BERANDANEWS — Makassar, Ratusan peternak membagikan telur dan ayam gratis di Makassar. Di balik aksi itu, tersimpan kisah kandang yang hampir tutup, utang pakan yang menumpuk, dan keluarga yang bertahan di tengah harga telur yang anjlok.
Pagi itu, bukan kemarahan yang paling terasa di depan Gedung DPRD Sulawesi Selatan. Yang paling terasa justru keputusasaan.
Di tangan para peternak, bukan batu atau kayu. Mereka membawa tray telur dan ayam hidup. Sebagian dibagikan gratis kepada warga yang melintas. Sebagian lagi diangkat tinggi-tinggi, seolah ingin menunjukkan satu hal: hasil kerja mereka tak lagi cukup untuk menghidupi keluarga.
“Silakan ambil telurnya, Bu. Daripada kami jual rugi,” kata seorang peternak dengan suara pelan, Senin (10/8/2026).
Kalimat itu membuat beberapa warga terdiam.
Dari Kandang ke Jalanan
Ratusan peternak yang tergabung dalam Peternak Rakyat Sulawesi datang dari berbagai daerah di Sulsel. Mereka menggelar aksi di DPRD Sulsel dan Kantor Gubernur Sulsel untuk menuntut pemerintah menstabilkan harga telur dan menurunkan harga pakan.
Namun di balik tuntutan itu, ada cerita yang jauh lebih menyentuh.
Banyak dari mereka berangkat sejak dini hari setelah terlebih dahulu memberi makan ayam di kandang. Ada yang meninggalkan anak kecil di rumah, ada yang meminjam uang untuk ongkos perjalanan ke Makassar.
“Kami ini bukan pengusaha besar. Kandang kami di belakang rumah. Kalau telur terus rugi, yang tutup bukan perusahaan, tapi dapur kami,” ujar seorang peternak asal Sidrap.
Telur Murah, Air Mata Mahal
Menurut para peternak, harga telur di tingkat kandang saat ini berada di bawah biaya produksi. Mereka mengaku menanggung kerugian sekitar Rp3.000–Rp4.000 per kilogram.
Sementara itu, harga pakan dan jagung terus naik.
Ironisnya, masyarakat melihat telur sedang murah. Tetapi bagi peternak, murahnya telur justru menjadi kabar buruk.
“Orang senang beli telur murah. Kami juga senang kalau masyarakat bisa makan. Tapi kalau kami jual di bawah modal terus, besok-besok siapa yang produksi telur lagi?” kata seorang ibu peternak sambil menahan tangis.
Aksi yang Membuat Warga Ikut Haru
Momen paling menyita perhatian terjadi ketika massa membagikan telur gratis kepada pengendara dan pejalan kaki.
Seorang pengemudi ojek online menerima satu tray telur, lalu bertanya, “Ini benar gratis, Pak?”
Peternak itu mengangguk.
“Gratis, Pak. Doakan saja kami bisa terus beternak.”
Percakapan singkat itu direkam warga dan mulai beredar di media sosial. Banyak netizen menyebut aksi tersebut bukan sekadar demonstrasi, melainkan jeritan peternak rakyat.
“Anak Saya Tanya, Ayam Banyak Kenapa Kita Susah?”
Di antara kerumunan, seorang peternak muda menceritakan pertanyaan yang paling membuatnya terpukul.
“Anak saya bilang, ‘Ayah punya ayam banyak, kenapa kita masih susah?’ Saya tidak bisa jawab.”
Ia mengaku sudah menunda pembayaran pakan dan khawatir harus mengurangi jumlah ayam di kandangnya.
“Kalau kandang kosong, itu bukan cuma usaha berhenti. Itu berarti pekerja kami juga kehilangan penghasilan.”
Tujuh Tuntutan, Satu Harapan
Dalam aksi tersebut, peternak menyampaikan tujuh tuntutan kepada DPRD dan pemerintah, di antaranya: Menurunkan harga pakan, menstabilkan harga telur sesuai HAP, menjamin ketersediaan jagung dengan harga terjangkau, menstabilkan harga DOC, dan melindungi peternak rakyat dari dominasi integrator.
Perwakilan DPRD Sulsel menerima delegasi peternak dan menyatakan akan meneruskan aspirasi tersebut kepada pemerintah provinsi dan kementerian terkait.
Ancaman yang Tak Terdengar Keras, Tapi Menakutkan
Aksi berlangsung tertib. Tidak ada kericuhan besar.
Namun justru ketenangan itu yang terasa mengkhawatirkan.
Sebelum membubarkan diri, para peternak menyampaikan satu peringatan:
Jika tidak ada kebijakan nyata dalam waktu dekat, mereka akan datang lagi dengan jumlah yang lebih besar.
Bagi mereka, ini bukan lagi soal untung atau rugi.
Ini soal apakah kandang masih bisa menyala minggu depan, apakah utang pakan bisa dibayar, dan apakah anak-anak mereka masih bisa makan dari usaha yang selama ini mereka banggakan.
Dan ketika telur dibagikan gratis di depan gedung wakil rakyat, banyak orang akhirnya menyadari, yang sedang dijual murah bukan hanya telur, tetapi juga harapan peternak kecil untuk tetap bertahan hidup.(*)





