Menko PMK Minta Masyarakat Tak Besar-besarkan Covid di Indonesia

17
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy berkunjung ke Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Dadi Makassar, Jumat (11/6/2021)

BERANDANEWS – Makassar, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy meminta kepada masyarakat agar tidak membesar-besarkan kasus Covid-19 di Indonesia. Musababnya, tim satuan tugas (Satgas) Covid-19 telah menanganinya, termasuk penyebaran virus di Jawa Tengah dan Timur.

Saat ini, ia mengaku beberapa daerah mengalami kenaikan cukup tajam, namun sudah teratasi.

“Jangan kompor-kompori, seolah-olah terjadi kasus luar biasa. Padahal masih biasa-biasa saja,” ucap Muhadjir saat berkunjung di Rumah Sakit Dadi Makassar, Jumat (11/6).

Apalagi, lanjut dia, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal Ganip Warsito. Muhadjir juga meminta kepada seluruh masyarakat tetap sadar dan disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Karena, Indonesia belum aman sehingga tidak boleh sombong.

“Virus ini masih sangat berbahaya, jadi jangan lama-lama berkerumun,” tutur Muhadjir.

Selain itu, ia juga meminta kepada masyarakat agar tetap disiplin memakai masker. Hal itu sebagai langkah dalam memutus rantai penyebaran virus corona. Pasalnya, virus ini bisa saja menyerang kapan saja, apalagi ketika masyarakat lelah dan bosan menerapkan protokol kesehatan.

Namun mantan Menteri Pendidikan ini bersyukur dengan langkah Presiden Joko Widodo dalam mengambil keputusan mendatangkan vaksin Sinovac. Sebelum diakui WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), Indonesia langsung bergerak cepat. Akhirnya sekarang terjadi kelangkaan vaksin di pasar Internasional.

“Kita bersykur karena Pak Presiden cepat ambil keputusan. Kita ambil besar-besaran diantara negara yang bukan produsen vaksin,” ujar mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini.

Saat ini, negara-negara produsen vaksin seperti Amerika Serikat tak mau lagi mengekspor vaksin, dikarenakan kebutuhan akan stok vaksin mengalami kenaikan sangat fantastis, sehingga terpaksa menghentikan ekspor vaksinnya.(dh)