BERANDANEWS – Jakarta, Sebuah potongan video pendek yang menampilkan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, mendadak memantik kegaduhan di panggung politik nasional.
Dalam rekaman yang viral di media sosial tersebut, Budi Arie melontarkan spekulasi dan “insting” politiknya mengenai potensi terjadinya percepatan dinamika politik tanah air sebelum Pemilu 2029 sebuah narasi yang dinilai sebagian pihak menyentil masa jabatan kepemimpinan nasional.
Wacana liar ini tak pelak memancing reaksi keras dari barisan pendukung pemerintah. Di tengah memanasnya spekulasi suksesi dan riuhnya opini publik di ruang digital, isu ini berkembang dari sekadar analisis insting menjadi perdebatan hangat soal stabilitas konstitusi dan etika berdemokrasi.
Fakta Respons dan Clarifikasi Para Pihak
Ketua Umum Pasbata Prabowo, David Febrian, menegaskan bahwa meski kritik adalah hak demokrasi, narasi yang mulai mengarah pada pemakzulan Presiden atau desakan pengunduran diri Wakil Presiden sebelum 2029 perlu dipertanyakan ketulusannya.
Pasbata Prabowo mengklaim tengah memantau pergerakan narasi dan pembentukan opini di media sosial yang berpotensi menyudutkan serta mengganggu stabilitas pemerintahan Prabowo–Gibran.
Sekjen DPP Projo, Freddy Alex Damanik, meluruskan bahwa video Budi Arie yang beredar telah dipotong dari konteks aslinya. Menurut Freddy, Budi Arie sejatinya hanya sedang memaparkan berbagai analisis kemungkinan peta politik dan “patahan sejarah”, bukan bermaksud meragukan keberlangsungan pemerintahan.
Menjaga Mandat Konstitusi dan Stabilitas
Pasbata Prabowo menekankan bahwa mengawal pemerintahan bukan berarti anti-kritik. Namun, setiap perbedaan pandangan hendaknya disalurkan melalui mekanisme konstitusional yang sah tanpa membangun opini liar yang merusak ketenangan publik.
Jajaran relawan memastikan akan terus mencermati dinamika politik berdasarkan fakta dan data lapangan demi memastikan pemerintahan yang beroperasi saat ini dapat menjalankan mandat rakyat secara utuh hingga akhir masa jabatan.(*)





