Keluarga Besar NU Gelar Maulid Nabi di UIM Makassar, Jamaah Padati Pelataran Kampus

Keluarga Besar NU Gelar Maulid Nabi di UIM Makassar, Jamaah Padati Pelataran Kampus

BERANDANEWS — Makassar, Suasana religius dan penuh kekeluargaan mewarnai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah yang digelar Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) di Pelataran Universitas Islam Makassar (UIM), Sabtu, (12/9/2026)

Sejak sore hari, jamaah dari berbagai unsur keluarga besar Nahdlatul Ulama memadati pelataran kampus. Hadir pula para pengurus NU, badan otonom, lembaga, mahasiswa, dosen serta masyarakat umum.

Turut hadir Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan Agh. Dr. KH. Baharuddin, para ketua badan otonom (Banom) dan lembaga di lingkungan NU, serta Rektor UIM Al-Gazali Prof. Dr. KH. Muammar Bakri.

Kehadiran jajaran Syuriyah, pimpinan perguruan tinggi, serta unsur Banom dan lembaga membuat peringatan Maulid tersebut sekaligus menjadi ajang silaturahmi lintas generasi keluarga besar NU di Sulawesi Selatan.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 15.30 WITA itu berlangsung dalam suasana sederhana namun khidmat. Para jamaah duduk bersama mengikuti rangkaian peringatan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW di halaman kampus.

Nuansa khas tradisi Maulid masyarakat Muslim Sulawesi Selatan juga terlihat melalui kehadiran male yang dihiasi telur dan ornamen warna-warni. Tradisi tersebut memperlihatkan perpaduan antara syiar Islam dan kearifan lokal yang tetap terpelihara di tengah masyarakat.

Rektor UIM: Maulid Harus Memperkuat Ukhuwah dan Melahirkan Perubahan

Rektor UIM Al-Gazali, Prof. Dr. KH. Muammar Bakri, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi sebagai momentum memperkuat persaudaraan, silaturahmi dan kebersamaan di lingkungan keluarga besar Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, majelis Maulid menjadi ruang bertemunya berbagai generasi dan unsur masyarakat dalam suasana keagamaan yang penuh kekeluargaan. Tradisi berkumpul, menyiapkan makanan dan berbagi kepada sesama juga mengandung nilai sosial yang harus terus dipelihara.

Dalam suasana Maulid tersebut, filosofi telur menjadi salah satu pesan yang menarik. Telur dipandang sebagai simbol kehidupan. Ketika telur pecah dari dalam, lahirlah kehidupan baru. Filosofi itu menjadi gambaran bahwa ilmu dan nilai-nilai agama semestinya tumbuh dari dalam diri seseorang hingga melahirkan perubahan dalam sikap dan perbuatan.

Pesan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan kecerdasan secara akademik. Kampus juga memiliki tanggung jawab membangun akhlak, karakter, kepedulian sosial dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

UIM sebagai perguruan tinggi yang lahir dan berkembang dalam lingkungan umat diharapkan terus menjadi ruang bertemunya tradisi keislaman, ilmu pengetahuan dan pembentukan generasi muda.

Karena itu, kehadiran mahasiswa dalam peringatan Maulid memiliki arti penting. Generasi muda tidak hanya menjadi penerus tradisi, tetapi juga diharapkan mampu memahami nilai yang terkandung di dalamnya dan menerjemahkannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Maulid Jadi Ruang Silaturahmi KBNU

Peringatan Maulid Nabi tidak hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat ukhuwah dan silaturahmi keluarga besar Nahdlatul Ulama.

Berkumpulnya unsur Syuriyah, Banom, lembaga, pimpinan perguruan tinggi, mahasiswa hingga masyarakat dalam satu majelis menunjukkan kuatnya tradisi kebersamaan di lingkungan NU.

Maulid juga menjadi momentum untuk kembali mengingat keteladanan Rasulullah SAW, terutama dalam membangun persaudaraan, kepedulian sosial, akhlak, serta kehidupan masyarakat yang damai.

Di tengah dinamika kehidupan sosial yang semakin kompleks, nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW menjadi semakin penting untuk diwujudkan, bukan hanya melalui peringatan, tetapi juga dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Pesan tentang makanan dan berbagi dalam tradisi Maulid juga mempunyai dimensi sosial. Makanan yang disiapkan dalam majelis tidak berhenti menjadi bagian dari perayaan, tetapi dapat dibagikan kepada keluarga, tetangga dan masyarakat sebagai bentuk kepedulian serta sarana mempererat hubungan sosial.

Semangat itu sejalan dengan pesan agar syiar Maulid terus diperkuat dan dikelola secara baik sehingga NU dapat mengambil peran besar dalam menjaga tradisi keagamaan sekaligus menghadirkan dakwah yang ramah di tengah masyarakat.

Tradisi, Kampus dan Regenerasi NU

Kehadiran generasi muda dan mahasiswa dalam jumlah besar menjadi salah satu pemandangan menarik dalam kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya hadir sebagai jamaah, tetapi menjadi bagian dari keberlangsungan tradisi keagamaan NU.

Hal itu menunjukkan bahwa tradisi Maulid terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Pelaksanaan kegiatan di lingkungan UIM juga memperlihatkan pentingnya kampus sebagai ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan, nilai keislaman, tradisi, serta kehidupan sosial masyarakat.

Di pelataran kampus itu, tokoh agama, pimpinan lembaga, mahasiswa dan masyarakat duduk bersama dalam satu majelis. Tidak ada sekat yang menonjol—semuanya hadir dalam semangat yang sama untuk memperingati kelahiran dan meneladani Rasulullah SAW.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama KBNU tersebut akhirnya membawa pesan sederhana namun penting: tradisi harus terus dirawat, silaturahmi diperkuat, regenerasi dijaga, ilmu harus melahirkan perubahan, dan keteladanan Rasulullah SAW diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat.(*)