Viral Mahasiswa Histeris Diduga Batal Ujian Skripsi 12 Kali, Kampus Buka Suara

BERANDANEWS — Kupang, Sebuah video emosional memperlihatkan seorang mahasiswa tersungkur dan menangis histeris di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendadak tular di media sosial.

Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang tersebut diduga mengalami guncangan psikis usai ujian skripsinya dikabarkan batal hingga 12 kali.

Dalam rekaman video yang beredar pada Jumat (31/7/2026), terlihat mahasiswa tersebut meronta di lantai sembari berteriak pilu, sementara seorang perempuan berupaya keras merangkul dan menenangkannya. Akibat tekanan mental dan kondisi fisik yang drop, mahasiswa bernama Jessica itu kini harus mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Wira Sakti Kupang.

Pihak Kampus Bergerak Penelusuran
Menanggapi insiden memprihatinkan tersebut, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Undana, Rudi Rohi, menegaskan bahwa pihak pimpinan universitas telah merespons kasus ini bahkan sebelum videonya viral di dunia maya.

“Sehari sebelum beredar ramai, kami sudah menerima laporan. Kami langsung meminta pihak fakultas menindaklanjuti secara cepat untuk memastikan duduk perkara yang sebenarnya,” terang Rudi.

Sementara itu, Dekan FKM Undana, Apris Adu, membenarkan bahwa mahasiswa dalam video tersebut adalah anak didiknya. Pihaknya bersama jajaran pimpinan fakultas langsung menggelar rapat darurat sekaligus menjenguk kondisi Jessica di rumah sakit.

Fakultas Periksa Dosen Pembimbing dan Penguji
Apris menegaskan, pihak fakultas berkomitmen menyelesaikan persoalan ini secara transparan dan tuntas. Proses pengumpulan keterangan dari pihak dosen pembimbing telah mulai dilakukan untuk merangkai kronologi secara utuh.

Namun, klarifikasi terhadap dosen penguji yang terlibat sempat tertunda lantaran yang bersangkutan tengah dalam suasana duka.

“Kami sudah meminta keterangan dari dosen pembimbing. Untuk dosen penguji, karena masih ada kedukaan, pemanggilan dijadwalkan besok agar kami mendapatkan informasi yang berimbang,” ujar Apris, Jumat (31/7/2026).

Kasus ini pun memicu keprihatinan mendalam dari warganet, yang menyoroti pentingnya kepekaan empati akademisi terhadap kesehatan mental mahasiswa akhir saat menyelesaikan tugas akhir.(*)