KOLOM – Menilai diskresi sebagai “GPS darurat” atau kompas penyelamat di tengah ketidakpastian jadwal Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan merupakan perspektif yang menarik untuk dicermati. Dalam konteks ini, peluang Ilham Arief Sirajuddin (IAS), yang akrab disapa Pak Aco, menjadi salah satu figur sentral yang patut diperhitungkan.
Jika dicermati lebih dalam, terdapat sejumlah alasan mengapa Pak Aco dinilai memiliki modal politik yang kuat dalam dinamika internal Golkar Sulsel.
Kepemimpinan yang Teruji
Pak Aco bukanlah sosok baru dalam memimpin organisasi besar. Pengalamannya sebagai Wali Kota Makassar selama dua periode menjadi bukti kapasitasnya dalam mengelola birokrasi, merumuskan kebijakan publik, dan membangun jaringan pemerintahan yang luas.
Di ranah kepartaian, rekam jejaknya juga cukup panjang. Ia pernah memimpin Golkar Kota Makassar dan Partai Demokrat Sulawesi Selatan. Kombinasi pengalaman pemerintahan dan kepartaian ini menjadikannya figur yang dinilai memiliki kesiapan untuk menjaga stabilitas organisasi sekaligus memperkuat konsolidasi partai di daerah.
Bagi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar, figur dengan pengalaman yang matang dan kemampuan manajerial yang teruji sering kali dianggap sebagai pilihan yang relatif aman untuk menghadapi dinamika politik yang kompleks.
Gaya Politik Sombere’ dan Kekuatan Modal Sosial
Dalam kultur politik Sulawesi Selatan, karakter sombere’ ramah, terbuka, dan dekat dengan masyarakat bukan sekadar citra politik, melainkan modal sosial yang memiliki nilai strategis.
Kemampuan Pak Aco membangun komunikasi yang cair dan natural membuatnya diterima oleh berbagai kalangan. Baik dalam pertemuan informal di warung kopi maupun dalam forum-forum politik yang lebih formal, ia mampu menjaga kedekatan dengan masyarakat sekaligus membangun komunikasi yang efektif dengan para elite politik.
Modal sosial seperti ini sering kali bertransformasi menjadi loyalitas politik yang relatif stabil, terutama dalam proses konsolidasi internal partai.
Menjahit Komunikasi Lintas Generasi
Salah satu tantangan terbesar partai politik saat ini adalah menjembatani kepentingan generasi senior dengan kelompok milenial dan Gen Z yang memiliki karakteristik politik berbeda.
Dalam konteks tersebut, kemampuan komunikasi yang adaptif menjadi faktor penting.
Figur yang mampu merangkul berbagai kelompok sekaligus menjaga harmoni internal memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan transisi kepemimpinan yang sehat tanpa menimbulkan fragmentasi atau faksionalisme di tubuh partai.
Kemampuan membangun jembatan komunikasi lintas generasi menjadi salah satu modal yang dapat memperkuat posisi Pak Aco dalam peta persaingan internal Golkar Sulsel.
Diskresi dan Pertimbangan Politik DPP
Meski demikian, politik internal Golkar tidak semata ditentukan oleh modal sosial, pengalaman, atau popularitas figur tertentu. Dalam praktiknya, keputusan strategis sering kali juga dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan di tingkat pusat.
Diskresi yang diberikan DPP dapat mempertimbangkan aspek keselarasan dengan agenda politik nasional, kebutuhan konsolidasi organisasi, hingga konfigurasi kekuatan para kandidat yang turut bersaing di Sulawesi Selatan.
Karena itu, dalam situasi ketika jadwal Musda belum menemukan kepastian atau menghadapi potensi kebuntuan, figur yang dinilai mampu menjaga stabilitas, memperkuat konsolidasi, serta meminimalkan gesekan internal biasanya memiliki nilai tambah di mata pengambil keputusan.
Pada titik inilah, Pak Aco dinilai memiliki sejumlah keunggulan yang dapat menjadi pertimbangan penting dalam dinamika politik Golkar Sulawesi Selatan ke depan.

Penulis:
Dr. Ibnu Hadjar Yusuf, M.I.Kom
Akademisi UIN Alauddin Makassar





