Ketua BSM: Zulkarnain Arief Perlu Introspeksi Dan Berhenti Cari Kambing Hitam

BERANDANEWS – Makassar, Sikap menggebu-gebu Zul ingin mendudukkan Appi sebagai ketua Golkar Sulsel dinilai sudah agak laen. Seperti anak gadis yang dimabuk asmara lalu tiba-tiba patah hati.

“Kalau anak gaul sekarang istilahkan baper,” kata Ketua Barisan Simpatisan Golkar (BSM), Muhammad Nawir Sita, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (18/7/2026).

Nawir menduga sikap menggebu-gebu itu tentu punya maksud tak kasat mata. Bukan lagi murni lahir dalam koridor kepartaian.

“Jangan-jangan, dia begitu semangat mendudukkan Appi sebagai ketua Golkar Sulsel karena berharap bisa mempertahankan status quo,” kata Nawir di Hotel Claro, Sabtu 18 Juli 2026.

Lebih lanjut, Nawir mengira sosok yang begitu dekat dengan Aksa Mahmud dan Erwin Aksa itu akan merasa lebih terjamin berlanjut sebagai Ketua Golkar Takalar dengan mendudukkan Appi sebagai ketua Golkar.

Padahal, data menyebutkan, kinerja Zul di Golkar Takalar termasuk yang terburuk se Sulsel. Bukan hanya kursi yang anjlok, unsur pimpinan DPRD Takalar juga hilang. Publik juga tidak akan pernah lupa saat Kantor Golkar Takalar di demo dipicu persoalan uang saksi pemilu yang tidak transaparan.

Yang membuat Nawir begitu penasaran, tudingan Zul yang berbunyi ‘Mengapa Konflik Pribadi Erwin Aksa dengan Bahlil L mengorbankan masa depan Golkar Sulsel?”. Tudingan Zul ini ramai beredar di group-group whatsaap yang kabarnya dia kirim sendiri.

Tudingan itu dinilai tidak berdasar bahkan tidak nyambung. “Jika Appi tidak direstui karena konflik–andai konflik itu benar ada, bukankah masih banyak kader lain yang setara juga berstatus kepala daerah seperti Appi? Ada Bupati Luwu Patahuddin, Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, dan Bupati Soppeng H Sukardi. Mereka bisa jadi alternatif andai DPP memang hanya mempertimbangkan soal konflik saja,” ketus Nawir.

Nawir menilai, ledakan statemen Zul yang serampangan itu hanya akal-akalan saja untuk bisa lepas dari tanggung jawab sebagai koordinator pemenangan Appi.

“Malah, boleh jadi dan tidak menutup kemungkinan, gagalnya Appi sebagai ketua Golkar Sulsel faktor utamanya bukan Erwin Aksa atau Appi, tapi justru Zul sendiri. Sebaiknya introspeksi berhentilah cari kambing hitam,” katanya.

DPP, di mata Nawir, murni mempertimbangkan kualifikasi ketokohan seorang calon pemimpin untuk menjawab tantangan Golkar ke depan. Masa depan Golkar Sulsel tidak akan pernah cukup dititipkan hanya kepada yang berkualifikasi kepala daerah saja. Sebagaimana tidak mungkinnya seorang calon yang menjanjikan dihalangi hanya konflik personal saja.

“Golkar Sulsel itu butuh pemimpin yang mempersatukan, membumi ke rakyat, punya waktu luang urus partai, dan benar-benar petarung yang sudah teruji. Tidak pelit berkorban untuk partai, dan sombere yang tidak dibuat-buat. Juga tidak berubah sikap baik saat menjadi pemimpin maupun tidak. Lebih infependen dan bukan sosok yang mudah dicocok hidung seperti kerbau,” tegas Nawir.(*)