KOLOM – Stop menormalisasi gagasan “satu kampus satu MBG”.
Banyak orang mungkin menganggap ini hanya urusan dapur dan makan gratis. Terlihat sederhana, bahkan tampak mulia. Namun justru di situlah letak persoalannya: kebijakan yang paling berbahaya sering kali datang dengan wajah yang paling ramah.
Kampus perlahan sedang diarahkan keluar dari jalur utamanya.
Perguruan tinggi dibangun untuk melahirkan teknokrat, ekonom, akuntan, ilmuwan, advokat, aktivis lingkungan, peneliti, dan pemimpin masa depan. Kampus adalah ruang lahirnya insan yang berpikir, menggugat, mencipta, dan mengoreksi arah negara ketika ia mulai kehilangan akal sehatnya.
Namun hari ini, ruang akademik justru mulai diseret menjadi bagian dari mesin operasional program negara. Dan yang lebih mengkhawatirkan, banyak yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang normal.
Program “satu kampus satu MBG” bukan sekadar soal distribusi makanan. Ini adalah bentuk disorientasi besar-besaran terhadap fungsi kampus. Mahasiswa perlahan dibiasakan sibuk mengurus hal-hal teknis dan administratif, sementara daya kritisnya dipelankan sedikit demi sedikit. Aktivis dibuat sibuk. Intelektual dibuat jinak. Kampus diarahkan menjadi ruang pelaksana, bukan ruang perlawanan gagasan.
Kampus tidak sedang kekurangan dapur. Yang sedang hilang justru keberanian berpikir.
Yang lebih ironis, semua ini dibungkus atas nama kepedulian sosial. Kritik terhadap program langsung dicap sebagai sikap anti-rakyat. Padahal persoalannya bukan pada makan gratisnya, melainkan pada batas yang mulai kabur antara kampus dan kekuasaan.
Sejarah menunjukkan pola yang sama: kampus tidak pernah dihancurkan secara langsung. Ia dibuat nyaman terlebih dahulu.
Hari ini mahasiswa diminta membantu program negara. Besok mereka dibiasakan patuh pada program negara. Lama-kelamaan, kampus kehilangan refleks kritisnya sendiri. Yang lahir bukan lagi intelektual progresif, melainkan generasi administratif yang merasa kontribusinya cukup diukur dari seberapa baik mereka menjalankan proyek kekuasaan. Dan itu berbahaya.
Negara tidak pernah benar-benar takut pada mahasiswa yang sibuk. Negara hanya takut pada mahasiswa yang berpikir.
Ketika kampus terlalu dekat dengan kekuasaan, ia mungkin tetap terlihat hidup. Gedungnya berdiri, seminar tetap ramai, spanduk idealisme masih terpasang. Namun isi kepalanya perlahan kosong. Kritik berubah menjadi formalitas. Aktivisme berubah menjadi seremoni.
Mahasiswa tidak lagi dipersiapkan sebagai pengontrol negara, tetapi dipoles menjadi operator negara.
Ini bukan kemajuan. Ini adalah kemunduran yang dikemas secara modern.
Karena itu, menolak dapur MBG masuk kampus bukan berarti menolak rakyat, apalagi menolak kebutuhan sosial. Ini adalah upaya menjaga kampus tetap waras sebagai ruang independen yang melahirkan pemikir, bukan sekadar tenaga pelaksana program.
Sebab ketika kampus kehilangan independensinya, yang runtuh bukan hanya marwah akademik, tetapi juga masa depan keberanian bangsa itu sendiri.

Penulis:
Muh Fajar Nur, Demisioner Menteri Hukum & HAM DEMA UIN Alauddin Makassar Periode 2024






