Tim 6 Ekspedisi Patriot 2026 Unhas Dorong Kemandirian Ekonomi Wanita Nelayan Fakfak Melalui Inovasi Pengolahan Hasil Laut dan Tata Kelola Usaha Terpadu

BERANDANEWS – Fak-Fak, Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar melalui Tim 6 Ekspedisi Patriot 2026 terus menunjukkan komitmen nyata dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat di wilayah timur Indonesia.

Berfokus pada optimalisasi potensi lokal dan peningkatan taraf hidup masyarakat pesisir, Tim 6 Ekspedisi Patriot 2026 yang diketuai oleh Prof. Dr. Muh. Tamar, M.Psi., kembali menggelar langkah intervensi strategis di Kabupaten Fakfak.

Pada hari Rabu, 07 Oktober 2026, tim ini sukses menyelenggarakan kegiatan pelatihan inovasi pengolahan hasil tangkapan laut berupa pembuatan pempek ikan, yang bertempat di kediaman Mama Ramlah Retop, salah satu tokoh penggerak sekaligus anggota kelompok wanita nelayan di Kampung Weri, Distrik Fakfak Timur.

Kegiatan pelatihan pembuatan pempek berbahan dasar ikan lokal ini bukanlah sekadar agenda memasak biasa, melainkan sebuah lompatan inovasi untuk memberikan nilai tambah (value added) pada komoditas perikanan yang melimpah di pesisir Fakfak.
Menariknya, proses alih teknologi dan keterampilan ini dimotori secara langsung oleh salah satu anggota Tim 6 yang berasal dari Palembang, Sumatera Selatan daerah asal kuliner pempek.

Perpaduan antara resep otentik nusantara dengan bahan baku ikan segar khas perairan Fakfak ini diharapkan mampu melahirkan produk kuliner hibrida yang memiliki daya jual tinggi, baik untuk pasar lokal di Kabupaten Fakfak maupun sebagai produk oleh-oleh khas daerah.

Intervensi kegiatan yang progresif ini merupakan bagian integral dari program besar bertajuk “Pengembangan Sumber Daya Manusia Melalui Pemberdayaan Wanita Dalam Meningkatkan Pendapatan Keluarga Nelayan Di Kawasan Weri-Saharey Kabupaten Fakfak”.

Program pengabdian ini didesain khusus untuk memfasilitasi pembentukan, penguatan, serta kemandirian kelompok usaha perempuan nelayan. Di kawasan pesisir, perempuan atau istri nelayan seringkali hanya berperan pada sektor domestik.

Melalui program ini, Unhas berupaya mendobrak stigma tersebut dengan menjadikan wanita nelayan sebagai aktor ekonomi yang produktif. Kelompok yang dibina dijadikan wadah sentral untuk produksi, pembelajaran kolaboratif, pencatatan usaha yang rapi, hingga strategi pemasaran secara kolektif yang lebih efisien.

Lebih jauh, kegiatan pengolahan hasil perikanan pada tanggal 7 Oktober tersebut merupakan wujud nyata dari Program Pendampingan Usaha dan Manajemen Produksi. Tim 6 Ekspedisi Patriot Unhas menyadari bahwa keterampilan produksi saja tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan sebuah usaha mikro. Oleh karena itu, pendampingan yang diberikan sangat komprehensif, menyentuh urat nadi pengelolaan usaha rumah tangga dan kelompok.

Aspek-aspek krusial yang diajarkan meliputi manajemen produksi yang efektif, pengendalian kualitas produk (quality control) agar memenuhi standar kesehatan dan selera konsumen, pembukuan sederhana, perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) yang akurat agar tidak merugi, pembagian tugas anggota kelompok yang adil, serta pengelolaan keuangan keluarga yang terpisah dari keuangan usaha. Semuanya bermuara pada penyusunan strategi usaha komunitas yang tangguh menghadapi dinamika pasar.

Agenda ini sejatinya merupakan tindak lanjut dan tahap monitoring (pemantauan) dari rangkaian kegiatan lokakarya (workshop) intensif yang telah digulirkan sebelumnya. Tercatat, pada tanggal 20 September 2026 lalu,

Tim 6 Ekspedisi Patriot 2026 telah sukses menggelar kegiatan krusial bertajuk “Pembentukan Kelompok dan Tata Kelola Usaha”. Melalui sentuhan fasilitator dan bimbingan pakar dari akademisi dan praktisi, yakni Dr. Ir. Junardin Djamaluddin, SP., M.Si., IALI., IPM., tim ini berhasil merajut solidaritas kaum ibu di dua kawasan dan membantu Wanita Nelayan Weri serta Saharey membentuk kelembagaan Kelompok Usaha yang berbasis pada hasil perikanan maupun hasil bumi lainnya.

Dari lokakarya bersejarah pada bulan September tersebut, telah lahir dua entitas ekonomi baru yang menjadi harapan masyarakat setempat. Untuk Kawasan Weri, telah terbentuk secara resmi Kelompok Usaha Wanita Nelayan “Weri Jaya” yang dinahkodai oleh Mama Ririn Harinda. Sementara itu, untuk Kawasan Saharey, berdiri Kelompok Usaha Wanita Nelayan “Serwarek” yang dipimpin dengan penuh semangat oleh Mama Nayu Ohoibor.

Terbentuknya dua kelompok ini diarahkan agar memiliki struktur organisasi yang sederhana namun fungsional, pembagian peran anggota yang jelas, aturan kerja yang disepakati bersama, jadwal produksi yang terukur, serta rencana usaha awal yang realistis.

Tidak berhenti pada tahap pembentukan, Dr. Ir. Junardin Djamaluddin, SP., M.Si., IALI., IPM., secara berkelanjutan memandu kedua kelompok usaha wanita nelayan tersebut dalam menyusun struktur keorganisasian, merumuskan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) dari masing-masing pengurus dan anggota, serta menyusun Rencana Kerja Kelompok (RKK) untuk jangka pendek dan menengah. Tata kelola yang baik ini dinilai sebagai fondasi utama agar kelompok tidak mudah goyah oleh konflik internal maupun kendala eksternal di kemudian hari.

Pada sesi teknis berikutnya di bulan September tersebut, hadir pula narasumber kompeten, Ferdi, S.Hut., yang berkolaborasi dengan Dr. Ir. Junardin Djamaluddin, SP., M.Si., IALI., IPM, untuk melatih seluruh peserta mengenai tata kelola kelembagaan kelompok tingkat lanjut.

Salah satu materi yang paling ditekankan adalah pengelolaan administrasi dan pembukuan sederhana. Materi ini merupakan pengetahuan dasar yang sangat vital, namun sering diabaikan oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di pedesaan.

Dalam sesi pelatihan tersebut, para wanita nelayan tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga diajak melakukan praktik langsung. Mereka mempraktikkan penyusunan dokumen administrasi kelompok menggunakan format standar yang telah disediakan oleh tim Unhas.

Selain itu, para peserta secara antusias mempraktikkan cara mengisi buku kas, buku pencatatan penjualan harian, dan buku pengeluaran dengan menggunakan simulasi atau studi kasus usaha riil dari kelompok mereka.

Tujuan utama dari penguatan kapasitas administratif ini sangatlah jelas dan terukur. Peserta diharapkan mampu mengelola administrasi organisasi kelompok usahanya secara sederhana, mandiri, dan tertib secara hukum maupun pencatatan. Lebih dari itu, para peserta ditargetkan mampu melakukan pencatatan keuangan usaha secara sistematis, sehingga perputaran modal, laba, dan rugi dapat dipantau setiap saat, yang pada gilirannya akan mencegah kebangkrutan akibat tata kelola finansial yang serampangan.

Melihat progres luar biasa dari kedua kelompok wanita nelayan ini, Prof. Dr. Muh. Tamar, M.Psi., selaku Ketua Tim 6 Ekspedisi Patriot 2026 Unhas, menyampaikan pandangan optimis dan harapan besarnya. Beliau menegaskan bahwa rangkaian intervensi—mulai dari pembentukan kelompok, tata kelola, hingga inovasi produk akhir seperti pempek ikan—dirancang secara sistematis untuk menjawab tantangan ekonomi di pesisir Papua Barat.

“Kami sangat mengharapkan kegiatan ini mampu mendorong secara signifikan peningkatan kapasitas dan kemampuan sumber daya wanita nelayan. Mereka adalah kunci dalam menopang sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga di tengah ketidakpastian hasil tangkapan laut,” ujar Prof. Tamar.

Lebih lanjut, guru besar Psikologi Organisasi Unhas ini menekankan visi jangka panjang dari program pengabdian tersebut.

“Dengan sumber daya manusia yang semakin mumpuni dan terampil, kelompok-kelompok usaha ini diharapkan tidak hanya menjadi produsen skala rumah tangga, tetapi menjelma menjadi pilar ekosistem ekonomi sirkuler di kedua kawasan ini. Ekosistem ekonomi sirkuler inilah yang nantinya akan menghubungkan potensi kekayaan hasil laut dan hasil bumi Weri dan Saharey dengan denyut nadi ekonomi di pusat kota Fakfak. Jika rantai pasok ini terbentuk kuat, maka peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat di kedua kawasan pesisir ini akan terwujud secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Tim 6 Ekspedisi Patriot 2026 Unhas Dorong Kemandirian Ekonomi Wanita Nelayan Fakfak Melalui Inovasi Pengolahan Hasil Laut dan Tata Kelola Usaha Terpadu

Program yang diinisiasi oleh Universitas Hasanuddin melalui Tim 6 Ekspedisi Patriot 2026 ini menjadi bukti nyata bahwa pendekatan akademis yang dipadukan dengan kearifan lokal serta aksi turun ke lapangan mampu menciptakan solusi pemberdayaan yang efektif.

Ke depan, kiprah “Weri Jaya” dan “Serwarek” diharapkan dapat menjadi role model (percontohan) bagi desa-desa pesisir lainnya di Kabupaten Fakfak maupun di wilayah Papua secara luas, dalam rangka mencetak perempuan-perempuan nelayan yang mandiri, berdaya saing, dan berdaulat secara ekonomi.(ril)