Menyembelih Ego di Era Algoritma: Antara Kesalehan Kurban dan Berburu “Likes”

KOLOM – Hari Raya Idul Adha sejatinya adalah hari Nahr—hari penyembelihan. Secara historis dan teologis, esensi utama dari ritual ini adalah mematikan ego kebinatangan dalam diri manusia melalui simbolisasi penyembelihan hewan ternak.

Selama berabad-abad, para ulama telah merumuskan literatur yang luar biasa kaya, menulis berbondong-bondong kitab fikih kurban demi menjaga agar syariat ini berjalan di atas rel yang benar. Mulai dari syarat kesehatan hewan, adab menyembelih, hingga tata cara distribusi, semua diatur dengan sangat ketat demi satu tujuan luhur: menghadirkan ketakwaan yang murni.

Namun, ketika ritual sakral ini memasuki ruang digital yang serba visual, kita menyaksikan sebuah pergeseran yang mencemaskan. Di tengah masyarakat modern, aktivitas kurban perlahan mengalami desakralisasi, bergeser dari ruang ibadah yang khusyuk menuju ruang komodifikasi konten. Kegiatan menyembelih yang seharusnya mematikan ego, dalam realitasnya, justru sering kali melahirkan ego baru: ego digital demi meraup limpahan likes, views, dan validasi publik.

Dalam lanskap media sosial hari ini, ada kecenderungan di mana sebuah peristiwa dianggap tidak eksis jika tidak didokumentasikan dan diunggah. Celakanya, logika industri digital ini mentah-mentah diadopsi dalam ibadah kurban, sehingga prosesi yang sakral bertransformasi menjadi sebuah festival visual belaka. Kita tentu familier dengan pemandangan di linimasa menjelang dan saat Idul Adha, di mana seseorang berfoto pamer di samping sapi berukuran jumbo dengan takarir (caption) yang dibungkus humor atau dalil, seolah menegaskan status sosialnya ke hadapan netizen.

Di titik inilah paradoks itu terjadi; hewan ternak memang roboh dan mati disembelih, namun di saat yang sama, ego sang pengurban justru hidup kembali dengan wajah baru yang lebih angkuh wajah narsisme digital.

Dampaknya tidak sepele, karena riuhnya pemburuan konten ini sering kali membuat makna dan aturan ketat dalam fikih kurban terabaikan begitu saja. Demi tuntutan sudut kamera (angle) terbaik untuk video berdurasi pendek di Reels atau TikTok, etika dan kenyamanan hewan sering kali dinomor-duakan.

Kamera ponsel bergulir tanpa henti, merekam kepanikan hewan, detik-detik darah mengalir, hingga hewan tersebut tumbang. Semua dieksploitasi atas nama kebaruan (novelty) konten tanpa memedulikan lagi kekhusyukan ritual.

Fenomena ini tidak berhenti pada prosesi penyembelihan belaka, melainkan telah mengomodifikasi seluruh rantai pasok kurban menjadi konten interaktif. Mulai dari fase memilih hewan di kandang yang estetik, prosesi penyembelihan yang dramatis, momen pengulitan, hingga ketika daging tersebut bertransformasi menjadi hidangan sate, coto, atau konro di atas meja makan, semuanya terekspos tanpa jeda.

Garis batas antara syiar agama dan eksibisionisme pun menjadi sangat kabur. Syiar bertujuan menginspirasi orang lain untuk ikut berbagi, sementara eksibisionisme bertujuan menarik perhatian pada siapa yang berbagi. Ketika fokus utama bergeser pada jumlah interaksi di kolom komentar, substansi ibadah kurban sebagai media refleksi atas kepatuhan Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail menjadi luntur, terjebak menjadi sekadar komoditas hiburan tahunan.

Tentu saja, refleksi ini tidak bermaksud menghakimi setiap orang yang mendokumentasikan aktivitas mereka, karena teknologi pada dasarnya adalah alat yang netral. Namun, yang perlu kita gugat bersama adalah hilangnya kesadaran (mindfulness) dalam beribadah. Menjadikan kurban sebagai konten tanpa dibarengi kedalaman refleksi akan menjebak kita pada apa yang disebut sebagai riya’ gaya baru—sebuah penyakit hati yang bertopeng di balik kecanggihan gawai. Fikih kurban yang ditulis oleh para ulama terdahulu bukan sekadar teks hukum kering, melainkan panduan agar manusia tetap membumi saat mendaki tangga spiritual, sekaligus mengingatkan bahwa Allah tidak menerima daging atau darah kurban, melainkan ketakwaan dari hamba-Nya.

Menghadapi era digital yang kian riuh, tantangan terbesar kita bukan lagi mencari hewan kurban terbaik secara fisik, melainkan bagaimana menyembelih ego digital kita sendiri. Kita perlu melakukan “re-sakralisasi” terhadap Idul Adha dengan menahan diri untuk tidak menjadikan setiap momen penyembelihan sebagai tontonan publik yang vulgar. Mari kembalikan Idul Adha ke khitahnya sebagai momentum kontemplasi yang sunyi antara hamba dan Sang Pencipta, serta aksi nyata solidaritas sosial bagi sesama di dunia nyata. Jangan sampai hewan kurban kita telah mati, namun ego narsistik kita justru makin gemuk dan merajai ruang digital.
Penulis
Muhammad Hidayat Lammi
Dosen Universitas Negeri Makassar