Jejak Ulama yang Menyatukan Ilmu, Akhlak, dan Pengabdian
KOLOM – Dua puluh tahun telah berlalu sejak Syekh Sayyid KH. Jamaluddin Assegaf, yang lebih dikenal dengan panggilan Puang Ramma, berpulang ke rahmatullah. Namun, kepergiannya tidak menghapus jejak perjuangan yang telah beliau tanamkan. Nama dan keteladanannya tetap hidup dalam ingatan keluarga, murid, jamaah, serta warga Nahdlatul Ulama di Sulawesi Selatan.
Haul bukan sekadar mengenang tanggal wafat seorang ulama. Haul merupakan momentum untuk membaca kembali perjalanan hidup, perjuangan, pemikiran, dan nilai-nilai yang diwariskan. Sebab, seorang ulama sejati boleh meninggalkan dunia, tetapi ilmu dan amal pengabdiannya terus bekerja melampaui usia biologisnya.
Puang Ramma dikenal sebagai sosok ulama yang memadukan kedalaman ilmu agama dengan kelembutan akhlak. Beliau tidak hanya menyampaikan ajaran Islam melalui mimbar dan pengajian, tetapi juga menghadirkannya dalam tindakan sehari-hari. Cara beliau bergaul, membimbing umat, menghormati sesama ulama, serta menjaga hubungan dengan masyarakat merupakan bagian dari dakwah yang nyata.
Dalam tradisi masyarakat Sulawesi Selatan, seorang ulama tidak cukup hanya pandai berbicara tentang agama. Ia harus menjadi panutan, tempat bertanya, sekaligus peneduh ketika umat menghadapi persoalan. Kedudukan seperti itulah yang dijalankan Puang Ramma. Beliau hadir bukan untuk membangun jarak dengan masyarakat, melainkan mendampingi dan menguatkan mereka.
Ketokohan Puang Ramma juga tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Nahdlatul Ulama di Sulawesi Selatan. Pada masa ketika sarana komunikasi, transportasi, dan kelembagaan belum berkembang seperti sekarang, para muassis berjuang dengan segala keterbatasan. Mereka bergerak dari pengajian ke pengajian, dari rumah ke rumah, serta dari satu daerah ke daerah lainnya untuk menanamkan paham Ahlussunnah wal Jamaah.
Perjuangan mereka tidak ditopang oleh fasilitas yang mewah. Modal utamanya adalah keikhlasan, keteguhan, jaringan silaturahmi, dan kepercayaan masyarakat. Mereka tidak bertanya apa yang akan diperoleh dari organisasi. Sebaliknya, mereka bertanya apa yang dapat diberikan untuk agama, umat, dan jam’iyah.
Puang Ramma merupakan bagian dari generasi yang membesarkan NU melalui pengabdian semacam itu. Organisasi ditempatkan sebagai sarana perjuangan, bukan kendaraan untuk memperoleh kedudukan. Jabatan dipandang sebagai amanah, bukan kehormatan yang harus diperebutkan.
Keteladanan tersebut sangat penting di tengah kehidupan organisasi masa kini. NU telah berkembang menjadi kekuatan sosial-keagamaan yang besar. Struktur organisasinya menjangkau wilayah, cabang, majelis wakil cabang, hingga ranting. Namun, kebesaran struktur harus tetap ditopang oleh keikhlasan dan akhlak para pendirinya.
Jangan sampai kita mewarisi nama besar NU, tetapi meninggalkan nilai perjuangan para muassisnya. Jangan sampai kita sibuk membicarakan jabatan, sementara lupa mengurus umat. Jangan pula organisasi hanya ramai ketika terjadi pemilihan kepengurusan, tetapi sepi ketika masyarakat membutuhkan pendampingan.
Haul ke-20 Puang Ramma harus menjadi ruang muhasabah bersama. Sudah sejauh mana kita meneruskan perjuangannya? Apakah ilmu, akhlak, dan pengabdian masih menjadi ukuran utama dalam kehidupan organisasi? Ataukah kita mulai lebih tertarik kepada kedudukan daripada pelayanan?
Mengenang Puang Ramma berarti menghidupkan kembali semangat pengabdian. Beliau telah menunjukkan bahwa kebesaran seorang ulama bukan diukur dari banyaknya jabatan yang pernah diduduki, melainkan dari seberapa dalam ilmu dan keteladanannya tertanam dalam kehidupan umat.
Dua puluh tahun setelah kepergiannya, doa-doa terus dipanjatkan. Semoga seluruh perjuangan, ilmu, dan amal baktinya menjadi amal jariah yang tidak pernah terputus.
Al-Fatihah untuk Syekh Sayyid KH. Jamaluddin Assegaf, Puang Ramma.

Penulis
Makmur Idrus Assegaf





