BERANDANEWS – Makassar, Peta persaingan menuju kursi Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan semakin terang. Politisi senior Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dikabarkan segera menerima surat diskresi dari Ketua Umum DPP Golkar, Bahlil Lahadalia, yang membuka jalan bagi dirinya untuk maju dalam Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulsel.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sumber internal partai, surat diskresi tersebut dijadwalkan diserahkan di Kantor DPP Golkar, Jakarta, pada Rabu (24/6/2026).
“Sore ini diserahkan diskresi di DPP,” ujar sumber internal yang mengetahui agenda tersebut.
Pemberian hak prerogatif dari Ketua Umum Golkar itu disebut merupakan hasil pertemuan intensif antara Bahlil Lahadalia, Plt Ketua DPD I Golkar Sulsel Muhidin M Said, dan IAS yang berlangsung pada Selasa (23/6/2026) malam.
Langkah tersebut dinilai sebagai solusi organisasi agar mantan Wali Kota Makassar dua periode itu dapat memenuhi syarat pencalonan dan mendaftarkan diri secara resmi dalam forum Musda DPD I Golkar Sulsel.
Musda Digelar Awal Juli
Setelah surat diskresi diterbitkan, jajaran pengurus DPP dan DPD Golkar disebut akan segera memfinalisasi berbagai persiapan teknis pelaksanaan Musda. Forum pemilihan ketua baru Golkar Sulsel itu direncanakan berlangsung pada awal Juli 2026.
“Untuk jadwal Musda-nya awal Juli,” ungkap sumber tersebut.
Informasi mengenai kemungkinan keluarnya diskresi untuk IAS sebenarnya telah beredar sejak pertengahan Juni lalu. Sejumlah pengurus Golkar bahkan menyebut proses penerbitan surat tersebut sudah berjalan sejak beberapa pekan terakhir.
Meski demikian, Plt Ketua DPD I Golkar Sulsel, Muhidin M Said, sebelumnya memilih irit bicara terkait sosok yang mendapat restu dari DPP.
“Coba tanyakan ke Pak Ilham,” kata Muhidin pada 18 Juni 2026 lalu.
Duel IAS vs Andi Ina Kian Menguat
Sementara itu, Plt Wakil Sekretaris DPD I Golkar Sulsel, Arief Rosyid Hasan, menegaskan bahwa bursa calon Ketua Golkar Sulsel hingga kini masih mengerucut pada dua figur utama, yakni Ilham Arief Sirajuddin dan Andi Ina Kartika Sari.
Menurut Arief, salah satu kandidat memang diproyeksikan memperoleh surat diskresi dari Ketua Umum sebagai jalan keluar atas kendala administratif dukungan.
“Iya, tidak berubah. Andi Ina dan IAS, sama seperti informasi sebelumnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, mekanisme diskresi merupakan langkah konstitusional yang dapat ditempuh partai untuk mengakomodasi kepentingan strategis organisasi. Opsi tersebut muncul setelah dukungan dari DPD II Golkar kabupaten/kota kepada IAS disebut belum mencapai ambang batas minimal 30 persen yang dipersyaratkan untuk pencalonan.
“Dua kandidat akan bertarung, satu kandidat sepertinya akan memperoleh diskresi,” kata Arief.
Dengan terbitnya surat diskresi tersebut, kontestasi Musda Golkar Sulsel diperkirakan akan berlangsung lebih kompetitif.
Pertarungan kini mengarah pada duel dua figur berpengaruh di internal partai, yakni IAS dan Andi Ina Kartika Sari, untuk memperebutkan tampuk kepemimpinan Golkar Sulsel periode mendatang.
Musda awal Juli nanti pun diprediksi menjadi arena penentu arah konsolidasi dan peta kekuatan Partai Golkar di Sulawesi Selatan menjelang agenda politik nasional berikutnya.(*)





