interpretasi hasil uji.
Para peserta juga melakukan praktik simulasi secara langsung untuk menguji berbagai parameter cemaran berbahaya, antara lain:
Bahan Kimia Dilarang: Formalin, boraks, dan nitrit.
Residu dan Kesegaran: Residu pestisida pada sayuran, tingkat kesegaran daging ayam, serta kadar histamin sebagai indikator mutu dan kesegaran ikan.
Penggunaan rapid test kit ini diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan pertama (first line of defense) di setiap dapur SPPG untuk mencegah terjadinya kasus keracunan maupun gangguan kesehatan akibat konsumsi pangan bermasalah.(*)




