Tiga Kandidat dari Jawa Tengah: Berebut Suara Sendiri atau Sedang Mengepung PBNU?

Ilustrasi

KOLOM – Gus Yahya, Gus Yusuf, dan Gus Rozin membawa tiga kekuatan berbeda. Jika bertarung sampai akhir, suara Jawa Tengah bisa terpecah. Tetapi jika mengerucut pada satu nama, peta Muktamar dapat berubah drastis.

Menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026, ada satu fenomena menarik yang patut dibaca lebih serius: Jawa Tengah menghadirkan tiga figur sekaligus dalam bursa Ketua Umum PBNU.

Mereka bukan nama sembarangan.

Ada KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Ketua Umum PBNU yang menyatakan maju kembali. Ada KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, Pengasuh API Tegalrejo, Magelang. Dan ada KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar: siapa yang paling kuat?

Pertanyaan yang lebih menarik adalah: mengapa dari satu wilayah muncul tiga kandidat sekaligus? Apakah mereka akan berebut suara di kandang sendiri, atau justru tiga pencalonan ini membuat Jawa Tengah memiliki posisi tawar sangat besar dalam menentukan siapa yang kelak memimpin PBNU?

Tiga Kandidat, Tiga Mesin Berbeda

Kalau dicermati, ketiganya membawa modal yang tidak sama.

Gus Yahya membawa modal petahana.

Ia sedang memimpin PBNU dan memiliki pengalaman berinteraksi langsung dengan struktur PWNU dan PCNU secara nasional. Pada Muktamar Ke-34 NU di Lampung tahun 2021, Gus Yahya memenangkan pemilihan Ketua Umum PBNU.

Kini ia kembali maju dengan modal kepemimpinan, jaringan organisasi, serta relasi nasional.

Artinya, kekuatan Gus Yahya tidak bisa hanya dibaca dari Rembang atau Jawa Tengah.

Medan permainannya sudah nasional.

Berbeda dengan Gus Yusuf.

Gus Yusuf datang dengan kombinasi kekuatan pesantren, jaringan kiai, pengalaman politik, dan dukungan cabang. Lebih dari 20 PCNU di Jawa Tengah telah menyampaikan dukungan kepadanya melalui forum yang dikenal sebagai “Lamaran Agung”.

Jumlah itu tidak dapat dianggap kecil.

Jika dukungan tersebut bertahan sampai pemilihan, Gus Yusuf mempunyai modal awal yang konkret di kandang Jawa Tengah. Ia bukan lagi sekadar kandidat yang menawarkan diri, tetapi figur yang sudah memiliki basis struktural yang dinyatakan secara terbuka.

Sementara Gus Rozin membawa mesin berbeda.

Sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, ia mempunyai posisi strategis dalam struktur wilayah. Pencalonannya juga memiliki bobot tersendiri karena lahir dari lingkungan pesantren besar dan membawa narasi pembenahan organisasi serta penguatan marwah jam’iyah.

Dengan demikian, Jawa Tengah memperlihatkan tiga model kekuatan:

Gus Yahya dengan jaringan PBNU nasional. Gus Yusuf dengan kekuatan pesantren dan dukungan sejumlah PCNU. Gus Rozin dengan legitimasi struktural PWNU Jawa Tengah.

Di sinilah pertarungan menjadi menarik sekaligus rumit.

Satu Kandang, Tiga Pendekar

Dalam kontestasi apa pun, terlalu banyak kandidat dari basis yang sama dapat menjadi keuntungan bagi lawan.

Bila Gus Yahya, Gus Yusuf, dan Gus Rozin sama-sama bertahan sampai pemilihan dan masing-masing mengambil bagian suara Jawa Tengah, maka fragmentasi suara sangat mungkin terjadi.

Dalam keadaan seperti itu, kandidat dari luar Jawa Tengah justru bisa tersenyum.

Mereka tidak harus mengalahkan satu blok Jawa Tengah yang solid.

Mereka cukup menunggu ketika tiga kekuatan Jawa Tengah saling mengurangi suara satu sama lain.

Politik Muktamar memiliki matematika sederhana:

Lawan yang terpecah sering kali lebih mudah dikalahkan daripada lawan yang tidak terlalu besar tetapi bersatu.

Karena itu, tiga kandidat dari Jawa Tengah dapat menjadi simbol kekuatan besar, tetapi sekaligus mengandung risiko menjadi tiga perahu yang berlayar dari pelabuhan yang sama menuju kursi yang hanya satu.

Tetapi Jangan Terlalu Cepat Menganggap Mereka Bertarung Sampai Akhir

Ada kemungkinan kedua yang justru lebih menarik.

Bagaimana kalau tiga pencalonan ini tidak berakhir dengan tiga nama sampai garis terakhir?

Dalam politik organisasi, tahap awal pencalonan tidak selalu identik dengan konfigurasi akhir. Kandidat bergerak, membaca dukungan, menghitung suara, bersilaturahmi dengan kiai dan cabang, kemudian pada titik tertentu melakukan konsolidasi.

Di sinilah muncul pertanyaan besar:

Bagaimana bila menjelang pemilihan dua dari tiga kekuatan Jawa Tengah mengerucut kepada satu figur?

Jika itu terjadi, ceritanya berubah sama sekali.

Yang semula tampak sebagai perpecahan dapat berubah menjadi konsolidasi besar Jawa Tengah.

Gus Yahya mempunyai jaringan petahana. Gus Yusuf memiliki dukungan nyata sejumlah PCNU. Gus Rozin memimpin PWNU Jawa Tengah.

Bayangkan apabila dua dari tiga mesin tersebut akhirnya bertemu.

Kandidat yang menerimanya tidak lagi hanya membawa suara pribadi.

Ia membawa pesan politik yang jauh lebih kuat:

“Jawa Tengah sudah mengerucut.”

Dalam kontestasi organisasi, kalimat seperti itu dapat menciptakan momentum.

Cabang-cabang di luar Jawa yang sebelumnya masih menunggu arah dapat mulai menghitung ulang.

Sebab pemilih dalam Muktamar bukan hanya melihat siapa yang kuat.

Mereka juga memperhatikan siapa yang sedang tumbuh dan siapa yang terlihat memiliki peluang menang.

Kalau Harus Mengerucut, Siapa Titik Temunya?

Di sinilah kalkulasi semakin menarik.

Skenario Pertama: Gus Yusuf Menjadi Titik Temu

Secara matematika politik organisasi, Gus Yusuf memiliki satu keuntungan: dukungan cabangnya sudah terlihat di atas meja.

Jika dukungan lebih dari 20 PCNU yang telah menyatakan sikap tetap bertahan, kandidat lain yang ingin melakukan konsolidasi Jawa Tengah tentu harus memperhitungkan blok tersebut.

Apalagi Gus Yusuf bukan figur asing dalam dunia politik dan organisasi.

Pengalaman pesantren, organisasi, dan politik memberinya kemampuan berkomunikasi dengan banyak lapisan.

Jika Gus Rozin pada satu titik memilih tidak melanjutkan pencalonan dan sebagian jaringan struktural Jawa Tengah bergerak ke Gus Yusuf, maka Gus Yusuf dapat berubah dari kandidat regional menjadi kandidat nasional yang sangat serius.

Ia tidak lagi datang hanya membawa nama Tegalrejo.

Ia datang membawa simbol konsolidasi Jawa Tengah.

Skenario Kedua: Gus Rozin Menjadi Jalan Tengah

Jangan pula meremehkan posisi Gus Rozin.

Sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah, ia mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki kandidat lain: legitimasi kepemimpinan wilayah yang sedang aktif.

Jika pada tahap tertentu pertarungan Gus Yahya dengan kandidat lain menjadi terlalu keras, sementara Gus Yusuf menghadapi resistensi tertentu, Gus Rozin dapat muncul sebagai figur kompromi.

Dalam politik Muktamar, figur kompromi tidak selalu merupakan orang yang paling ramai sejak awal.

Kadang ia justru muncul ketika dua kekuatan besar saling mengunci.

Muktamar tidak selalu dimenangkan oleh pelari yang sejak awal berada di depan.

Kadang pemenangnya adalah tokoh yang masih mempunyai ruang untuk diterima banyak kubu ketika kandidat lain sudah terlalu jauh saling berhadapan.

Dalam posisi seperti itu, Gus Rozin dapat memainkan dua peran:

menjadi kandidat serius atau menjadi king maker.

Dan dalam Muktamar, jangan pernah meremehkan seorang king maker.

Terkadang ia tidak duduk di kursi utama, tetapi ikut menentukan siapa yang duduk di sana.

Skenario Ketiga: Konsolidasi Kembali ke Gus Yahya

Kemungkinan ini juga tidak boleh diabaikan.

Bagaimana jika pada detik-detik akhir justru terjadi konsolidasi kembali kepada Gus Yahya?

Sebagai petahana, ia mempunyai keuntungan berupa jaringan kepengurusan nasional dan pengalaman memimpin PBNU.

Apabila satu atau bahkan dua kekuatan Jawa Tengah memilih berdamai dan mengarahkan dukungan kepada petahana, posisi Gus Yahya akan berubah signifikan.

Petahana yang memperoleh tambahan konsolidasi dari kandangnya sendiri tentu berbeda dengan petahana yang harus menghadapi dua penantang kuat dari wilayah asal yang sama.

Karena itu, pertarungan sebenarnya bukan sekadar:

Gus Yahya versus Gus Yusuf versus Gus Rozin.

Pertarungan sesungguhnya adalah:

Siapa yang berhasil membuat dua lainnya tidak lagi menjadi lawan.

Apakah Jawa Tengah Sedang “Mengepung” PBNU?

Kata mengepung tentu tidak harus dimaknai sebagai adanya skenario rahasia atau kesepakatan tersembunyi.

Tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa ketiganya sedang menjalankan operasi bersama.

Tetapi secara objektif, munculnya tiga figur kuat dari Jawa Tengah menciptakan situasi politik yang membuat wilayah ini hadir di hampir semua jalur pertandingan.

Mau memilih kesinambungan kepemimpinan? Ada Gus Yahya.

Mau figur dengan basis pesantren, dukungan cabang, dan pengalaman politik? Ada Gus Yusuf.

Mau regenerasi melalui pemimpin PWNU aktif? Ada Gus Rozin.

Dengan kata lain, apa pun kecenderungan sebagian muktamirin, Jawa Tengah menyediakan kandidatnya.

Itulah makna “mengepung PBNU”.

Bukan mengepung gedungnya. Tetapi mengepung pilihan politiknya.

Siapa yang Paling Dirugikan Jika Jawa Tengah Bersatu?

Jika Jawa Tengah benar-benar mengerucut kepada satu kandidat, dampaknya akan langsung terasa kepada kandidat dari wilayah lain.

Yang pertama harus menghitung ulang tentu Gus Kikin.

Gus Kikin mempunyai modal yang tidak kecil. Pencalonannya datang dari Jawa Timur dengan dukungan yang sangat luas dari struktur PCNU di provinsi tersebut.

Kalau Jawa Timur benar-benar solid pada satu kandidat sementara Jawa Tengah tetap terpecah tiga, maka Jawa Timur mempunyai keuntungan besar.

Peta sederhananya menjadi:

Jawa Timur: satu kandidat kuat.
Jawa Tengah: tiga kandidat memperebutkan basis yang sama.

Dalam kondisi seperti itu, Jawa Timur jelas lebih efisien secara politik.

Ada paradoks menarik di sini.

Jawa Tengah mungkin mempunyai lebih banyak figur yang dianggap layak memimpin PBNU. Tetapi dalam politik pemilihan, banyaknya figur tidak otomatis berarti besarnya kekuatan.

Jawa Timur justru memperlihatkan hukum sebaliknya: semakin sedikit kandidat internal yang bertarung, semakin mudah suara dikonsolidasikan.

Karena itu, pertanyaan terpenting bukan berapa banyak tokoh hebat yang dimiliki sebuah wilayah, melainkan:

Berapa banyak suara yang akhirnya dapat diletakkan di belakang satu nama?

Tetapi jika situasinya berubah menjadi:

Jawa Timur: satu kandidat.
Jawa Tengah: satu kandidat hasil konsolidasi.

Maka Muktamar dapat berubah menjadi pertarungan dua blok besar.

Dan ketika dua blok besar Jawa saling berhadapan, suara luar Jawa menjadi jauh lebih penting.

Indonesia Timur, Sumatera, dan Kalimantan Bisa Menjadi Penentu

Inilah bagian yang sering kurang diperhatikan.

Jika Jawa Tengah dan Jawa Timur sama-sama mengerucut, maka suara dari Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali-Nusa Tenggara, Maluku, Papua, serta cabang luar negeri dapat berubah menjadi penentu kemenangan.

Bukan lagi sekadar pelengkap.

Nilai strategis mereka meningkat.

Kandidat yang ingin memenangkan PBNU tidak cukup hanya mengandalkan konsolidasi Jawa.

Ia harus mampu meyakinkan wilayah lain bahwa dirinya bukan hanya pemimpin untuk satu provinsi, satu pesantren, satu jaringan politik, atau satu kelompok elite.

Ketua Umum PBNU adalah pemimpin organisasi nasional.

Karena itu, siapa pun yang maju harus menjawab pertanyaan lebih besar:

Apa tempat Indonesia Timur dalam PBNU? Apa ruang Sumatera? Apa posisi Kalimantan? Bagaimana Maluku dan Papua diperlakukan?

Jangan sampai daerah hanya dikunjungi menjelang Muktamar, kemudian kembali menjadi penonton setelah pemilihan selesai.

Bagaimana Jika Prof. Nasaruddin Umar Masuk Arena?

Konfigurasi akan semakin menarik jika AGH Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar benar-benar masuk gelanggang.

Seorang kandidat dengan daya jangkau nasional tidak harus memenangkan seluruh Jawa Tengah atau Jawa Timur.

Ia cukup memastikan dua wilayah besar tersebut tidak sepenuhnya dikuasai satu lawan, sambil membangun kekuatan lintas wilayah.

Jika Jawa Tengah dan Jawa Timur sama-sama mengunci satu kandidat, Prof. Nas atau kandidat lain harus membangun poros ketiga.

Poros itu dapat bertumpu pada:

Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali-Nusa Tenggara, Maluku-Papua, PCINU luar negeri, serta cabang-cabang Jawa yang tidak masuk dalam dua arus utama.

Maka pertarungan tidak lagi sekadar duel.

Ia dapat berubah menjadi segitiga kekuatan nasional.

Dan dalam situasi seperti itu, suara Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur bukan lagi suara pinggiran.

Ia dapat menjadi bagian dari kelompok penentu.

Kunci Sesungguhnya: Siapa yang Mau Mengalah

Menurut saya, babak terpenting justru bukan ketika tiga kandidat menyatakan maju.

Babak penting akan muncul beberapa hari atau bahkan beberapa jam menjelang pemilihan.

Ketika data dukungan mulai terbaca, masing-masing kandidat akan menghadapi pilihan:

tetap maju dengan risiko saling menghabiskan, atau melakukan konsolidasi demi memenangkan satu figur yang dianggap paling mungkin diterima.

Di sinilah kebesaran seorang tokoh diuji.

Sebab dalam Muktamar, kadang orang yang menentukan kemenangan bukan hanya kandidat yang maju, tetapi kandidat yang tahu kapan harus mundur dan kepada siapa dukungannya diberikan.

Jika ego masing-masing lebih besar daripada kepentingan organisasi, tiga kandidat Jawa Tengah dapat saling melemahkan.

Tetapi jika komunikasi para kiai, pesantren, PWNU, dan PCNU menemukan titik temu, Jawa Tengah bukan mustahil berubah menjadi salah satu king maker terbesar Muktamar Ke-35.

Perhatikan 72 Jam Terakhir

Karena itu, saya justru akan memberikan perhatian terbesar pada 72 jam terakhir menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU.

Ada lima indikator penting yang perlu dilihat.

Pertama, apakah dukungan PCNU kepada Gus Yusuf tetap solid.

Kedua, ke mana arah komunikasi Gus Rozin dan jaringan PWNU Jawa Tengah.

Ketiga, apakah Gus Yahya mampu menarik kembali dukungan struktural Jawa Tengah ke orbit petahana.

Keempat, apakah Jawa Timur benar-benar mengerucut kuat pada Gus Kikin.

Kelima, ke mana suara luar Jawa bergerak jika Jawa Tengah dan Jawa Timur sama-sama terkonsolidasi.

Lima indikator itu jauh lebih berguna daripada sekadar membaca siapa yang paling ramai di media.

Sebab pada akhirnya:

Muktamar bukan survei popularitas.

Yang memilih bukan warganet.

Yang menentukan adalah pemilik hak suara sesuai mekanisme Muktamar.

Dan pilihan itu masih dapat berubah sampai saat-saat terakhir.

Penutup: Jangan Terkejut Jika Tiga Menjadi Satu

Karena itu, saya tidak akan terkejut apabila tiga kandidat Jawa Tengah yang hari ini terlihat berhadapan pada akhirnya tinggal satu.

Yang menarik bukan hanya siapa yang bertahan.

Tetapi juga:

Siapa yang pertama mundur? Kepada siapa dukungannya diserahkan? Konsolidasi apa yang terjadi di belakangnya? Dan bagaimana reaksi cabang-cabang di luar Jawa?

Jika Gus Yahya, Gus Yusuf, dan Gus Rozin terus bertahan hingga akhir, Jawa Tengah berisiko menjadi medan perebutan suara sendiri.

Tetapi kalau dua di antaranya mampu menekan ego dan menemukan satu titik temu, situasinya berbalik.

Jawa Tengah bukan lagi sekadar medan pertempuran.

Jawa Tengah berubah menjadi salah satu penentu siapa yang akan memimpin PBNU lima tahun berikutnya.

Dan pada saat itulah judul tulisan ini memperoleh makna sebenarnya:

Tiga Kandidat dari Jawa Tengah: Berebut Suara Sendiri atau Sedang Mengepung PBNU?

Jawabannya mungkin baru terlihat ketika pintu Muktamar hampir ditutup.

Sebab politik Muktamar mempunyai satu hukum yang sering berulang:

“Jangan hanya hitung siapa yang maju. Hitung pula siapa yang akhirnya bersedia mundur—karena suara orang yang mundur terkadang justru menentukan siapa yang menang.”

Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis
Makmur Idrus Assegaf
Aktivis NU/Mantan Auditor Pemerintah