Rupiah Tembus Rp17.716 per Dolar AS, IHSG Terseret Sentimen Global di Awal Perdagangan

Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah

BERANDANEWS – Jakarta, Tekanan terhadap pasar keuangan domestik kembali terlihat pada pembukaan perdagangan Selasa (19/5/2026).

Nilai tukar rupiah dibuka melemah tajam ke level Rp17.716 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut terkoreksi di tengah tekanan mayoritas mata uang Asia dan meningkatnya kehati-hatian investor global.

Mengacu pada data Bloomberg, rupiah turun 48 poin atau 0,27 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan ini menandai masih kuatnya dominasi dolar AS di pasar global, sekaligus menunjukkan tingginya tekanan eksternal terhadap mata uang emerging market, termasuk Indonesia.

Pergerakan mata uang Asia pada pagi ini mayoritas berada di zona merah. Won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,67 persen, diikuti rupee India yang turun 0,4 persen dan dolar Taiwan yang melemah 0,28 persen. Yen Jepang, dolar Singapura, dan baht Thailand juga tertekan terhadap dolar AS.

Di sisi lain, penguatan tipis hanya terjadi pada yuan China, peso Filipina, dan ringgit Malaysia, menandakan sentimen pasar kawasan masih cenderung defensif.

Tekanan di pasar valas turut menyeret pasar saham domestik. IHSG dibuka melemah 33,6 poin atau 0,51 persen ke level 6.573,165. Hingga pukul 09.03 WIB, indeks bergerak dalam rentang 6.560,128 hingga 6.612,320.

Meski demikian, aktivitas perdagangan terpantau cukup ramai. Sebanyak 1,4 miliar saham telah diperdagangkan melalui 122.034 transaksi dengan nilai mencapai Rp864 miliar. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat sebesar Rp11.479 triliun.

Secara sektoral, tekanan jual diperkirakan masih dipicu aksi wait and see investor terhadap arah kebijakan suku bunga global dan pergerakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang kembali menguat. Kondisi tersebut membuat aliran dana asing di pasar emerging market cenderung lebih selektif.

Pelaku pasar kini menanti respons Bank Indonesia terhadap volatilitas rupiah yang semakin mendekati level psikologis baru. Jika tekanan eksternal terus berlanjut, rupiah berpotensi kembali menghadapi tekanan dalam jangka pendek, terutama di tengah tingginya permintaan dolar AS di pasar global.(*)