BERANDANEWS – Makassar, Suasana sunyi di kawasan Jalan Banta-Bantaeng, Kecamatan Rappocini, Makassar, mendadak pecah oleh kedatangan Tim Buser Polsek Rappocini, Kamis malam (13/8/2026).
Sebanyak 10 pemuda yang tengah asyik meneguk minuman keras (miras) tak berkutik saat polisi mengepung tempat nongkrong mereka. Siapa sangka, di balik aroma alkohol yang menyengat dan tawa lepas para pemuda itu, tersimpan rencana berdarah yang siap meletus di jalanan Makassar.
Petugas yang bergerak cepat langsung melumpuhkan kelompok tersebut. Dari 10 pemuda yang diamankan, satu di antaranya adalah KT (21) pemuda yang menyembunyikan senjata mematikan serta rekan-rekannya yakni AS (26), AM (20), MAK (20), dan enam remaja bawah umur berusia 16 tahun (RH, AR, MS, IL, MI, dan MSL).
“Kami tidak memberi ruang sedikit pun bagi pelaku kejahatan jalanan. Patroli presisi kami terbangkan untuk mencium dan menyikat setiap potensi gangguan kamtibmas sebelum jatuhnya korban,” tegas Kapolsek Rappocini, Kompol Ismail, Jumat (14/8/2026).
Mencekam! Senjata Mematikan Tersimpan di Balik Sweter
Kepanikan menyergap para pelaku saat petugas mulai melakukan penggeledahan badan secara maraton. Senyum ceria akibat pengaruh miras seketika sirna dari wajah KT ketika jemari petugas meraba kantong depan sweter hitam yang dikenakannya.
Dari balik kain tebal itu, polisi menarik keluar sebuah mata busur panah besi yang sangat tajam beserta ketapel pelontarnya—senjata khas jalanan Makassar yang kerap memakan korban jiwa.
“Satu mata busur rakitan ditemukan tersembunyi rapi di sweter pelaku KT. Senjata itu sengaja disiapkan dan dibawa untuk dipakai dalam pertempuran antar-kelompok,” ungkap Kompol Ismail dengan nada tegas.
Drama penangkapan ini semakin terang benderang setelah polisi meretas barikade rahasia di dalam ponsel milik pelaku MI. Saat layar ponsel diperiksa, petugas mendapati bukti mufakat jahat yang mengerikan, yaitu adanya rencana perang kelompok yang telah disepakati melalui pesan singkat di Instagram.
Malam yang seharusnya menjadi pesta miras itu ternyata adalah konsolidasi terakhir sebelum mereka bergerak menyerang kelompok lawan ke medan tawuran.
Dari lokasi penyergapan, polisi menyita, 1 mata busur panah beracun besi beserta pelontar, 1 botol miras sisa tegukan, 6 unit ponsel (smartphone) berisi jejak digital tawuran, dan 1 unit sepeda motor operasional.
Kini, keperkasaan 10 pemuda tersebut luntur seketika saat digiring masuk ke dalam sel tahanan Polsek Rappocini. Masa depan enam anak di bawah umur yang terlibat pun kini berada di ujung tanduk.
“Setiap ancaman yang mengintai keselamatan warga Makassar akan kami libas sesuai hukum yang berlaku. Ini peringatan keras bagi para orang tua: awasi anak-anak Anda! Jangan biarkan mereka pulang malam hanya untuk menjadi pelaku atau korban pertumpahan darah di jalanan,” pukas Kompol Ismail.(*)





