BERANDANEWS — Jakarta, Uang negara yang seharusnya diperuntukkan bagi bantuan darurat masyarakat yang tertimpa musibah justru diduga kuat digarong oleh oknum pejabat dan tenaga ahli demi memperkaya diri.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menyita tumpukan uang tunai, perhiasan berharga, hingga tiga unit mobil mewah usai menggelar penggeledahan maraton terkait kasus dugaan korupsi dana siap pakai di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengungkapkan bahwa rangkaian penggeledahan berlangsung selama lima hari berturut-turut, mulai 15 hingga 19 Oktober 2026.
Tim penyidik menyasar berbagai lokasi strategis, mulai dari perkantoran, rumah kediaman, hingga tempat lainnya di wilayah Jakarta, Tangerang Selatan, dan Bekasi.
Salah satu lokasi utama yang digeledah adalah Kantor Pusat BNPB di Jalan Pramuka, Jakarta Timur, pada Kamis (15/10/2026).
“Dari hasil penggeledahan di beberapa lokasi tersebut, penyidik menyita dokumen penting, barang bukti elektronik, uang, perhiasan, serta 3 unit mobil yang diduga kuat berkaitan dengan perkara yang sedang ditangani ini,” tegas Budi Prasetyo, Selasa (20/10/2026).
Jerat 5 Tersangka, Terseret Adik Kepala BNPB
Dalam skandal korupsi yang menyedot perhatian publik ini, lembaga antirasuah telah menetapkan lima orang sebagai tersangka.
Salah satu nama yang menjadi sorotan utama adalah Bima Setiawan, tenaga ahli di BNPB yang juga merupakan adik kandung dari Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto.
Sementara itu, empat tersangka lainnya yang turut terseret dalam pusaran korupsi ini yaitu:
– Gabriel Purwaka Sigit (Kasubdit Pengelolaan Bantuan dan Kedaruratan BNPB sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen/PPK)
– Richard Erlangga (Tenaga Ahli BNPB)
– Gery Prasetiawan (Pihak Swasta)
– Syifa Nrika Ghifarian (Pihak Swasta)
Konflik Kepentingan Pengadaan Barang Bencana senilai Rp148 Miliar
Budi menjelaskan, perkara ini mengusut dugaan konflik kepentingan secara masif dalam proyek pengadaan barang dan jasa penanganan bencana dengan nilai fantastis mencapai Rp148 miliar, serta praktik suap-menyuap yang melibatkan para pejabat internal BNPB.
Saat ini, barang-barang mewah dan dokumen yang telah disita sedang didalami secara intensif oleh tim penyidik.
“Penyidik akan mendalami analisis dan memeriksa para saksi serta tersangka guna menerangkan asal-usul dan kaitan barang-barang yang telah disita tersebut,” pungkas Budi.(*)





