BERANDANQEWS – Makassar, Pemerintah Kota Makassar bersama Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi bergerak cepat merumuskan solusi konkret guna mengurai kemacetan dan antrean panjang pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Solar.
Langkah strategis berupa pembagian Wilayah Pelayanan SPBU ke dalam empat klaster disepakati saat Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin (Appi), menerima kunjungan Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Sulawesi, Deny Sukendar, di Rumah Jabatan Wali Kota, Rabu (23/9/2026).
Pertemuan tersebut turut dihadiri jajaran Forkopimda Pemkot Makassar, termasuk Sekretaris Daerah Andi Zulkifly Nanda, Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Satpol PP, hingga Kepala Dinas Perdagangan.
Deny Sukendar memaparkan bahwa pemetaan empat klaster ini dirancang secara khusus berdasarkan karakter kendaraan pengonsumsi Solar dan tingkat kepadatan lalu lintas di tiap kawasan.
“Kami membagi pelayanan SPBU di Kota Makassar menjadi empat klaster agar distribusi Solar lebih terarah dan tidak memicu penumpukan armada di jalan raya,” jelas Deny.
Adapun rincian pembagian klaster tersebut meliputi:
Klaster Pelabuhan (4 SPBU): Mencakup SPBU Soekarno Hatta, Bandang, Paotere, dan Tentara Pelajar. Fokus utama klaster ini adalah melayani kendaraan logistik dan truk peti kemas. Pertamina tidak memberlakukan pembatasan jam pembelian di klaster ini serta melakukan rekonfigurasi nozzle guna mempercepat pengisian.
Klaster Perintis (4 SPBU): Meliputi area dari Unhas hingga gerbang Bandara Sultan Hasanuddin (SPBU Pintu 1 Unhas, Tamalanrea/Depan BTP, Perintis KM 16, dan KM 18/Pai). Pembatasan jam pengisian tetap diberlakukan mengingat kawasan ini kerap mengalami hambatan arus lalu lintas akibat antrean bus dan truk logistik.
Klaster Penyokong Pettarani (4 SPBU): Menjangkau area Jalan Sultan Alauddin, Pengayoman, Pettarani, dan Veteran Utara. Untuk klaster dalam kota ini, Pertamina mengombinasikan pembatasan jam operasional dengan opsi skema ganjil-genap sesuai arahan Pemkot Makassar.
Klaster Keempat: Saat ini masih dalam tahap finalisasi teknis bersama dinas terkait.
Deny menambahkan, pasokan Pertalite maupun Solar di Makassar saat ini secara umum sudah berada dalam kondisi stabil dan cenderung normal.
Pada masa krisis sebelumnya, Pertamina sempat mengoperasikan 25 dari total 45 SPBU di Makassar selama 24 jam nonstop—meningkat tajam dari kuota normal yang hanya 11 SPBU.
“Saat ini kondisi antrean sudah jauh lebih landai. Namun, produk Solar tetap menjadi perhatian bersama sehingga pengaturan jam, klasterisasi, serta pengawasan berkala terus kita perketat bersama instansi kepolisian dan pemerintah setempat agar kenyamanan pengguna jalan lain tetap terjaga,” pungkasnya.(*)





