KOLOM — Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 memasuki babak akhirnya, Senin, 31 Agustus 2026. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan kembali hadir di Jombang untuk menutup perhelatan lima tahunan NU tersebut. Sebelumnya, Prabowo juga membuka Muktamar pada 27 Agustus 2026.
Muktamar telah menghasilkan dua pucuk pimpinan baru PBNU masa khidmat 2026–2031. KH Miftachul Akhyar kembali ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU melalui musyawarah sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Sementara itu, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031. Dalam tahap penjaringan, Gus Kikin juga menunjukkan dominasi kuat dengan memperoleh 472 suara, jauh meninggalkan kandidat-kandidat lainnya.
Tetapi setiap kemenangan besar hampir tidak pernah lahir hanya karena figur kandidat.
Di belakangnya terdapat komunikasi, jaringan, konsolidasi, serta kemampuan membaca arah suara dari PWNU, PCNU hingga para kiai. Dalam konteks kemenangan Gus Kikin, menurut pembacaan saya dari dinamika yang berlangsung di arena Muktamar, ada dua “pendekar” yang menarik diperhatikan: Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dan Nusron Wahid.
Gus Ipul: Pendekar Konsolidasi
Gus Ipul berada pada posisi yang sangat strategis. Ia Sekretaris Jenderal PBNU sekaligus Ketua Panitia Pelaksana Muktamar ke-35. Sejak jauh hari ia terlibat langsung dalam konsolidasi serta persiapan Muktamar.
Hubungan komunikasi Gus Ipul dengan Gus Kikin juga terlihat terbuka. Pada awal Agustus, ketika meninjau persiapan Muktamar di Tambakberas, keduanya bahkan bersama-sama menyerukan semangat “Kembali ke Muassis.”
Karena itu, dalam membaca kemenangan Gus Kikin, sulit mengabaikan posisi dan kemampuan komunikasi Gus Ipul.
Ia bukan tipe pemain yang harus selalu berdiri di depan panggung. Dalam politik organisasi, justru orang yang mampu menjembatani kiai, struktur, cabang dan berbagai kelompok sering kali jauh lebih menentukan dibanding orang yang paling banyak berbicara.
Nusron Wahid: Pendekar Jaringan
Figur kedua adalah Nusron Wahid.
Menariknya, nama Nusron sendiri memperoleh 207 suara dalam penjaringan calon Ketua Umum PBNU. Angka tersebut menunjukkan bahwa Nusron mempunyai jaringan dan tingkat penerimaan yang tidak kecil di kalangan peserta Muktamar.
Namun Nusron tidak dapat melanjutkan pencalonannya karena masih memegang jabatan politik. Ia sendiri menyatakan bahwa menjadi Ketua Umum PBNU bukan maqamnya saat ini dan khidmat kepada NU tidak harus melalui jabatan Ketua Umum.
Justru di sinilah menariknya membaca posisi Nusron.
Seseorang yang bisa memperoleh lebih dari dua ratus usulan suara tanpa kemudian menjadi kandidat final tentu mempunyai jaringan komunikasi yang patut diperhitungkan. Pertanyaan politiknya kemudian adalah: ke mana jaringan tersebut bergerak ketika Nusron tidak dapat melanjutkan pencalonan?
Di sinilah analisis mengenai kontribusinya terhadap konfigurasi kemenangan Gus Kikin menjadi menarik untuk didalami.
Kemenangan Bukan Kerja Satu Orang
Gus Kikin tetap merupakan faktor utama dari kemenangannya sendiri. Ia Ketua PWNU Jawa Timur, pengasuh Pesantren Tebuireng, mempunyai basis kultural kuat, dan sejak awal pencalonannya memperoleh dukungan dari konsolidasi PWNU Jawa Timur.
Tetapi Muktamar mengajarkan satu hal: kandidat boleh satu orang, tetapi kemenangan selalu merupakan hasil kerja jaringan.
Kalau Gus Kikin adalah pemain yang akhirnya mencetak gol, maka sangat mungkin ada orang-orang yang mengatur ritme permainan, membuka ruang, menjaga pertahanan, dan memberikan umpan.
Dalam pembacaan saya, Gus Ipul dan Nusron Wahid adalah dua nama yang layak disebut ketika kita membicarakan orang-orang yang ikut menentukan arah permainan tersebut.
Mereka bekerja dengan karakter berbeda.
Gus Ipul memainkan konsolidasi dan komunikasi struktur. Nusron memainkan kekuatan jaringan dan komunikasi politik.
Dan akhirnya Gus Kikin yang berdiri di podium sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031.
Muktamar telah selesai memilih pemimpin.
Sekarang tantangannya jauh lebih berat: apakah kemenangan itu mampu mengembalikan persatuan, memperkuat kemandirian PCNU dan PWNU, serta membawa NU kembali fokus kepada pelayanan umat?
Sebab memenangkan Muktamar mungkin membutuhkan beberapa hari.
Tetapi memenangkan hati warga NU membutuhkan kerja lima tahun.






