KOLOM – Ruang analisis ala akademisi, menangkap esensi sejati dari dinamika politik modern di Sulawesi Selatan. Kemenangan aklamasi Pak Ilham Arief Sirajuddin (IAS) atau “Aco” di Musda Golkar Sulsel merupakan bukti nyata dari kematangan komunikasi politik dan kuatnya modal sosial (social capital) yang beliau miliki.
Melewati jalan buntu, konflik kepentingan, dan penundaan agenda justru menjadi panggung yang membuktikan kapasitas beliau sebagai political survivor dan organisator ulung.
Namun, seperti yang Anda soroti, tantangan terbesar pasca-Musda bukan lagi mengelola riak internal, melainkan memenangkan masa depan beringin.
Di era di mana lanskap pemilih telah bergeser secara demografis dan teknologis, tesis saya mengenai Teori Hibriditas Sosiologis dalam kepemimpinan IAS menjadi sangat krusial.
Berikut adalah kerangka strategis yang menggabungkan kekuatan klasik “Aco” dengan tuntutan politik modern (Gen Z, AI, dan Algoritma) untuk memperluas basis elektoral Beringin di Sulawesi Selatan:
1. Menjembatani Dua Dunia: Dari gen X/millenial ke Gen Z
Pak IAS lahir di era generasi Gen X/millenial, di mana politik berbasis pada patronase, silaturahmi fisik (tatap muka), loyalitas kultural, dan retorika panggung. Ini adalah kekuatan inti beliau—kemampuan menyentuh hati masyarakat bawah lewat kopi darat dan jaringan komunitas lokal yang mengakar.
Sementara itu, Gen Z dan Milenial akhir bergerak di ruang digital, visual, serba cepat, dan skeptis terhadap janji kosong. Hibriditas di sini berarti:
Pesan Otentik, Kemasan Estetik: Kekuatan IAS dalam bercerita (storytelling) dan kehangatan personalnya harus dialihkan ke konten video pendek (TikTok, Instagram Reels) yang kasual namun sarat substansi. Gen Z tidak menyukai pidato formal berjam-jam; mereka menyukai visualisasi kerja nyata dan interaksi spontan.
Mengubah Relasi Patronase Menjadi Kolaborasi: Alih-alih memposisikan diri sebagai “pemberi perintah”, pendekatan kepemimpinan Golkar Sulsel harus digeser menjadi platform kolaborasi bagi anak muda (menyediakan ruang industri kreatif, diskusi kebijakan publik digital, dan keterlibatan dalam isu-isu lingkungan/sosial,ekonomi).
2. Politik Berbasis Data: Memanfaatkan AI & Algoritma
Membangun basis elektoral saat ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan intuisi atau “perasaan politik”.
Sentuhan humanis Pak Aco harus dipandu oleh presisi teknologi:
Mikro-Targeting Pemilih: Menggunakan analitik berbasis AI untuk memetakan sentimen masyarakat di 24 kabupaten/kota di Sulsel. AI dapat membaca apa yang paling dibutuhkan oleh pemilih muda di Bone, apa yang dikeluhkan oleh pemilih di Gowa, atau apa tren yang sedang berkembang di Makassar. pengabdian masyarakat.
3. Merawat Akar Rumput Tradisional
Sambil bertransformasi secara digital, modal sosial klasik yang menjadi keahlian Pak Aco tidak boleh ditinggalkan. Justru, ini adalah jangkar utamanya.
Kombinasi High-Tech dan High-Touch: Teknologi digunakan untuk memetakan dan mengorganisasi, namun eksekusinya tetap melibatkan kehadiran fisik, jabat tangan, dan mendengar langsung keluh kesah rakyat di warung-warung kopi atau pasar tradisional. Ini yang membedakan Golkar dengan partai baru yang hanya “viral di medsos” tapi keropos di akar rumput.
Catatan Strategis Pasca-Musda: Kemenangan aklamasi adalah modal legitimasi yang kuat.
Tugas utama Pak IAS sekarang adalah melakukan rebranding Golkar Sulsel: bukan lagi sekadar partainya para elite senior, melainkan rumah masa depan yang inklusif, adaptif terhadap AI, namun tetap memegang teguh kearifan lokal (sipakatau, sipakalebbi, sipakainge).
Arena bermain ini akan membuktikan bahwa talenta politik Pak Aco tidak hanya relevan untuk memenangkan internal partai, tetapi juga khatam dalam membawa perubahan nyata demi pengabdian kepada rakyat, negara, dan bangsa.

Penulis :
Dr Ibnu hajar.M.I.Kom
Dosen UIN Alauddin Makassar





