BERANDANEWS – Makassar, Program POLIRAN yang diluncurkan Kapolri mendapat sambutan positif dari Presidium Pusat Alumni Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia (ISMAHI), Illank Radjab.
Ia menilai, program tersebut merupakan langkah progresif Polri dalam membangun pendekatan keamanan yang tidak semata bertumpu pada penegakan hukum, tetapi juga menyentuh dimensi sosial masyarakat, khususnya kalangan pemuda dan kelompok pengangguran.
Menurut Illank, persoalan pengangguran tidak cukup dipandang sebagai persoalan ekonomi dan ketenagakerjaan. Lebih dari itu, dibutuhkan ruang sosial yang inklusif, produktif, dan partisipatif agar generasi muda memiliki kesempatan untuk terlibat dalam aktivitas positif di tengah masyarakat.
“Program ini harus dibaca sebagai upaya membangun ruang sosial yang nyaman, inklusif, dan produktif. Pemuda membutuhkan ruang untuk berpartisipasi, mengaktualisasikan diri, sekaligus merasa menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan sosial yang aman dan tertib,” ungkap Illank.
Ia menambahkan, keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) tidak semestinya hanya dimaknai sebagai kondisi ketika tidak terjadi gangguan keamanan. Kamtibmas juga harus dibangun melalui terciptanya hubungan sosial yang sehat, solidaritas masyarakat, kesempatan berpartisipasi, serta kepercayaan antara kepolisian dan masyarakat.
Dalam pandangannya, pendekatan yang mengedepankan empati sosial merupakan salah satu cara strategis untuk meretas kesenjangan komunikasi antara Polri dan masyarakat.
“Kepercayaan publik tidak lahir hanya dari kewenangan dan ketegasan aparat. Ia tumbuh ketika masyarakat merasakan kehadiran Polri, ketika kepolisian mampu mendengar, memahami, dan mengambil bagian dalam persoalan sosial yang dihadapi masyarakat,” tegasnya.
Illank juga berharap POLIRAN tidak berhenti sebagai program seremonial, tetapi dikembangkan menjadi gerakan sosial yang berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah daerah, organisasi kepemudaan, komunitas, perguruan tinggi, serta elemen masyarakat sipil.
Menurutnya, pemuda harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan keamanan, bukan sekadar objek pembinaan. Mereka memiliki energi, kreativitas, dan potensi sosial yang dapat diarahkan menjadi kekuatan positif dalam menjaga stabilitas lingkungan.
“Jangan hanya melihat pemuda dari persoalan yang melekat pada mereka, tetapi lihatlah potensi yang bisa dibangun bersama mereka. Ketika pemuda diberi ruang, kepercayaan, dan kesempatan untuk berkarya, maka sesungguhnya kita sedang membangun fondasi Kamtibmas dari tengah masyarakat itu sendiri,” tutupnya.
Bagi Illank, program POLIRAN menjadi momentum untuk memperkuat wajah kepolisian yang humanis. Sebab, Polri yang kuat bukan hanya Polri yang mampu menegakkan hukum, tetapi juga Polri yang mampu membangun kepercayaan, merawat solidaritas, dan menghadirkan rasa aman sebagai pengalaman nyata dalam kehidupan masyarakat.(*)





