Mengenal Identitas Bissu bagi Masyarakat Bugis

Dalam sistem kepercayaan masyarakat Bugis keberadaan Bissu menjadi menarik untuk dibahas, terutama di tengah maraknya pro-kontra keberadaan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di Indonesia.

Keberadaan bissu dianggap sebagai bentuk afirmasi terhadap eksistensi LGBT. Namun perlu dilihat kembali sebab LGBT berbeda konteks dengan keberadaan bissu. Bahkan, masyarakat Bugis sendiri sejak dahulu tidak memperdulikan apa itu gender.

Diantara penelitian tentang gender dan bissu, Sharyn Graham Davies (2018) juga menyebutkan, identitas gender dalam suku Bugis tidak sekadar dilihat dari bilogis, namun berhubungan dengan karakter, subjektivitas, spiritual, dan yang paling utama peran dan tugasnya dalam struktur sosial masyarakat Bugis.

Menurut penelitian Sharyn Graham Davies (2018), masyarakat Bugis mengenal bissu sebagai manusia setengah dewa yang tidak boleh memiliki hasrat seksual, tidak diperkenankan menikah, dan apapun yang berkaitan dengan kepentingan pribadi yang bersifat “duniawi”, bissu harus melepaskan diri. Peran dan tanggung jawab utamanya adalah mengabdi kepada Dewata (Tuhan). Dengan kata lain kehadiran Bissu, bagi masyarakat Bugis sangatlah disakralkan.

Peranan bissu dalam masyarakat Bugis, pertama kali, kita dapat melacak keberadaannya melalui pengisahan dalam epos I Lagaligo yang mengungkapkan, salah satu manusia pertama yang turun ke bumi, yakni seorang bissu. Turunnya bissu ke bumi diceritakan sebagai awal mula terciptanya suatu peradaban.

“Tengah hari cuaca gelap gulita, taufan dan badai turun. Puang matoa dari Lae-Lae, I We Salareng dan We Apanglangi, kepala bissu dari Ware dan Luwu turun ke bawah dengan perlengkapannya, taufan dan badaipun reda.”(Kern, 1989: 34).

Kutipan di atas menjelaskan keberadaan bissu di dunia sebagai penghapus ‘bencana’ yang ditunjukkan melalui frasa taufan dan badaipun berlalu setelah turunnnya bissu. Masyarakat Bugis percaya bahwa manusia pertama yang turun ke bumi didampingi oleh bissu. I We Salareng dan We Apanglangimerupakan bissupertama yang kehadirannya menjadi pendamping Raja Luwu yakni Batara Guru yang merupakan putra sulung dari Maharaja Agung di Kayangan yang diturunkan dari langit ke Luwu.

Bissu sebagai pelengkap kesempurnaan para tokoh utama yang dianggap manusia istimewa seperti yang terungkap dalam I Lagaligo. Hal itu membuktikan pentingnya keberadaan bissu dalam kepercayaan leluhur masyarakat Bugis.

Secara umum peran dan tugas bissu melingkupi semua lini kehidupan manusia. Mulai dari sosial, ekonomi, budaya, dan spiritualitas yang terhubung dengan yang transenden, alam, dan manusia. Dengan kata lain, peranan bissumenjadi inti terwujudnya suatu kestabilan.

Hamonic (1987) dalam salah satu penelitiannya tentang bissu menyebutkan, masyarakat Bugis sangat menghormati bissu karena mereka memiliki pengetahuan tentang adat istiadat, tradisi, silsilah keluarga, kehidupan sosial di dunia nyata dan para dewata, menguasai pengobatan dan mistik.

Sementara itu, jika tetap ingin ditarik pada konteks gendernya. Identitas gender bissu dapat dijelaskan dengan melihat adanya gabungan elemen laki-laki dan perempuan dalam diri bissu.

Unsur laki-laki dan perempuan dalam satu tubuh itu menjadikannya sempurna sehingga dianggap sebagai wakil Dewata karena terdapat keseimbangan. Oleh sebab itu, individu-individu yang secara fisik maupun karakter bersifat androgini dapat dianggap sebagai calon bissu.

Pembentukan gender bissu tidak begitu saja terwujud. Mereka harus melalui beragam ritual, misal dalam ritual pengangkatannya yang dikenal dengan ritual irebba.

Dalam ritual itu, calon bissu melakukan perjalanan ke alam roh dan ketika dalam perjalanan turun ke bumi menurut Sharyn Graham Davies(2018) bissu harus berwujud “laki-laki dan perempuan”. Menurutnya, itu bukan berarti bissu terbagi menjadi laki-laki dan perempuan seperti orang kebanyakan, tetapi tetap sebagai kombinasi keduanya. Perpaduan itulah yang mengikat hubungan bissu dengan dunia roh, demikian di lansir dari Lontar.id