Kontestasi Politik Sulsel Diprediksi Memanas, Ian Kamarudin Soroti Sosok Pemimpin Golkar

BERANDANEWS – Makassar, Dinamika politik di tubuh Partai Golongan Karya Sulawesi Selatan mulai mengarah pada satu diskursus penting: soal karakter kepemimpinan yang dianggap paling relevan menghadapi kontestasi elektoral mendatang yang diprediksi jauh lebih keras dan kompleks.

Kader muda Golkar, Ian Kamarudin, menilai bahwa tantangan politik ke depan tidak lagi cukup dijawab hanya dengan popularitas atau kekuatan struktur semata. Menurutnya, Golkar membutuhkan figur yang memiliki kematangan komunikasi politik, kemampuan merangkul lintas kelompok, serta pengalaman menghadapi dinamika konflik dan pertarungan elektoral di Sulawesi Selatan.

Dalam pandangannya, sosok Ilham Arief Sirajuddin atau IAS memiliki karakter politik yang selama ini identik dengan kultur besar Golkar: cair, adaptif, komunikatif, dan mampu menjaga hubungan politik hingga ke akar rumput.

“IAS punya pengalaman panjang membaca gelombang politik Sulawesi Selatan. Karakter seperti itu yang menurut saya dekat dengan watak asli Golkar, yakni partai yang hidup dari komunikasi, konsolidasi, dan kemampuan menjaga keseimbangan di tengah banyak kepentingan,” ujar Ian dalam keterangannya.

Ian menegaskan pandangannya bukan dalam konteks menegasikan figur lain di internal Golkar. Ia justru menilai banyak kader potensial yang saat ini tumbuh dan memiliki kapasitas besar. Namun menurutnya, momentum politik Sulawesi Selatan ke depan membutuhkan figur yang benar-benar siap menghadapi eskalasi pertarungan politik yang semakin agresif.

Ia pun secara satir menyebut bahwa sosok Munafri Arifuddin “belum pas” untuk memimpin Golkar Sulsel pada fase politik saat ini.

“Bukan tidak cocok, tapi mungkin belum pas dengan kebutuhan momentum politik Golkar hari ini. Ke depan tensi politik Sulawesi Selatan akan sangat tinggi. Dibutuhkan figur dengan daya tahan politik, pengalaman menghadapi tekanan, dan kemampuan mengendalikan turbulensi internal maupun eksternal,” lanjutnya.

Menurut Ian, Golkar Sulsel harus berhati-hati menentukan arah kepemimpinan karena posisi partai tersebut memiliki pengaruh strategis dalam konstelasi politik regional. Kesalahan membaca kebutuhan zaman, kata dia, dapat membuat Golkar kehilangan momentum besar dalam pertarungan elektoral mendatang.

Ia menambahkan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan kini semakin kritis dan emosional dalam menentukan pilihan politik. Karena itu, partai besar seperti Golkar tidak hanya membutuhkan administrator organisasi, tetapi juga figur yang mampu menjadi simbol ketenangan, konsolidasi, dan stabilitas politik.

“Golkar ini partai besar dengan sejarah panjang. Pemimpinnya harus punya kapasitas menjaga marwah partai sekaligus mampu menjadi titik temu berbagai kepentingan politik di Sulawesi Selatan,” tutup Ian.(*)