
BERANDANEWS – Makassar, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Makassar mencatat lonjakan dramatis dengan total 218 kasus kebakaran sejak Januari hingga Agustus 2026.
Yang mengerikan, 13 insiden di antaranya mengamuk hanya dalam tempo kurun lima pekan terakhir.
Ancaman kemarau ekstrem memicu lonjakan kasus secara eksponensial di dua bulan terakhir: 47 kasus pada Juli dan melonjak drastis hingga 68 kasus per Agustus.
Bencana ini telah menelan kerugian fantastis mencapai Rp11,09 miliar, merenggut 4 nyawa, melukai 6 warga, serta meluluhlantakkan tempat tinggal bagi 463 kepala keluarga.
Korsleting listrik (31 kasus) dan pembakaran sampah/alang-alang (88 kasus) menjadi biang kerok utama kehancuran.
“Selain pengaruh cuaca ekstrem, sepekan terakhir kejadian kebakaran lahan sangat masif terjadi,” ungkap Kabid Operasi Damkarmat Makassar, Andi Muhammad Cakrawala, Kamis (27/8/2026).
Rentetan musibah dalam kurun lima pekan terakhir meliput berbagai tempat, mulai dari peristiwa tragis di Mamajang yang menewaskan dua wanita berpelukan di kamar mandi, terbakarnya Mall Nipah, lautan api yang menghanguskan 56 rumah di Tallo dan 37 rumah di Bontoala, hingga terbakarnya 2 hektare lahan di Tallasa City.
Warga diimbau untuk tidak lengah mematikan instalasi listrik yang tidak terpakai dan memperketat pengawasan area dapur demi mencegah bencana yang lebih besar.
Sejumlah Peristiwa Kebakaran sejak Juli hingga Agustus 2026
Rentetan insiden diawali pada Kamis (23/7) di Jalan Tanjung Alang, Kecamatan Mamajang, di mana sebuah rumah indekos dan salon hangus dilalap api akibat lilin yang menyala, hingga menewaskan 2 wanita yang ditemukan berpelukan di kamar mandi. Tak lama berselang, pada Jumat (31/7) dini hari, pemicu korsleting listrik meratakan 56 rumah di Jalan Sultan Abdullah II, Kecamatan Tallo, yang merusak tempat tinggal bagi 105 KK (235 jiwa) dan melukai satu warga.
Awal Agustus dibuka dengan terbakarnya 3 rumah, sebuah indekos, serta kendaraan di Jalan Adhyaksa Baru, Panakkukang pada Senin (3/8). Musibah berlanjut pada Minggu (9/8) malam di Mal Nipah lantai 3 dan 4 akibat korsleting neon box yang memicu kepanikan massal hingga membuat sejumlah pengunjung pingsan dan sesak napas. Tepat sehari setelahnya, Senin (10/8), lautan api membakar 37 rumah di Jalan Kandea, Bontoala, yang berdampak pada 60 KK (245 jiwa) dan melukai dua orang, disusul terbakarnya sebuah indekos di Jalan Toddopuli 6, Manggala pada Selasa (11/8).
Kebakaran tak hanya menyasar pemukiman, tetapi juga lahan terbuka dan fasilitas usaha. Pada Rabu (12/8), cuaca panas memicu kebakaran alang-alang di samping Tol Ir Sutami yang hampir merembet ke kompleks pergudangan. Esok harinya, Kamis (13/8), sejumlah kios dan warung makan di wilayah Sudiang ikut ludes terbakar. Tragedi berdarah kembali berulang pada Kamis (20/8) malam di Paccerakkang, Biringkanaya, saat kebakaran 4 rumah petak menewaskan 1 orang pria dan membuat seorang wanita pingsan.
Mendekati akhir Agustus, frekuensi insiden semakin intensif. Sabtu (22/8) pagi, korsleting listrik di belakang kulkas menghanguskan 10 rumah dan indekos di Jalan Politeknik Tamalanrea yang berdampak pada 37 jiwa. Dua hari kemudian, Senin (24/8), lahan kosong seluas 2 hektare di Kawasan Tallasa City membara selama dua jam. Kebakaran besar berlanjut pada Selasa (25/8) yang meratakan satu rumah dan pabrik pengolahan kayu (somel) di Jalan Praja Raya, Manggala. Rangkaian bencana ini ditutup oleh terbakarnya satu unit bus tua di Jalan Batua Raya pada Rabu (26/8) siang akibat percikan las, yang sempat memicu kepanikan siswa SMAN 5 Makassar.(*)




