Dies Natalis ke-79 HMI: Refleksi Sejarah dan Tantangan Peradaban dari Sulawesi Selatan

KOLOM – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) genap berusia 79 tahun pada 5 Februari 2026. Usia yang tidak lagi muda bagi sebuah organisasi kemahasiswaan, namun justru menegaskan daya tahan HMI dalam melintasi berbagai fase sejarah bangsa.

Di Sulawesi Selatan, peringatan Dies Natalis ke-79 HMI menjadi momentum reflektif untuk menengok perjalanan panjang organisasi sekaligus meneguhkan kembali arah perjuangan di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.

Sejak awal kehadirannya di Sulawesi Selatan, HMI telah menjelma sebagai ruang kaderisasi intelektual dan moral bagi mahasiswa Islam. Kampus-kampus di Makassar dan daerah lain di Sulsel menjadi saksi bagaimana HMI tumbuh sebagai organisasi yang konsisten memadukan nilai keislaman, keilmuan, dan keindonesiaan. Tradisi diskusi, latihan kader, dan keberpihakan pada isu-isu rakyat telah menjadi denyut nadi HMI Sulsel dari masa ke masa.

HMI Sulsel dan Jejak Perjuangan Sejarah
Dalam lintasan sejarah nasional, HMI kerap berada di persimpangan penting perubahan. Di Sulawesi Selatan, kader-kader HMI turut berperan dalam dinamika sosial dan politik, baik pada masa konsolidasi pasca-kemerdekaan, era Orde Baru yang represif, hingga gelombang Reformasi 1998. Peran tersebut tidak selalu tampil di panggung utama, namun nyata dalam bentuk gagasan, gerakan moral, dan kepemimpinan di berbagai sektor.

Peringatan Dies Natalis ke-79 menjadi pengingat bahwa HMI Sulsel tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari pergulatan sejarah dan ditempa oleh tantangan zaman. Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang diwariskan para pendiri menjadi fondasi ideologis yang menjaga HMI tetap relevan di tengah perubahan.

Tantangan Baru di Usia ke-79 tahun
Memasuki usia ke-79, HMI—termasuk di Sulawesi Selatan—dihadapkan pada tantangan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Disrupsi digital, krisis kepercayaan publik, pragmatisme politik, hingga melemahnya tradisi intelektual di kampus menjadi persoalan nyata. Mahasiswa tidak lagi hanya dituntut kritis, tetapi juga adaptif dan berintegritas.

Di Sulsel, HMI ditantang untuk kembali menguatkan peran sebagai kekuatan intelektual yang mampu membaca persoalan lokal dan global secara jernih. Isu ketimpangan sosial, krisis lingkungan, serta kualitas demokrasi daerah membutuhkan kehadiran kader-kader HMI yang tidak hanya vokal, tetapi juga solutif.

Dies Natalis sebagai Momentum Konsolidasi
Peringatan Dies Natalis HMI ke-79 seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Lebih dari itu, ia menjadi momentum konsolidasi ideologis dan organisatoris. Bagi HMI Sulsel, usia 79 tahun adalah saat yang tepat untuk memperkuat kembali kaderisasi, menjaga independensi organisasi, serta merawat tradisi intelektual yang menjadi ciri khas HMI.

Sejarah panjang HMI di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa organisasi ini mampu bertahan karena kesetiaannya pada nilai, bukan pada kekuasaan. Inilah modal utama HMI untuk terus berkontribusi bagi umat dan bangsa.

Meneguhkan Arah Perjuangan
Di usia ke-79, HMI dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: sejauh mana organisasi ini masih setia pada cita-cita awal pendiriannya? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan masa depan HMI, termasuk di Sulawesi Selatan.

Dies Natalis ke-79 HMI menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Selama keadilan sosial belum terwujud dan kualitas kehidupan bangsa masih timpang, HMI tetap memiliki alasan historis dan moral untuk hadir.

Dari Sulawesi Selatan, harapan itu terus dijaga agar HMI tetap menjadi rumah besar bagi lahirnya insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas masa depan Indonesia.(red)