Ancaman Karhutla Makin Nyata, 38 Ribu Hektare Lahan Kalbar Terbakar, BMKG Pacu Modifikasi Cuaca

BERANDANEWS — Jakarta, Ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat memasuki fase krusial. Kepungan titik panas (hotspot) kini terpantau meluas drastis, mengancam ekosistem lingkungan sekaligus meningkatkan risiko krisis kualitas udara bagi masyarakat di pulau Borneo.

Di balik deretan data angka digital satelit, terdapat fakta lapangan yang mengkhawatirkan: puluhan ribu hektare lahan gambut dan vegetasi telah hangus tergerus api.

Kenaikan drastis titik panas berkepercayaan tinggi menuntut kesiapsiagaan penuh dari tim satgas darat maupun udara demi mencegah terulang kembali bencana kabut asap lintas batas.

Fakta Data dan Pemantauan Satelit BNPB

Berdasarkan pemantauan 24 jam dari satelit NASA, NOAA-20, NASA SNPP, dan TERRA AQUA, terdeteksi total 2.774 hotspot di Kalbar. Rinciannya meliputi 273 titik berkepercayaan tinggi, 2.420 titik menengah, dan 81 titik rendah.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkapkan indikasi luas lahan terbakar di Kalbar hingga 19 Agustus 2026 telah menembus angka 38.310 hektare.

Verifikasi Lapangan: BNPB menegaskan lonjakan hotspot pada citra satelit ini terus diverifikasi secara langsung melalui pemantauan darat dan patroli udara guna memastikan titik mana yang telah berubah menjadi kobaran api aktif.

Langkah Intervensi dan Proyeksi Cuaca

Menghadapi situasi ini, BNPB bersama BMKG telah menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak 22–23 Agustus 2026. Langkah penyemaian awan ini memicu potensi hujan buatan guna mengairi lahan gambut yang mengering.

Meski BMKG memprediksi adanya potensi hujan berintensitas ringan pada periode 23–29 Agustus 2026, tingkat kemudahan terbakar pada vegetasi di lapangan masih sangat tinggi.

Kesadaran warga untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar menjadi benteng pertahanan terakhir agar ancaman karhutla tidak kian meluas.(*)