Dari Kritikus ke Lingkaran Istana, Profil Rocky Gerung yang Kini Resmi Jabat Anggota Wantimpres

Rocky Gerung setelah dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres)

BERANDANEWS — Jakarta, Nama Rocky Gerung kembali menyedot perhatian publik setelah resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Jumat (2/10/2026).

Penunjukan ini menjadi babak baru bagi sang akademisi yang selama ini dikenal sebagai salah satu pemikir publik paling kritis di Indonesia.

Pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara, pada 20 Januari 1959 ini memosisikan dirinya sebagai intelektual yang tajam dalam membedah isu-isu politik, filsafat, hukum, dan demokrasi di tanah air.

Latar belakang pemikirannya ditempa dari Departemen Ilmu Filsafat Universitas Indonesia (UI). Rocky menempuh pendidikan di UI sejak 1979 diawali dari jurusan Ilmu Politik sebelum akhirnya menuntaskan gelar sarjananya di bidang Ilmu Filsafat pada 1986.

Usai lulus, Rocky kembali ke almamaternya untuk mengabdi sebagai dosen tidak tetap di Departemen Ilmu Filsafat UI selama kurang lebih 15 tahun hingga awal 2015.

Selama kurun waktu tersebut, ia mengampu berbagai mata kuliah fundamental seperti filsafat politik, teori keadilan, hingga metodologi penelitian filsafat bagi mahasiswa tingkat sarjana maupun pascasarjana.

Mengenai julukan “Profesor” yang kerap disematkan kepadanya, Rocky secara terbuka menegaskan bahwa ia bukan profesor secara gelar akademis formal. Sapaan tersebut murni panggilan akrab yang lahir dari lingkungan mahasiswa serta koleganya semasa ia aktif mengajar di kampus. Pada 2015, ia memutuskan berhenti mengajar di UI seiring diberlakukannya penyesuaian kualifikasi akademis dosen berdasarkan UU No. 14 Tahun 2005.

Di luar gelanggang akademis, Rocky merupakan aktivis yang gigih memperjuangkan kebebasan sipil dan hak asasi manusia. Ia tercatat sebagai salah satu pendiri Setara Institute lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada kebebasan beragama dan demokrasi—serta pernah menjadi fellow di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D).

Kiprahnya semakin populer di tingkat nasional berkat keberaniannya menyampaikan kritik pedas terhadap kebijakan publik di berbagai media massa dan forum diskusi.

Kini, dengan barisan pengalaman sebagai filsuf, dosen, penulis, dan pengamat politik, Rocky Gerung melangkah ke Istana untuk memberikan pertimbangan stratejik bagi jalannya pemerintahan.(*)