OPINI – Selama ini kita sering melihat satu kebiasaan yang sulit berubah dalam kehidupan ekonomi masyarakat, yaitu uang datang lalu habis secepat kilat.
Banyak orang lebih mudah mengeluarkan uang untuk kebutuhan gaya hidup dibandingkan memikirkan bagaimana membangun aset untuk masa depan.
Namun belakangan muncul fenomena yang cukup menarik. Semakin banyak masyarakat mulai mencicil emas sebagai bentuk investasi. Produk cicil emas yang ditawarkan oleh Bank Syariah Indonesia perlahan menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin memiliki aset logam mulia tanpa harus menunggu uang terkumpul dalam jumlah besar.
Fenomena ini juga mulai terlihat di Palopo. Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, sebagian masyarakat mulai sadar bahwa menyimpan uang tanpa aset yang kuat hanya akan membuat nilainya semakin tergerus oleh inflasi.
Fenomena ini bukan sekadar dugaan. Secara nasional, bisnis cicil emas di BSI mengalami peningkatan yang cukup tajam.
Pada tahun 2024, pembiayaan cicil emas mencapai sekitar Rp6,4 triliun atau meningkat sekitar 177 persen dibanding tahun sebelumnya. Jumlah nasabahnya pun telah mencapai lebih dari 336 ribu orang.
Hingga pertengahan 2025, nilainya bahkan terus meningkat hingga sekitar Rp9 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa emas kembali dilirik sebagai aset yang relatif aman di tengah ketidakpastian ekonomi.
Ketika nilai uang mudah berubah karena inflasi dan kondisi ekonomi global yang tidak menentu, emas dianggap lebih mampu menjaga nilai kekayaan.
Jika melihat kondisi daerah seperti Palopo, tren ini menjadi semakin penting. Kota dengan lebih dari 180 ribu penduduk ini didominasi usia produktif, sebuah potensi ekonomi yang sebenarnya sangat besar.
Sayangnya, potensi tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan kebiasaan pengelolaan keuangan yang sehat. Banyak masyarakat masih terjebak pada pola konsumsi jangka pendek daripada membangun aset jangka panjang.
Akibatnya, ketika tekanan ekonomi datang, tidak sedikit keluarga yang tidak memiliki bantalan keuangan untuk bertahan.
Di sinilah fenomena cicil emas menjadi menarik untuk dicermati. Di satu sisi, masyarakat mulai belajar membangun aset sebagai bentuk investasi jangka panjang.
Namun di sisi lain, ada ironi yang sulit diabaikan. Sebagian orang justru baru bisa disiplin menabung ketika ada sistem cicilan yang mengikat mereka. Meski begitu, fenomena ini tetap menunjukkan perubahan yang positif. Ketika akses investasi dibuat lebih sederhana dan mudah dipahami, masyarakat ternyata lebih berani mengambil langkah untuk mulai berinvestasi.
Dalam konteks investasi emas di BSI Palopo sendiri, masyarakat memiliki dua pilihan utama, yaitu melalui cicil emas dan tabungan emas.
Kedua produk ini relatif fleksibel karena dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Pada produk cicil emas, tersedia pilihan logam mulia seperti Antam dan BSI Gold dengan skema angsuran ringan serta uang muka mulai dari 0 hingga 20 persen menggunakan akad syariah.
Pilihan gramasi yang tersedia pun cukup beragam, mulai dari 5 gram, 10 gram, 25 gram, 50 gram hingga 100 gram. Sementara itu, tabungan emas juga tidak kalah menarik karena saldo tabungan disimpan dalam bentuk gramasi emas. Pembelian awalnya bahkan dapat dimulai dari sekitar Rp50 ribu melalui aplikasi Byond by BSI.
Kedua layanan ini memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk berinvestasi secara praktis melalui layanan digital.
Meski begitu, tren cicil emas tidak boleh dipandang sebagai solusi tunggal bagi ketahanan ekonomi masyarakat. Emas memang relatif stabil, tetapi investasi yang sehat tidak hanya bergantung pada satu instrumen.
Masyarakat tetap perlu memahami pentingnya pengelolaan keuangan yang lebih luas, mulai dari kebiasaan menabung, perencanaan keuangan, hingga diversifikasi investasi.
Karena itu, meningkatnya minat terhadap cicil emas seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat literasi keuangan masyarakat. Lembaga keuangan, pemerintah daerah, hingga institusi pendidikan perlu mengambil peran dalam memberikan pemahaman yang lebih luas tentang pengelolaan keuangan. Tanpa literasi yang cukup, masyarakat hanya akan mengikuti tren investasi tanpa benar-benar memahami manfaat dan risikonya.
Pada akhirnya, fenomena cicil emas yang mulai berkembang di masyarakat bukan sekadar soal membeli logam mulia. Di balik itu, ada perubahan cara berpikir yang mulai tumbuh. Ketika masyarakat mulai memikirkan bagaimana menjaga nilai kekayaan mereka, sebenarnya mereka sedang belajar membangun masa depan ekonomi yang lebih aman. Emas yang dicicil hari ini mungkin hanya beberapa gram, tetapi dari langkah kecil itulah kesadaran untuk membangun aset bisa mulai tumbuh.
Perubahan ini mungkin belum besar, tetapi setidaknya menunjukkan satu hal penting bahwa masyarakat perlahan mulai memahami masa depan ekonomi tidak dibangun dari konsumsi sesaat, melainkan dari aset yang mampu menjaga nilainya.
Penulis
Mustamin
Mahasiswa Pascasarjana
Ekonomi Syariah UIN Palopo





