BERANDANEWS — Maros, Bencana kekeringan ekstrem kian meluas dan menghantam Kabupaten Maros.
Sebanyak 11 dari total 14 kecamatan di wilayah tersebut kini mengalami krisis air bersih parah, yang berdampak langsung pada sedikitnya 100 ribu jiwa warga.
Menanggapi krisis yang kian memburuk, Pemerintah Kabupaten Maros resmi menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Kekeringan.
Kepala BPBD Maros, Towadeng, mengungkapkan bahwa dampak kemarau tahun ini jauh lebih masif dibandingkan fenomena serupa pada tahun 2023. Fenomena iklim kali ini tidak hanya melumpuhkan wilayah pesisir dan perkotaan, tetapi juga menjangkau daerah dataran tinggi dan pegunungan.
“Kondisi kekeringan di Kabupaten Maros memang sudah pada level tanggap darurat. Dampaknya meluas hingga 11 kecamatan. Bahkan daerah pegunungan seperti Kappang yang berjarak 1,5 jam dari sumber air sudah mulai kita suplai,” ujar Towadeng, Selasa (8/9/2026).
Towadeng menambahkan, tingkat keparahan tahun ini dipicu oleh durasi kemarau yang diproyeksikan berlangsung hingga November, diperparah lonjakan suhu udara ekstrem yang mencapai 38 hingga 40 derajat Celsius pada siang hari.
Kondisi tersebut melumpuhkan dua penopang utama sumber air baku milik PDAM di Maros.
Di Lekopancing yang kini mengalami penurunan debit drastis hingga mengering total.
Kemudian di Kawasan Bantimurung yang tidak lagi mampu memasok pasokan air baku pengolahan air bersih.
Guna mengantisipasi krisis kemanusiaan yang lebih dalam, tim gabungan dari BPBD Maros bersama personil TNI mengerahkan armada tangki air bersih secara masif untuk menyisir pemukiman warga terdampak setiap harinya.(*)





