BERANDANEWS — Jeneponto, Dampak krisis energi kian mencekik warga Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Sepekan terakhir, masyarakat dihadapkan pada kelangkaan parah tabung gas LPG 3 kilogram (gas melon) yang disertai antrean panjang kendaraan yang mengular di sejumlah SPBU akibat tersendatnya pasokan BBM bersubsidi.
Selain harus menempuh jarak jauh ke penjual eceran demi mendapatkan pasokan gas, masyarakat ekonomi menengah ke bawah juga dibebani lonjakan harga yang tak terkendali.
Bakri, warga Kecamatan Bontoramba, mengeluhkan harga gas melon di tingkat pengecer yang melambung jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Harganya melambung tinggi. Normalnya Rp20 ribu, sekarang melonjak tembus Rp25 ribu sampai Rp35 ribu per tabung. Ini sangat meresahkan dan membebani kebutuhan dapur kami sehari-hari,” ungkap Bakri, Rabu (9/9/2026).
Kondisi ini kian memburuk dengan pemandangan antrean truk dan bus yang mengular hingga ke badan jalan di SPBU setempat. Kemacetan parah tak terhindarkan akibat pengemudi kendaraan besar harus mengantre hingga seharian demi mendapatkan solar subsidi.
Merespons hal tersebut, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jeneponto mendesak Pemerintah Daerah, Pertamina, dan aparat kepolisian segera melakukan inspeksi mendadak serta pengetatan pengawasan distribusi.
Ketua Umum HMI Cabang Jeneponto, Gunawan, mencurigai adanya praktik kecurangan atau indikasi penimbunan yang melibatkan oknum tidak bertanggung jawab.
“Kami patut mencurigai adanya pihak yang bermain, seperti dugaan pelangsiran solar subsidi menggunakan truk untuk dijual kembali ke pihak industri dengan harga non-subsidi. Polisi dan pemerintah jangan diam atau menunggu rakyat turun ke jalan baru bereaksi,” tegas Gunawan, Rabu (9/9/2026).
HMI Cabang Jeneponto mendesak aparat penegak hukum menindak tegas oknum spekulan dan memulihkan rantai pasok energi di Jeneponto agar harga dan ketersediaan BBM serta gas melon kembali stabil.(*)





