BERANDANEWS – Maros, Duka mendalam menyelimuti keluarga Valent Alexy Tamboto, warga Moncongloe Lappara, Kabupaten Maros, yang dilaporkan meninggal dunia di Armenia.
Di tengah kesedihan keluarga, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros bergerak cepat mengupayakan pemulangan jenazah almarhum agar dapat dimakamkan di kampung halamannya.
Namun di balik upaya diplomasi dan koordinasi lintas lembaga, tersimpan kisah pilu yang menyentuh hati. Keluarga mengaku tidak pernah menyangka percakapan biasa melalui aplikasi Telegram menjadi komunikasi terakhir dengan Valen.
Adik korban, Arnold Tamboto, masih mengingat jelas momen terakhir berbincang dengan sang kakak pada dini hari sebelum kabar duka datang menghantam keluarga.
“Setelah tanya kabar tengah malam, komunikasi kami terputus. Besok paginya saya kirim pesan lagi, tapi Telegram-nya hanya centang satu. Siang saya chat lagi masih centang satu. Sore juga begitu. Sampai malam tetap centang satu,” kenangnya.
Saat itu Arnold tidak menaruh curiga. Ia mengira sang kakak sedang beristirahat karena bertepatan dengan hari libur kerja.
Namun semua berubah sekitar pukul 23.30 WITA.
Sebuah panggilan telepon dari pamannya menjadi awal kabar yang tak pernah ingin didengarnya.
“Noe, kamu sudah siap dengar ini? Kakakmu meninggal.”
Kalimat singkat itu membuat Arnold terpaku.
“Saya langsung syok. Saya hanya diam setelah mendengar itu,” tuturnya dengan suara bergetar.
Tak lama kemudian, ia kembali menerima panggilan yang disambungkan dengan kekasih Valen untuk memastikan kabar tersebut.
Sejak saat itu, suasana duka menyelimuti keluarga yang masih sulit menerima kenyataan bahwa orang yang beberapa jam sebelumnya masih sempat berkabar kini telah tiada.
Pemkab Maros Turun Tangan
Mendapat informasi meninggalnya salah seorang warganya di luar negeri, Bupati Maros AS Chaidir Syam langsung mengambil langkah cepat.
Pemerintah daerah menginstruksikan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Maros untuk mendatangi rumah duka, memberikan pendampingan kepada keluarga, sekaligus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait proses pemulangan jenazah.
Chaidir juga mengaku telah meminta bantuan anggota DPR RI asal Sulawesi Selatan, Ashabul Kahfi dan Uya Kuya, agar turut mengawal penanganan kasus tersebut melalui komisi yang membidangi pekerja migran Indonesia.
“Kami berharap seluruh proses dapat berjalan dengan baik. Harapan kami tentu jenazah almarhum dapat dipulangkan ke Indonesia agar bisa dimakamkan di kampung halamannya bersama keluarga,” kata Chaidir.
Pemkab Maros juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) yang saat ini terus berkomunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang menangani wilayah Armenia.
Menanti Kepastian dari Armenia
Hingga kini, penyebab pasti meninggalnya Valen masih dalam proses penyelidikan aparat penegak hukum Armenia.
Keluarga mengaku menerima sejumlah informasi mengenai dugaan pelaku yang disebut-sebut merupakan rekan kerja korban. Namun informasi tersebut masih bersifat awal dan belum dapat dipastikan kebenarannya.
Arnold menyebut salah satu orang yang dicurigai dalam kasus tersebut merupakan warga Makassar yang juga dikenal sebagai teman sekamar korban sekaligus pihak yang merekrut Valen bekerja di Armenia.
Meski demikian, keluarga memilih menunggu hasil investigasi resmi dari aparat berwenang.
Sementara itu, Pemkab Maros memastikan akan terus mengawal perkembangan kasus tersebut dan menyampaikan setiap informasi resmi kepada keluarga korban.
Harapan Terakhir Keluarga
Di tengah ketidakpastian yang masih menyelimuti kasus ini, satu harapan besar terus dipanjatkan keluarga.
Mereka ingin Valen segera dipulangkan ke tanah kelahirannya.
Bagi keluarga, kepulangan jenazah bukan sekadar proses administratif, tetapi kesempatan terakhir untuk mengantar anak, kakak, dan anggota keluarga yang mereka cintai ke peristirahatan terakhir dengan layak.
“Kami memohon doa seluruh masyarakat agar proses pemulangan jenazah dapat berjalan lancar dan keluarga diberikan kekuatan menghadapi cobaan ini,” ujar Chaidir.
Kini, di sebuah rumah duka di Maros, keluarga terus menanti kabar baik dari negeri yang berjarak ribuan kilometer itu. Menanti kepulangan Valen yang sempat pergi merantau demi masa depan, namun justru kembali dalam kabar yang menyisakan luka mendalam.(*)





