Assalamu’alaikum, Pak IAS.
Hari ini engkau genap 61 tahun.
Kami tidak ingin membacanya sekadar sebagai angka. Sebab bagi kami, 61 bukan penutup sebuah perjalanan. Ia adalah pintu. Sebuah awal baru untuk perjalanan yang lebih panjang.
Dan dari tempat kami berdiri, ada satu kalimat yang ingin kami tegaskan:
BARAK 145 tidak berubah.
Hari ini kami mungkin tidak datang membawa kerumunan.
Tidak ada barisan panjang. Tidak ada panggung. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada tangan yang kami jabat, atau foto yang kami abadikan.
Tetapi jangan pernah membaca kesunyian sebagai kehilangan.
Sebab tidak terlihat bukan berarti tidak ada.
Tidak bersuara bukan berarti tidak bergerak.
Dan tidak berdiri di depan bukan berarti meninggalkan perjuangan.
Ada saatnya barisan harus turun dari panggung untuk kembali menyusun kekuatan.
Ada saatnya suara harus dipelankan agar arah perjuangan terdengar lebih jelas.
Dan ada saatnya persaudaraan diuji bukan oleh keramaian, melainkan oleh kesetiaan ketika tidak ada yang melihat.
Kami masih di sini, Pak.
Kami membawa ingatan tentang perjalanan yang pernah kita lalui.
Tentang meja-meja tempat gagasan dilahirkan. Tentang tawa dan perdebatan. Tentang kemenangan dan kekecewaan. Tentang mereka yang pernah berdiri dalam satu lingkaran, lalu memilih jalan masing-masing.
Itulah kehidupan.
Ada yang datang untuk tinggal.
Ada yang datang untuk singgah.
Ada yang memilih berjalan bersama.
Ada pula yang akhirnya memilih arah berbeda.
Kami tidak ingin menghakimi perjalanan siapa pun.
Sebab waktu memiliki caranya sendiri untuk menjelaskan siapa yang benar-benar bertahan dan siapa yang hanya pernah singgah.
Tetapi dari perjalanan itu kami belajar satu hal:
barisan boleh berubah, wajah boleh berganti, strategi boleh berkembang—tetapi nilai perjuangan tidak boleh mati.
Itulah BARAK 145.
Kami tidak mengklaim bahwa kami tidak pernah berubah.
Kami berubah dalam cara berpikir.
Kami berkembang dalam cara bergerak.
Kami belajar membaca zaman.
Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah kami tinggalkan:
persaudaraan.
Dan ada satu nilai yang selalu kami jaga:
Siri’.
Siri’ bagi kami bukan sekadar kata yang diucapkan dalam pidato.
Ia adalah kehormatan.
Ia adalah martabat.
Ia adalah keberanian untuk menjaga nama baik persaudaraan.
Ia adalah kesanggupan untuk tetap berdiri ketika keadaan tidak lagi memberikan tepuk tangan.
Karena itu, pada usia 61 tahunmu hari ini, kami ingin mengucapkannya dengan suara yang lebih tegas:
KAMI ADALAH PENJAGA SIRI’ ILHAM ARIF SIRAJUDDIN.
Penjaga bukan berarti membenarkan segala sesuatu tanpa batas.
Penjaga bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan.
Tetapi penjaga atas kehormatan persaudaraan, nilai perjuangan, dan nama baik yang telah dibangun dari perjalanan panjang.
Pak IAS,
61 tahun adalah usia yang matang untuk memahami masa lalu, tetapi masih cukup muda untuk memulai perjalanan yang baru.
Masih banyak jalan yang belum ditempuh.
Masih banyak gagasan yang belum selesai.
Masih banyak cita-cita yang menunggu untuk diwujudkan.
Karena itu, kami tidak ingin menjadikan hari ulang tahun ini sekadar seremoni.
Kami ingin menjadikannya sebagai tanda dimulainya babak baru.
Babak ketika langkah harus dimantapkan.
Barisan harus dikonsolidasikan.
Jaringan harus diperkuat.
Dan energi persaudaraan harus dikembalikan ke jalan perjuangan.
Hari ini BARAK 145 telah melakukan konsolidasi.
Dari konsolidasi itu, kami menemukan sebuah nama untuk semangat gerakan yang ingin kami hidupkan:
CELEBES YELLOW COMMAND
KOMANDO KUNING SULAWESI
Kuning bukan sekadar warna.
Ia adalah keberanian untuk terlihat.
Ia adalah energi untuk bergerak.
Ia adalah semangat untuk menyatukan simpul-simpul yang selama ini tersebar.
Dan Command adalah pesan bahwa gerakan membutuhkan arah, disiplin dan keberanian mengambil langkah.
Kami ingin membawa semangat ini keluar dari ruang-ruang pertemuan.
Masuk ke lorong-lorong kehidupan.
Menyentuh komunitas.
Menguatkan jaringan pemuda.
Membangun persaudaraan.
Dan menghidupkan kembali energi perjuangan di tengah masyarakat.
Celebes Yellow Command bukan sekadar nama baru. Ia adalah cara baru untuk menghidupkan semangat lama.
Semangat BARAK 145.
Semangat persaudaraan.
Semangat solidaritas.
Semangat untuk terus bergerak.
Pak IAS,
kami tidak tahu seberapa panjang perjalanan di depan.
Kami tidak tahu berapa banyak tikungan yang akan kita lewati.
Kami tidak tahu berapa banyak rintangan yang akan menghadang.
Tetapi kami tidak gentar terhadap panjangnya jalan.
Sebab kami percaya:
perjalanan besar tidak pernah dibangun oleh mereka yang hanya berani berjalan ketika jalan sedang terang.
Perjalanan besar dibangun oleh mereka yang tetap melangkah ketika jalan mulai sunyi.
Maka kami akan berjalan.
Selangkah demi selangkah.
Simpul demi simpul.
Kota demi kota.
Persaudaraan demi persaudaraan.
Sampai cita-cita yang engkau tanam menemukan jalannya.
Kami ingin melihat Ilham Arif Sirajuddin sampai pada apa yang dicita-citakannya.
Dan kami ingin menjadi bagian dari perjalanan itu.
Bukan sekadar penonton.
Bukan sekadar penggembira.
Tetapi sebagai saudara seperjalanan.
Sebab bagi kami, perjuangan bukan tentang siapa yang paling ramai ketika panggung sedang terang.
Perjuangan adalah tentang siapa yang tetap memegang tangan persaudaraan ketika perjalanan mulai panjang.
Pak IAS,
mungkin suatu hari banyak orang akan lupa siapa yang pernah datang ketika suasana sedang ramai.
Tetapi kami berharap engkau tidak melupakan mereka yang memilih tetap menjaga persaudaraan ketika suasana mulai sunyi.
Jika suatu hari engkau bertanya:
“Di mana BARAK 145?”
Jawabannya sederhana:
Kami ada.
Kami mungkin tidak selalu terlihat.
Kami mungkin tidak selalu bersuara.
Tetapi kami tetap berjalan.
Karena BARAK bukan sekadar barisan.
BARAK adalah ikatan.
Dan ikatan yang dibangun oleh persaudaraan tidak mudah diputus oleh perubahan zaman.
Hari ini kami menamainya:
CELEBES YELLOW COMMAND.
Komando Kuning Sulawesi.
Tetapi nama boleh berubah.
Cara bergerak boleh berkembang.
Generasi boleh berganti.
Yang tidak boleh hilang adalah jiwa perjuangan.
Siri’ persaudaraan.
Pak IAS,
selamat ulang tahun ke-61.
Semoga Allah memberi panjang umur dalam keberkahan, kesehatan dalam perjalanan, ketenangan dalam setiap keputusan, dan kekuatan untuk menuntaskan seluruh cita-cita yang masih terbentang di depan.
Jika ada luka, semoga waktu menyembuhkannya.
Jika pernah ada pengkhianatan, semoga ia tidak mengubah kebaikan menjadi kebencian.
Jika jalan masih panjang, semoga langkah selalu dikuatkan.
Sebab 61 tahun bukan akhir.
Ini adalah panggilan untuk memulai kembali.
Perjalanan kita belum selesai.
Jalan masih terbentang.
Cita-cita masih menunggu.
Dan BARAK 145 telah memantapkan langkahnya.
Hari ini kami berdiri dengan nama baru untuk semangat gerakan itu: CELEBES YELLOW COMMAND.
Namun dengan jiwa yang sama.
Dengan persaudaraan yang sama.
Dengan keberanian yang sama.
Dan dengan satu keyakinan bahwa perjalanan ke depan harus ditempuh bersama.
Pak IAS…
Jika suatu hari nanti engkau kembali bertanya:
“Apakah BARAK masih bersama saya?”
Tidak perlu kami jawab dengan pidato panjang.
Cukup satu kalimat: KAMI ADALAH BARAK 145. KAMI ADALAH CELEBES YELLOW COMMAND.
KAMI ADALAH PENJAGA SIRI’ ILHAM ARIF SIRAJUDDIN.
Dan selama perjalanan itu masih panjang, kami akan tetap berjalan bersama IAS, di setiap langkahnya.
Penulis: Illank Radjab
Ketua Umum BARAK 145





