BERANDANEWS – Kupang, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 11.185 gempa bumi susulan mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pasca-gempa utama berkekuatan magnitudo M7,7. Data per Rabu (2/9/2026) pukul 05.00 WIB menunjukkan magnitudo susulan terbesar mencapai M6,2 dan terkecil M0,9.
Dari total belasan ribu gempa susulan tersebut, 36 kejadian berkarakteristik di atas M5, sementara 165 guncangan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Rentetan Gempa Memicu Longsor dan Kerusakan Bangunan
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, memaparkan bahwa frekuensi gempa susulan masih relatif tinggi dan diproyeksikan berlangsung selama 3 hingga 4 minggu pasca-gempa utama.
Guncangan signifikan dirasakan kuat pada rentang skala IV–VI MMI, di antaranya:
19 Agustus 2026 (23.17 WIB): Gempa susulan M5,6.
20 Agustus 2026 (05.45 WIB): Gempa susulan M5,8.
20 Agustus 2026 (09.47 WIB): Gempa susulan M5,8.
Rangkaian guncangan keras ini memperparah kerusakan fisik pada struktur jembatan dan fasilitas publik, serta memicu tanah longsor di beberapa lokasi kritis.
Aktivitas Seismik Bergeser ke Bagian Barat
Hasil relokasi BMKG mengungkapkan bahwa distribusi gempa susulan tidak merata, melainkan membentuk beberapa klaster utama. Klaster terbesar terkonsentrasi di utara Nagekeo sepanjang garis Flores Back-arc Thrust.
BMKG juga mendeteksi pergerakan pola seismik yang dinamis. Jika pada hari pertama hingga keempat aktivitas gempa menyebar merata dari timur ke barat, memasuki hari kelima dan keenam pergerakan gempa mulai terkonsentrasi di klaster sebelah utara Kabupaten Manggarai (bagian barat), sementara klaster timur mengalami penurunan aktivitas secara bertahap.
BMKG terus menyiagakan sistem pemantauan real-time 24/7 dan mengimbau masyarakat untuk menjauhi bangunan retak atau rusak guna menghindari risiko runtuhan akibat gempa susulan lanjutan.(*)





